
Zeya sebenarnya bukan hanya lelah raga tapi dia lelah memikirkan perangai mamanya yang tidak bisa berubah, apalagi saat dia tahu bahwa dirinya bukanlah adik Royan.
Saat ini ada tanda tanya besar di dalam kepala Zeya, siapakah papa kandungnya? Apakah dia anak haram dari selingkuhan sang mama atau dia yang tidak memiliki status jelas siapa papanya karena sang mama sudah seperti pelacur, tidak cukup memiliki satu orang pria.
Zeya sedih dan malu, kenapa harus terlahir sebagai anak Shena. Jika boleh memilih mungkin dia akan memilih tidak usah dilahirkan sama sekali daripada memiliki ibu seperti Shena.
Kiara dan Emak yang melihat Zeya mengurung diri saja di kamar menjadi khawatir, lalu emak meminta Kiara untuk menelepon Zero agar segera pulang dan memanggil Dokter.
Zero buru-buru pulang lalu dia mengetuk pintu kamar Zeya, sambil berkata, "Zey, tolong buka pintunya!"
Zeya pun membuka pintu sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab dengan menutup pakai handuk dengan alasan dia malu baru selesai mandi dan berdandan.
Zero lalu memintanya untuk berdandan, dia ingin mengajak Zeya jalan-jalan sekaligus ke rumah Royan. Zero ingin berbicara dengan Bu Riana sekaligus memastikan keberangkatan Royan dan Nayla untuk berbulan madu.
Sambil menunggu Zeya, Zero menemui Mak Salmah, dia ingin membicarakan tentang pendaftaran haji, seperti yang telah Zero janjikan.
"Mak, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Zero sambil duduk di sisi emak yang sedang duduk nyantai bersama Kiara.
"Tadi, aku sudah pergi ke agen travel perjalanan haji Mak, dan menanyakan syarat-syarat tentang pendaftaran haji plus. Insyaallah, minggu depan aku akan balik lagi kesana Mak, kita akan mendaftar. Kata mereka daftar tunggu minimal setahun untuk keberangkatan haji plus," ucap Zero.
"Memangnya dana untuk itu sudah ada Ro? dan Mak harap kamu tidak melupakan janji saat di rumah sakit," ucap Mak Salmah.
"Insyaallah ada Mak, dan aku ingat kok, janji adalah hutang maka harus aku tepati."
"Alhamdulillah jika begitu, kamu pergilah temui Bu Riana, bicarakan hal ini dengan beliau dan minta sekaligus berkas untuk memenuhi syarat pendaftaran," ucap Mak Salmah.
"Satu hal lagi Mak, setelah kita mendaftar ada rahasia yang ingin aku sampaikan sama Emak, karena aku tidak mau ada kebohongan lagi saat kita berangkat kesana," ucap Zero.
"Memangnya kamu bohong apa sama emak Ro?" tanya Mak Salmah penasaran.
"Ada Mak, aku janji akan jujur nanti."
"Oh ya Kak, Kakak juga harus persiapkan berkas, kita akan berangkat berlima. Aku, Emak, Bu Ambar, Kakak dan Zeya. Bantu emak untuk persiapkan berkas-berkasnya ya Kak! Ini aku kirim apa saja yang dibutuhkan ke WhatsApp kakak."
"Aku juga diajak Dek?"
__ADS_1
"Iya Kak, biar kita bisa temani emak dan Bu Riana, mereka sudah tua jadi harus ada pendamping."
"Terimakasih ya Dek, harus bagaimana aku berterimakasih. Menjadi bagian dari keluarga ini saja, aku sudah sangat beruntung eh sekarang diberi bonus," ucap Kiara.
Zeya yang baru saja keluar dari kamar, begitu mendengar dirinya juga di ajak, merasa terkejut. Dia tidak percaya, akan secepat itu berangkat ke tanah suci bersama-sama orang yang dia cintai dan sayangi.
"Kak Zero serius, mau ajak aku juga?" ucap Zeya.
"Iya Zey, kita di ajak. Aku punya kesempatan untuk berdoa di sana, agar segera mendapatkan jodoh," ucap Kiara.
"Berarti aku juga Kak. Aku mau berdoa agar tetap berjodoh dengan Kak Zero dunia akhirat," ucap Zeya malu.
"Nggak apa-apa, berdoalah untuk kebaikan hidup kalian mendatang dan jangan lupa doakan orangtua," ucap Mak Salmah.
