
"Kami permisi dulu ya Al, sudah malam, tapi jangan lupa tetap semangat, kami tunggu kedatanganmu di kampus saat ujian. Mudah-mudahan kita bertiga nantinya lolos dan menjadi mahasiswa di sana."
"Iya Al, aku pamit juga ya. Jangan sedih lagi, ingat...masih ada kami untuk tempatmu berbagi cerita suka duka. Kami siap kapan saja kamu membutuhkan bantuan," ucap Vano.
"Ayo Sat...," ucap Zero dan Vano bersamaan.
"Terimakasih ya sobat, Alena beruntung punya teman seperti kalian," ucap Satria.
Mama dan Papa Satria buru-buru kembali ke ruang tamu, saat mendengar Zero dan Vano berpamitan.
Satria mengantar Zero dan Vano untuk pamit kepada kedua orangtuanya. Kemudian papa dan mama Satria juga mengucapkan terimakasih dan berharap Zero dan Vano agar sering main ke rumah mereka.
Vano mengantar Zero pulang, saat di jalan dia berkata, "Benar 'kan Ro...hanya kamu yang bisa membangkitkan semangat Alena. Nggak salah Satria meminta tolong sama kamu."
"Bukan begitu Van, mungkin kebetulan saja ucapanku mengenai hatinya dan karena kami juga pernah dekat maka bisa saling memahami karakter masing-masing."
"Oh ya Ro, keluarga Satria sangat baik ya, syukur deh...Alena bisa mendapatkan orangtua dan Kakak angkat seperti mereka."
"Iya Van, Allah sudah mengatur semua yang terbaik untuk Alena."
"Oh ya Van, aku hampir lupa beritahu kamu, aku tidak tinggal di perkampungan pemulung lagi, rumah kami terbakar, jadi selama ini kami tinggal di rumah kakaknya Zeya, tapi mulai besok kami pindah di kompleks Puri Indah," ucap Zero.
"Kok bisa terbakar Ro? memangnya emak lupa mematikan kompor atau ada konsleting listrik?" tanya Vano.
"Nggak tahu lah Van, sepertinya ada yang sengaja membakar, tapi kami malas untuk mengusutnya."
"Komplek Puri Indah, wah...itu perumahan elit Ro, harganya wow... cukup fantastis. Keluarga pacar kamu yang beli ya Ro, maaf...jadi kepo."
"Nggak Van, ada donatur yang memberiku fasilitas. Selama ini aku bekerja dengannya, menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan."
"Kenapa nggak kau ajukan teman-teman kita yang membutuhkan bapak asuh agar mereka bisa lanjut kuliah. Kasihan juga 'kan Ro, kemauan dan kemampuan berpikir ada tapi ekonomi keluarga tidak mendukung."
__ADS_1
"Sudah kok Van, makanya aku minta nomor teman-teman semua, agar mudah menghubungi siapa-siapa nanti yang akan di berikan bantuan, yang benar minat untuk kuliah."
"Syukurlah jika begitu Ro, aku turut senang mendengarnya. Mudah-mudahan banyak yang bisa tertolong berkat adanya bapak asuh."
"Iya Van, rencana nanti malam aku akan hubungi teman-teman, soalnya waktu untuk pendaftaran sudah sangat mepet."
"Semoga dipermudah semuanya ya Ro."
"Eh...Van, arahnya ke kanan, nanti ke kiri kita bisa nyasar."
"Oh ya, maaf... keasyikan ngobrol jadi lupa nanya."
"Itu rumah ketiga Van, nah kita sudah sampai."
"Ayo masuk Van," ajak Zero.
"Maaf Ro, sudah malam, lain kali saja aku main ke rumah barumu."
"Oke Ro, aku pamit ya."
Zero pun masuk ke dalam rumah Royan, rencananya dia hanya sebentar untuk menemui emak dan yang lain, setelah itu dia akan balik lagi ke rumah sakit guna menemani Zeya menjaga Royan.
"Kamu pulang Ro, Zeya dengan siapa? Jangan lama-lama meninggalkan mereka, bahaya bisa mengintai kapanpun. Apalagi saat ini kondisi Royan masih sangat lemah," ucap Mak Salmah.
