SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 110. MEMBERI PERHATIAN KHUSUS


__ADS_3

"Tidak Al, kami akan menemanimu di sini sampai ayahmu tiba dan besok kami akan membantu proses penyelenggaraan jenazah. Emak pasti paham karena aku tadi sudah pamit dan Vano juga sudah cerita ke emak jika ayahmu masih di luar kota," ucap Zero.


"Ayo Van, sekarang kita berwudhu dan ikut mengaji bersama Alena," ajak Zero.


Vano pun mengangguk, lalu keduanya bertanya kepada Alena di mana letak kamar mandinya.


Alena berjalan ke dapur untuk menunjukkan kamar mandi, setelah itu diapun kembali ke depan, duduk di sisi jenazah ibunya.


Sekarang perasaan Alena lebih tenang, ternyata kehadiran dan dukungan dari Zero dan Vano bisa sedikit mengurangi rasa sedihnya.


Zero dan Vano sudah selesai berwudhu, lalu mereka kembali ke sisi Alena. Keduanya mengambil kitab suci, lalu mengaji dengan hikmad.


Di tengah heningnya malam terdengarlah lantunan suara merdu Zero yang sedang mengaji, hingga membuat hati yang mendengarnya terasa adem dan tenang.


Mereka menghabiskan malam di sisi jenazah sang ibu sambil terus mengaji hingga menjelang subuh.


Begitu terdengar seruan dari masjid, Zero dan Vano pun pamit untuk pergi kesana, sedangkan Alena melaksanakan ibadah di rumah.


Pagi-pagi para tetangga sudah masak, lalu mereka meminta Alena dan yang lain untuk sarapan agar tidak sakit.


Alena menolak untuk sarapan, karena dia tidak bernafsu sedikitpun untuk makan, dia hanya mempersilakan Zero dan yang lain agar segera menikmati makanannya


Namun Zero tidak membiarkan hal itu, dia tidak ingin Alena sakit, lalu dia mengambil sedikit nasi, sayur dan juga lauk.


Sebelum dirinya makan, Zero terlebih dahulu mendekati Alena, dia menyodorkan sesendok makanan ke mulut gadis itu.


"Makanlah Al, aku tidak mau kamu sakit," ucap Zero masih bertahan menyodorkan makanan tersebut ke mulut Alena.


"Al tidak selera makan Kak! Nanti saja Al makannya," ucap Alena kekeh dengan pendiriannya.


"Kalau kamu tidak makan, aku juga tidak akan makan, biar kami kembalikan saja makanan ini ke dapur," ancam Zero sambil mengangkat nampan hendak mengembalikan makanan tersebut.


"Kakak makanlah, nanti Al juga makan."


"Tidak! Kamu makan ini dulu, aku akan menyuapimu, setelah kamu selesai baru aku akan makan," ucap Zero sambil kembali menyodorkan makanan ke mulut Alena.


Mau tidak mau Alena pun membuka mulut, sebenarnya dia malu karena di sana ada Vano dan kedua temannya.


Tapi Alena yang paham dengan sifat Zero, dia tidak bisa menolak lagi. Zero jika sudah bilang harus, ya harus dan jika bilang tidak ya tetap tidak.


Sesuap demi sesuap makanan pun masuk ke dalam mulut Alena. Zero menyuapinya dengan sangat telaten hingga makanan di piring yang dipegangnya pun habis.

__ADS_1


Kemudian Zero menuang segelas teh hangat lalu dia mengulurkannya kepada Alena, "Minumlah Al, biar perut kamu hangat!" ucap Zero.


"Terimakasih Kak," ucap Alena, lalu dia meletakkan gelasnya, mengambil sepiring makanan dan menyerahkannya kepada Zero sambil berkata, "Sekarang giliran Kakak yang harus makan," ucap Alena.


Alena juga mengambilkan makanan buat Vano, dia tidak ingin menunjukkan sikap yang berbeda kepada kedua pemuda itu.


"Makanlah Van, walaupun makanan ini sederhana, tidak seperti yang terhidang di rumahmu tapi aku jamin, soal rasa tidak kalah lho, karena masakan tetanggaku sudah di akui oleh penikmat kuliner nusantara," ucap Alena sembari tersenyum.