"Sudah aku kirim ya Kak, apa saja persyaratannya ke hp kakak," ucap Zero kepada Kiara.
"Sudah siap Zey? Ayo kita berangkat," ajak Zero.
Mereka pun pamit kepada emak dan Kiara, untuk pergi ke rumah Royan. Emak nitip salam buat Royan sekeluarga.
"Memikirkan mama Kak dan siapa sebenarnya Papa kandungku, apa beliau masih hidup atau sudah meninggal," ucap Zeya.
"Sudah Zey, jangan terlalu dipikirkan nanti kamu malah sakit. Pada saatnya nanti kita pasti akan tahu siapa Papa kamu," ucap Zero.
Zeya hanya menghela nafas berat. Kemudian Zero berkata lagi, "Kamu masih beruntung Zey, pernah merasakan kasih sayang seorang Papa, aku sama sekali tidak mengenal Papaku, beliau meninggal saat aku masih bayi, menurut cerita emak."
"Iya Kak, setidaknya aku pernah merasakan kasih sayang Papa, walau kenyataan beliau mungkin bukan papaku," ucap Zeya.
Mereka pun tiba di rumah Royan, Nayla pun mempersilakan Zero dan Zeya masuk. Ternyata Royan dan Nayla sedang packing untuk persiapan berangkat bulan madu.
"Wah, asyik deh! Kak Roy dan Kak Nay akhirnya berangkat bulan madu," ucap Zeya.
"Iya Dek, jangan sampai ketunda lagi.
"Kita kapan menikah dan bulan madu ya Kak?" canda Zeya sambil tersenyum memandang Zero.
__ADS_1
Selesai Zeya mengatakan hal itu, terdengar suara gelas jatuh ke lantai dan Bu Riana berteriak, "Tidak, tidak boleh!"
Semua kaget dan memandang ke arah Bu Riana.
"Ada apa Bu?" tanya Nayla sambil mendekati Bu Riana.
"Mereka tidak boleh menikah, pokoknya tidak boleh!" seru Bu Riana lagi dengan wajah pucat.
Royan juga mendekati beliau lalu bertanya, "Ibu kenapa? Ibu sakit? Ibu tidak boleh seenaknya mengatur dan menentukan kehidupan adik saya! Ibu tidak punya hak!" ucap Royan yang juga tersulut emosi.
Melihat Royan marah, Nayla pun mendekati suaminya, lalu menyabarkan Royan dan berkata bahwa semuanya bisa dibicarakan secara baik-baik.
Kemudian Nayla bertanya, "Apa ibu sedang sakit?"
"Aku baik-baik saja Nak, tolong! mereka jangan sampai menikah," ucap Bu Riana sambil mengatupkan kedua tangannya dan menangis.
Zeya yang mendengar hal itu marah dan berkata, "Memangnya ibu punya hak apa, hingga melarang kami menikah!" teriak Zeya.
Kemudian Zeya berkata lagi, "Ibu bukan siapa-siapa kami! Jadi, Ibu tidak punya hak untuk menentang hubungan kami!" ucap Zeya lagi.
Zero bengong melihat reaksi Bu Riana tadi, tapi saat dia melihat Zeya membentak beliau, Zero tidak bisa membiarkan hal itu. Walau bagaimanapun mereka harus sopan berbicara terhadap orang yang lebih tua.
"Zey, sabar! kita bicarakan dan tanya baik-baik, kenapa Bu Riana bersikap seperti itu. Kamu jangan bentak beliau, kita harus sopan," ucap Zero.
"Tapi Kak, beliau siapa? kok melarang hubungan kita. Ibu...bukan! Keluarga juga bukan!" ucap Zeya masih dengan nada tinggi.
"Bu Riana coba tenang, duduklah disini Bu!" ajak Nayla sambil mengajak Bu Riana duduk di ruang keluarga.
"Coba, sekarang Ibu jelaskan kepada kami, kenapa mereka tidak boleh menikah?" tanya Royan yang sudah tenang.
Bu Riana masih menangis, rasanya dia tidak sanggup untuk membongkar aib masa lalu, tapi dia tidak ingin hubungan Zero semakin dalam dengan Zeya.
"Bu, tolong jelaskan hal ini kepada kami, kenapa ibu tidak menyetujui hubungan saya dengan Zeya," pinta Zero.
Bu Riana masih diam, beliau bingung harus mulai dari mana mengatakannya. Beliau takut, kebenaran yang akan dikatakan pasti menyakiti hati anaknya dan gadis dihadapannya.
__ADS_1