
"Tidurlah Nya, hanya dengan cara itu, nyonya dan aku bisa sama-sama bermimpi bertemu dengan putra kesayangan kita masing-masing," ucap Bu Riana sedih sambil mengelus rambut majikannya.
"Memangnya kemana putra kalian Bu?" tanya Zeya.
"Putra nyonya ada, tapi beliau selalu diancam, tidak boleh menemuinya sedangkan putraku, aku tidak tahu rimbanya, selagi aku terus menjaga nyonya dan menjaga rahasia, maka putraku bisa selamat serta dibiarkan hidup," ucap Bu Riana sambil meneteskan air mata.
'Apakah ini misi yang dimaksud oleh sistem? Ah...nggak tahu lah, iya atau bukan, yang penting aku harus bantu menyelesaikan masalah keduanya,' batin Zero.
"Bu...apa masalah ibu berdua ada hubungannya dengan Nyonya Shena?" tanya Zeya.
Bu Riana memandang Zeya, dia masih ragu, apakah harus menceritakan masalahnya secara gamblang kepada orang lain atau tetap menyembunyikan seumur hidup demi keselamatan putranya.
Namun mau sampai kapan? sementara usianya semakin tua, dia juga ingin melihat rupa putra semata wayangnya sebelum ajal menjemput.
Melihat keraguan di wajah Bu Riana, membuat rasa ingin tahu Zeya semakin meningkat.
Lalu Zeya pun memegang tangan Bu Riana sambil berkata, "Ibu jangan takut! Percayalah Bu, kami berdua akan membantu menyelesaikan masalah kalian. Aku bisa melihat kalian hidup dalam tekanan seseorang," ucap Zeya.
"Tapi...aku takut Dek, tembok disini bisa saja punya telinga, mata-mata dari nyonya Shena bisa saja mendengar semua dan akhirnya akan mencelakakan kami, terutama nyonya Ambar," ucap Bu Riana lagi sambil matanya celingukan kesana kemari.
"Ibu jangan takut, aku janji akan membantu melindungi kalian berdua," imbuh Zero sambil berjalan mendekati keduanya.
"Kalian bisa celaka nanti Dek, bila ikut campur dengan masalah kami! Nyonya Shena sangat kejam, dia bisa melakukan apapun terhadap orang-orang yang berani menentangnya," ucap Bu Riana lagi.
"Bu...kami sudah tahu bagaimana sifat nyonya Shena, jadi Ibu nggak perlu takut, kami pasti akan bantu dan melindungi kalian dari beliau dan antek-anteknya," ucap Zeya yang berusaha meyakinkan Bu Riana.
"Iya Bu, benar apa yang dikatakan oleh Zeya, kami pasti bantu ibu dan kita akan pergi dari tempat ini."
__ADS_1
"Nggak Dek, ibu tidak bisa pergi. Jika kami pergi, memang kami selamat, tapi anak-anak kami ada dalam genggaman nyonya Shena," ucap Bu Riana.
"Jika begitu, kita selamatkan dulu anak-anak ibu, jadi tolong ibu katakan, siapa dan dimana mereka saat ini, agar kami bisa segera bertindak," ucap Zero.
Kalau putra Nyonya Ambar, katanya dulu tinggal bersama Papanya dan di bawah kendali nyonya Shena sebagai ibu tirinya.
Sementara putra saya sejak lahir sudah dibawa pergi oleh nyonya, bahkan saya belum pernah melihat wajahnya seperti apa karena saat itu saya koma setelah melahirkan.
Namun almarhum suami Ibu pernah bilang bahwa putra kami memiliki tanda lahir yang cukup lebar di punggungnya.
"Apa Bu! anak nyonya Ambar tinggal bersama Mama?"
"Mama? Kamu...putri nyonya Shena?" tanya Bu Riana yang merasa heran sekaligus takut.
"Iya Bu, maafkan saya...karena telah menyembunyikan identitas."
"Nggak apa-apa Bu, seharusnya aku yang minta maaf karena perlakuan mamaku sangat buruk terhadap kalian," ucap Zeya.
Sejenak Zeya terdiam, kemudian dia berkata, "Apakah anak Bu Ambar namanya Royan Bu?"
"Iya Dek, Bagaimana keadaan Den Royan sekarang? Pasti saat ini dia telah tumbuh sebagai pemuda yang tampan dan gagah. Dulu kami terakhir bertemu saat usianya 12 tahun, sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi, karena kami hidup bak tahanan, dikurung di dalam rumah, semua kebutuhan di siapkan oleh anak buahnya hingga berjalan puluhan tahun," kenang Bu Riana.
"Kak Royan sehat Bu dan benar kata Ibu, Kak Royan tumbuh menjadi pemuda yang tampan serta Kakak terbaik bagiku. Walaupun kami beda ibu, tapi Kak Royan menyayangiku layaknya saudara kandung."
"Jadi, nyonya Ambar adalah ibu kandung Kak Royan Zey?" tanya Zero.
Zeya dan Ibu Riana mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Sekarang ibu nggak perlu khawatir, biar aku yang menghadapi Mama. Yang harus kita lakukan secepatnya adalah mempertemukan Kak Royan dengan mamanya, baru kita pikirkan masalah perawatan Bu Ambar selanjutnya agar bisa sembuh," ucap Zeya.
"Coba kita lakukan panggilan video Zey, kak Royan pasti sangat senang kita telah menemukan ibunya dan pasti akan segera pulang ke Indonesia," ucap Zero.
"Lho...memangnya Den Royan tinggal dimana Dek?" tanya Bu Riana.
"Kak Royan tinggal di sini Bu, tapi sekarang sedang berada di luar negeri membawa calon ayah mertuanya berobat di sana," ucap Zeya.
Zeya kemudian mencari kontak Kakaknya, selain dia rindu dengan Royan, Zeya juga sudah tidak sabar ingin memberitahukan bahwa mamanya yaitu Mama Ambar sudah ditemukan.
Rekomendasi karya temanku untuk hari ini dengan blurb :
Dimas Darmawan, seorang dokter muda yang terpaksa menikahi mantan istri sahabatnya yang bernama Winda Alicia.
mantan suami Winda, Bayu merencanakan pernikahan Dimas dan Winda agar Bayu bisa rujuk kembali dengan Winda setelah jatuh talak 3.
Hanya 6 bulan pernikahan, dan mereka harus bercerai.
Apa yang membuat Bayu begitu gigih berusaha rujuk dengan Winda?
Dapatkah Dimas menjaga istri titipan talak 3 sahabatnya?
Ataukah cinta akan tumbuh diantara mereka dan menjadi dilema bagi Dimas?
Silahkan mampir ya sobat, Terimakasih πβ₯οΈ
__ADS_1