SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 47. MAK SALMAH CURIGA


__ADS_3

Emak menjewer telinga Zero hingga dia meringis kesakitan dan memohon.


"Ampun Mak! Jangan jewer telingaku, sakit Mak!" ucap Zero sambil memegangi telinganya.


"Sekarang kamu harus jujur sama Emak! Darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu? Emak nggak mau ya, kamu mengerjakan yang aneh-aneh. Ayo cepat jujur atau Emak akan menjewer telingamu ini terus sampai copot!"


"Ampun dong Mak! Emak kok jadi kejam gini sama aku, jika telingaku copot, biaya operasi mahal lho Mak! Percaya deh Mak, aku tidak melakukan hal yang buruk. Aku membantu orang Mak dan mereka kasi imbalan. Setiap berhasil menolong orang mereka kasi uang, dan uang itu juga aku gunakan untuk menolong orang. Pokoknya Emak harus pecaya, demi Allah, aku tidak mencuri, aku tidak jual barang terlarang atau apapun yang dilarang agama. Jika suatu saat Mak tahu aku melakukan kejahatan, Mak boleh tidak menganggapku anak," ucap Zero sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Mak sayang kamu Ro, jika kamu sampai di penjara atau di massa orang karena mencuri, Mak lebih baik mati Ro," ucap Mak Salmah sambil menangis.


"Yakinlah Mak, aku juga sayang Mak, aku janji tidak akan pernah mengecewakan Emak. Aku ingin selamat dunia akhirat Mak," ucap Zero sambil memeluk Mak Salmah dan ikut menangis.


"Sudah mandi sana! Kamu bauk! Mak yakin kamu anak baik, selamanya jadi anak baik," ucap Mak Salmah sambil mengacak rambut Zero.


'Maafkan aku Mak, aku ingin berbuat kebaikan dulu untuk kampung ini, baru untuk kebahagiaan kita Mak. Aku janji, setelah warga kampung kita dan anak-anak mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak, aku akan membelikan Mak rumah dan memberangkatkan Mak haji dan disaat itulah aku akan jujur sama Emak dari mana uang ini berasal.' batin Zero.


Mak Salmah pun pergi ke dapur setelah melihat Zero pergi mandi. Beliau ingin melihat Kiara dan Zeni memasak, hari ini Mak meminta mereka untuk memasak rendang.


Beliau berpikir mungkin Zero kepingin makan rendang makanya dia membeli daging.


"Ternyata kalian pandai memasak, Mak beruntung bertambah dua anak perempuan di rumah ini."


"Kami juga beruntung, bisa jadi anak Emak, kami bisa merasakan lagi kasih sayang orang tua."


"Lho... Kak Zeni juga tidak memiliki orang tua?" tanya Kiara.


"Iya Dek, ibu meninggal saat Kakak remaja, sedangkan ayah meninggal setahun yang lalu."

__ADS_1


"Orang tua Bang Togar masih hidup Kak?" tanya Kiara.


"Bang Togar sendiri tidak tahu siapa orangtuanya Dek. Kata orang dia di temukan di dekat club malam pada saat dia berusia 5 tahun. Seorang WTS membawanya pulang dan merawatnya, tapi saat Abang berusia 13 tahun, wanita tersebut meninggal. Sejak itu, Abang hidup di jalanan dan akhirnya bertemu Bang Beni."


"Ternyata, bukan hanya kehidupanku saja yang menyedihkan, kehidupan Bang Togar jauh lebih menyedihkan."


Mak Salmah menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, beliau sendiri menyimpan rahasia besar tentang masa lalu Zero.


Rahasia, siapa sebenarnya Zero dan kenapa orangtuanya sampai tega membuangnya diantara onggokan sampah, Emakpun tidak tahu jawabannya hingga sekarang.


Jika memang orangtuanya masih hidup, pasti sudah datang mencarinya di perkampungan ini, karena Mak Salmah tidak pernah pindah tempat tinggal sejak beliau menemukan Zero 17 tahun lalu.


"Mak... emak, kenapa Mak melamun? Mak sakit?" tanya Kiara.


"E...enggak kok Ra, Mak agak pusing saja," jawab Mak gugup dan berbohong.


Mak Salmah pun menurut, beliau tidak mau ada yang curiga, jika saat ini ada yang mengganggu pikirannya.


Zero yang sudah selesai mandi langsung bergabung bersama Togar dan Beni yang belum juga selesai bermain catur.


"Ayo Dek, ikut main. Bang Beni kalah melulu," ucap Togar sambil tertawa.


"Iyalah, kamu 'kan pakarnya main catur, coba taekwondo, kamu pasti kalah," jawab Beni yang tidak mau kalah.


"Besok sore kita mulai temui para pemuda kampung ini ya Bang! biar bisa segera dimulai latihannya. Kita harus cepat bergerak, jangan sampai keburu orang-orangnya Royan mengepung kampung ini, untuk mengusir kita semua."


"Iya Dek, besok setelah pulang dari rumah sakit, kita langsung gerak," ucap Togar.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang sakit Gar? Kelihatannya semua sehat," tanya Beni.


"Nggak ada yang sakit di sini Bang, kami hanya ingin berkonsultasi ke dokter tentang Ahmad. Abang ingat! Anak cacat penjual kacang taujin, yang pernah kita mintai uangnya?"


"Oh...ingat Gar, aku jadi malu dan sangat berdosa, memangnya dia sakit apa Gar?"


"Nggak sakit Bang, aku hanya ingin berkonsultasi, apakah dokter bisa membuatkan tangan palsu untuknya, misalnya dengan cara operasi," ucap Zero.


"Sepertinya bisa Dek, tapi yang pasti biayanya sangat mahal."


"Masalah biaya nggak jadi soal Bang, sudah ada donatur yang mau membiayainya," jawab Zero.


"Jika begitu, aman. Tinggal nunggu keputusan dari dokter saja.


"Dek, kepala emak katanya pusing. Kakak baru mengantar beliau ke kamar, apa sebaiknya kita panggil dokter ya Dek?" ucap Kiara yang baru keluar dari kamar emak.


"Aku lihat emak dulu ya kak, jika nanti butuh dokter barulah kita panggil," ucap Zero sambil berjalan menuju kamar emak.


Zero melihat emak sedang berbaring, tapi dia tahu, emak tidak tidur. Kemudian, dia mendekati beliau, memijat kakinya sambil berkata, "Mak sakit? Aku panggil dokter, ya Mak?" tanya Zero.


"Nggak usah Ro, emak hanya sedikit pusing, berbaring sebentar nanti juga sembuh. Biasalah stamina tua, tidak ada yang di kerjakan pun tetap gampang lelah. Kamu keluar saja sana! Emak mau tidur sebentar, biar nanti saat terbangun, hilang pusingnya."


"Baiklah Mak, aku keluar dulu ya, jika butuh apa-apa, panggil saja, kami duduk di luar kok Mak."


"Iya Ro."


Zero pun meninggalkan emak, agar bisa beristirahat, dia menduga, Mak Salmah, pasti masih kepikiran tentang dirinya. Tapi dia berharap setelah bangun nanti, pikiran emak akan tenang kembali.

__ADS_1


__ADS_2