SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 123. RUMAH BUAT MAK SALMAH


__ADS_3

Zero sudah menandatangani surat menyurat, lalu dia mentransfer dana sebesar 2M ke rekening yang telah di tentukan oleh pihak developer.


Setelah semua urusan selesai, pihak developer pun memberikan kunci rumah dan salah satu karyawan mengantarkan Zero serta Zeya untuk melihat-lihat, berkeliling, guna memastikan, apakah semuanya sudah sesuai dengan kesepakatan pembelian atau belum.


"Wow...rumah ini lumayan besar Kak dan halaman belakangnya juga luas, mudah-mudahan emak dan kak Kiara betah di sini," ucap Zeya.


"Iya Zey, hari minggu rencananya kami pindah. Lusa biar beli perabotan dulu karena semua perabotan lama habis terbakar," ucap Zero.


"Dengan halaman belakang yang cukup luas, emak, Mama Ambar dan juga Bu Riana bisa bersantai di sana menenangkan pikiran sambil melihat bunga dan kolam ikan," ucap Zeya lagi.


"Kamu benar Zey, itulah tujuanku memilih tempat ini. Ada sih yang lebih mewah di sini, tapi halamannya sempit, pasti emak kurang suka," ucap Zero.


"Ayo kak! kita masuk dan lihat bagian dalam," ajak Zeya.


Zero pun membuka pintu ruangan tamu, lalu mereka menelusuri setiap ruangan. Rumah ini memiliki 4 kamar tidur, 5 kamar mandi, satu buah ruang tamu, sebuah ruang keluarga, sebuah ruang makan dan juga dapur.


Inilah visual rumah baru Zero ya Sobat, satu keinginannya sudah terwujud yaitu membelikan rumah baru buat Mak Salmah.



Sisa saldo dalam rekening Zero sekarang adalah sejumlah Rp.1.006.618.900.000,- Mengenai bagi hasil (bunga bank) setiap bulannya tidak pernah Zero ambil, tapi dibagikan kepada seluruh karyawan sebagai hadiah.


Setelah puas berkeliling, Zero dan Zeya memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang Zero minta tolong kepada Zeya untuk mengantarnya ke panti asuhan, panti jompo, dan rumah sakit jiwa terdekat.


Sesuai permintaan Zero, Zeya pun mengantarnya kesana. Zero memberikan masing-masing satu lembar cek kepada dua panti asuhan, satu panti jompo dan satu lagi untuk rumah sakit jiwa. Kini sisa hadiah dari sistem tinggal lima lembar cek atau senilai 5M lagi.


Zero kemudian mendatangi 3 pondok pesantren (Pondok Tahfiz) yang sedang membangun gedung buat menginap para santri.


Dia menyumbangkan masing-masing satu lembar cek untuk membeli kebutuhan mereka dan menanggung biaya makan para santri.

__ADS_1


Kini hadiah yang tersisa tinggal 2 lembar cek lagi, lalu Zero meminta Zeya untuk menemui lurah di perkampungan pemulung tempat dia tinggal sebelum kebakaran.


Pak Lurah menyambut Zero dengan ramah, lalu beliau bertanya, "Bagaimana kabar emak Dek dan kalian sekarang tinggal di mana?" tanya Pak Lurah.


"Alhamdulillah emak sehat Pak, untuk sementara kami tinggal di rumah Kak Royan tapi Minggu depan rencana pindah Pak ke kompleks Puri Indah," jawab Zero.


"Nak Royan yang mendanai pembangunan kampung kita ini ya Dek? dan Kompleks Puri Indah itu bukannya tempat tinggal orang-orang kaya ya Dek?" tanya Pak Lurah lagi.


"Iya benar Pak, Kak Royan yang mendanai pembangunan di sini. Kalau kami tinggal di Puri Indah berkat kebaikan hati seorang dermawan Pak," ucap Zero sambil tersenyum.


"Bersyukur ya Dek, masih ada orang baik di zaman sekarang ini."


"Iya Pak. Oh ya Pak, maksud kedatangan kami kesini, karena ada amanah dari orang baik tersebut."


"Maksud Dek Zero?" tanya Pak Lurah.


Kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Tolong lokasinya kalau bisa jangan terlalu jauh dari kampung kita ini ya Pak. Jadi maksud kami sekolah ini khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang mampu, terutama anak-anak para pemulung seperti saya," ucap Zero sambil tersenyum.


"Kita harus memberantas kebodohan Pak, jangan sampai kita menemukan, anak-anak di sini tidak sekolah gara-gara orangtua mereka tidak mampu. Karena menurut pantauan saya selama ini, masih banyak anak-anak di sini yang buta huruf. Mereka memilih memulung untuk menopang ekonomi keluarganya."


"Dan uang dalam cek satu lagi buat apa Dek?" tanya pak Lurah lagi.


"Itu untuk pembangunan gedung berikut fasilitas sekolahnya Pak. Jika berlebih bisa kita gunakan untuk merenovasi masjid juga," jawab Zero.


"Jika nanti sekolah sudah berdiri, kemungkinan donatur yang akan membantu untuk mengusahakan tim pengajar profesional dengan biaya darinya dan menggratiskan biaya sekolah," lanjut Zero.


"Alhamdulillah, mudah-mudahan semakin maju kampung kita ini ya Dek. Saya akan upayakan semuanya dengan baik, tapi saya mohon bantuan dari kalian untuk ikut memantau agar semua terealisasi dengan baik."


"Iya Pak, kami akan bantu demi kebaikan kampung kita," ucap Zero

__ADS_1


"Terimakasih atas semuanya ya Dek, besok saya akan cek lahannya dulu baru mengupayakan pembangunannya. Tolong sampaikan terimakasih dan salam saya yang mewakili seluruh penduduk kampung ini kepada Donatur yang telah berbaik hati dan tidak bersedia ditemui itu," ucap Pak Lurah.


"Iya Pak, akan kami sampaikan ucapan terimakasih dari Bapak. Kami permisi dulu ya Pak, soalnya hari sudah hampir maghrib," pamit Zero.


Zero dan Zeya pun meninggalkan rumah Pak Lurah, lalu mereka singgah ke sebuah cafe yang cukup terkenal, tempat biasa anak-anak muda nongkrong bersama para teman dan pasangan mereka.


Mereka memesan makanan, sambil menunggu datangnya makanan tersebut, Zero dan Zeya melaksanakan ibadah maghrib di mushollah yang ada di dalam cafe.


Selesai ibadah, mereka kembali ke tempat duduk, lalu menikmati hidangan yang telah terhidang di sana.


Saat Zero sedang asyik menikmati makanannya, dia melihat gadis yang sangat dikenalnya berjalan masuk bersama pria yang baru dia kenal tadi pagi, melewati tempat duduknya sekarang.


Zero tersedak, dia terbatuk-batuk hingga membuat Zeya spontan menyodorkan segelas air minum kepadanya.


Pandangan Zero terus menatap ke arah meja yang berada di ujung dekat kolam ikan. Dia penasaran, sebenarnya ada hubungan apa diantara keduanya.


Keduanya sangat akrab, mereka tertawa lepas tanpa menghiraukan keramaian di sekitarnya.


Ada perasaan aneh menyelinap di hati Zero, kecewa, tidak rela atau mungkin cemburu, walau mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun tapi setidaknya mereka dulu pernah dekat, pernah saling sayang dan pernah berkomitmen menjalin suatu hubungan percintaan yang akhirnya kandas di sebabkan oleh kesalahpahaman.


Zero tidak tahan lagi melihat keakraban keduanya, dia menunduk untuk menekan perasaan cemburunya.


Dia sadar saat ini sedang bersama siapa, tapi Zero tidak bisa membohongi hatinya yang sakit, saat dirinya melihat orang yang dulu sangat dia cintai begitu bahagia duduk dan tertawa bersama pria lain.


Zero tertunduk, mengaduk-aduk makanannya untuk menutupi perasaannya.


Zeya yang sejak tadi melihat perubahan sikap Zero merasa heran, dia memandang wajah Zero, lalu memandang ke arah pasangan yang tadi sempat menjadi pusat perhatian Zero secara bergantian.


Sebenarnya Zeya ingin bertanya namun saat ini mulutnya seperti terkunci. Perasaannya juga merasa tidak nyaman setelah melihat perubahan sikap Zero.

__ADS_1


__ADS_2