"Iya Mak, aku tadi sudah tinggalkan pesan kepada anak buah kak Roy, untuk berjaga-jaga selama aku pergi. Tadi ada keperluan penting Mak, jadi terpaksa harus keluar dari rumah sakit."
"Ya sudah, kamu harus cepat balik ke sana! Di sini kami baik-baik saja kok."
"Oh ya Mak, bagaimana dengan para wanita itu? Apa mereka sudah bersiap, soalnya besok pagi Bang Togar dan Bang Beni akan memulang 'kan mereka ke daerah asalnya masing-masing."
"Sudah Ro, tadi Bang Togar menghubungi Kiara untuk memberitahu mereka agar bersiap dan setelah urusan para wanita itu selesai, Togar dan Beni akan mengantar kami ke rumah baru," ucap mak Salmah.
__ADS_1
"Kalau begitu semuanya sudah beres, aku akan balik lagi ke rumah sakit ya Mak. Sekarang yang penting, semua harus waspada," ucap Zero.
"Iya Ro, kamu juga harus hati-hati di jalan. Jadi kamu naik apa Ro, hari sudah malam soalnya pakai jasa ojek online juga tidak mungkin."
"Aku akan minta tolong ke anak buah Kak Royan untuk mengantarku, yang penting emak jangan khawatir dan harus beristirahat."
Zero pun pamit ke kamar untuk mengambil sesuatu, lalu sebelum dia kembali ke rumah sakit, Zero menghubungi teman-temannya terlebih dahulu, siapa-siapa yang berminat kuliah tapi tidak memiliki biaya.
Ada sekitar sepuluh orang, hal itu tidak jadi soal bagi Zero. Lalu Zero meminta data mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada Satria agar besok di daftarkan ke kampus.
Zero memberikan penjelasan kepada teman-temannya bahwa ada seorang bapak asuh yang menanggung seluruh biaya kuliah mereka sampai selesai.
Agar teman-temannya bersungguh-sungguh dalam belajar, maka Zero memberikan dorongan semangat dengan cara bapak asuh akan memberikan fasilitas kendaraan bagi mereka yang nantinya berprestasi di kampus.
Kabar ini membuat teman-teman Zero bersyukur, harapan mereka untuk bisa kuliah bisa terwujud. Mereka ingin mengenal dan berkenalan dengan sang bapak asuh tapi Zero mengatakan bahwa beliau tidak ingin menunjukkan identitasnya kepada siapapun.
Mereka kecewa tapi akhirnya mengerti setelah Zero menjelaskan dan teman-temannya itu menitipkan pesan agar Zero menyampaikan rasa terimakasih mereka kepada sang bapak asuh.
Zero lega, bisa menolong teman-temannya, lalu dia bergegas berangkat ke rumah sakit karena anggota Royan telah menunggu di mobil untuk mengantarnya.
Zeya juga menelepon, dia mencurigai seorang dokter wanita yang menurutnya asing, memaksa masuk ke ruangan Royan dengan alasan telah mendapatkan perintah dari rumah sakit untuk mengecek kondisi Royan.
Tapi untungnya Zeya waspada, dia tidak mengizinkan siapapun masuk selain dokter dan perawat yang biasa menangani Royan.
Beberapa orang anak buah Royan yang diperintahkan untuk menjaga di luar ruangan juga tidak gampang terkecoh, mereka tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali datang bersama Zeya.
"Kamu harus tetap waspada Zey, aku akan segera kesana bersama pengawal kak Royan. Sampaikan kepada para pengawal jangan lengah dan tingkatkan terus kewaspadaan," ucap Zero.
"Baik Kak, Kak Zero juga harus berhati-hati di jalan dan perketat juga penjagaan di rumah, siapa tahu mereka mengincar Bu Ambar lagi," ucap Zeya.
Zero segera memerintahkan anak buah Royan yang menjaga rumah agar meningkatkan kewaspadaan dan menambah personil, lalu diapun segera bergegas pergi ke rumah sakit.
__ADS_1