"Terimakasih Al, aku percaya...kamu saja pandai masak, apalagi emak-emak tetangga yang memang sudah berpengalaman," ucap Vano sambil tersenyum dan mengambil piring makanan dari tangan Alena.


Zero senang, lalu dia dan Vano menikmati makanan hingga tak tersisa di piring mereka.


Alena pun telah meminum teh nya dan dia juga menuangkan dua gelas teh hangat, satu untuk Zero dan satu lagi buat Vano.


Walau hati Vano cemburu melihat interaksi Zero dan Alena tadi, tapi dia juga senang, usahanya untuk menghibur Alena dengan mendatangkan Zero tidak sia-sia.


Selesai sarapan, Alena hendak membereskan semuanya tapi kedua gadis teman Alena tidak mengizinkan, mereka berdualah yang membereskan sisa makanan dan peralatan makan yang kotor.


Sambil mengangkat piring yang kotor, kedua gadis itu membatin, sungguh beruntung Alena, yang mendapatkan perhatian begitu besar dari kedua pemuda yang ada di hadapan mereka. Mereka juga berharap bisa menemukan pemuda baik seperti Zero dan Vano.


Zero dan Vano segera bergabung dengan para pentakziah yang lain, sedangkan Alena tetap duduk di sisi mayat ibunya dengan di temani oleh para pelayat yang mulai ramai berdatangan.


Saat jenazah hendak di mandikan, ayah Alena pun tiba, beliau mendekat lalu melihat wajah almarhumah sambil membacakan doa.


Alena kembali terisak lalu ayah dan anak itu segera bersiap untuk ikut mandikan jenazah.


Proses memandikan sudah selesai, lalu dilanjutkan dengan proses pengkafanan. Setelah di kafani, jenazah kemudian di sholatkan dan siap di bawa ke TPU untuk dikebumikan.


Zero dan Vano, selain ikut mensholatkan, keduanya pun ikut mengiringi jenazah, mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir yaitu ke pemakaman umum.


Keduanya kembali ke rumah Alena untuk pamit pulang dan berjanji akan datang kembali saat acara tahlilan.


Ayah Alena mengucapkan terimakasih kepada Zero dan Vano yang telah mendampingi Alena di saat putrinya terpuruk dan saat dirinya tidak ada untuk menguatkan hati putrinya itu.


Zero dan Vano pun pamit kepada Alena, lalu Vano bermaksud mengantar Zero terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya.


Saat Zero tiba di rumah, ternyata Zeya sudah ada di sana karena dia ingin mengajak Zero untuk menjemput Royan di bandara.


Pesawat Royan terlambat tiba, karena terkendala transit yang cukup lama. Seharusnya Royan sudah tiba sejak pagi, namun saat ini sudah lewat tengah hari, pesawatnya baru akan mendarat.


Zero sebenarnya mengantuk sebab dia tidak tidur semalaman, tapi karena dia tidak ingin mengecewakan Zeya akhirnya dia izin pamit untuk mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum ikut ke bandara.

__ADS_1


Zeya dan Zero pun berangkat ke bandara. Dalam perjalanan, Zeya tidak seperti biasanya, kali ini dia lebih banyak diam. Zero sendiri tidak menyadari hal itu karena dirinya sedang mengantuk.


"Tidurlah! nanti jika sudah sampai aku bangunkan Kak!" ucap Zeya yang melihat Zero berulang kali menguap."


"Maaf Zey, aku ngantuk sekali. Tadi malam aku dan Vano tidak tidur semalaman karena menemani Alena di sisi jenazah ibunya," ucap Zero dengan tenang tanpa terpikir olehnya jika Zeya cemburu.


Hai para sobat, tinggal 3 hari lagi tugas promo ku selesai untuk merekomendasikan karya sahabatku ya, jadi tolong harap maklum dan terimakasih bagi para sobat yang tetap setia mendukung karyaku ini dan juga yang telah bersedia mampir ke karya sahabatku. Yuk mampir lagi ke karya Kak AG Sweetie dan jangan lupa beri dukungannya juga ya di sana. Terimakasih πŸ™β™₯️


BLURB KARYA :



"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."


~ Vlora Yukika ~



"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"


~ Haedar Gibran ~



Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?



Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.



"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."


~ Tristan Pratama ~



Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?


__ADS_1


![](contribute/fiction/4470767/markdown/24522111/1653909384876.jpg)


__ADS_2