SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 111. FIRASAT BURUK


__ADS_3

"Siapa Alena Kak?" tanya Zeya tanpa melihat ke arah Zero karena fokus dengan setirnya.


"Teman sekolah ku dan Vano, kasihan ibunya meninggal di saat ayahnya masih di luar kota, sedangkan keluarga ayah dan ibunya juga tinggal di provinsi lain. Jadi aku dan Vano menemani Alena bersama para tetangga," ucap Zero. Dia menjelaskan semuanya sebelum Zeya bertanya lebih jauh.


"Oh...aku kira teman spesial Kak Zero, sampai Kakak tidak pulang tadi malam."


"Hemm..." dehem Zero sambil memejamkan mata, dia belum ingin menceritakan semuanya saat ini karena dia memang mengantuk.


Mendengar tidak ada jawaban dari orang yang diajak bicara, Zeya pun menoleh, lalu dia menggelengkan kepala dan membiarkan Zero tidur.


Zeya sebenarnya masih penasaran dengan gadis yang bernama Alena, tapi dia tidak tega untuk membangunkan Zero, akhirnya dia mempercepat laju kenderaannya supaya segera sampai di bandara.


Sesuai perkiraan, Zeya sampai tepat waktu di bandara, lalu dia membangunkan Zero saat mobilnya sudah sampai di area kedatangan penumpang. Royan, Nayla beserta Abah sudah menunggu mereka.


Zeya langsung menghambur ke pelukan sang Kakak sambil berkata, "Selamat datang kembali Kak!"


Royan mengacak rambut sang adik, dia juga rindu dengan adik manjanya itu. Kemudian Zeya pun memeluk Nayla dan memberi salam kepada Abah.


Zero juga melakukan hal yang sama, dia memeluk Royan kemudian memberi salam kepada Nayla dan Abah.


"Dimana Mama sekarang Dek?" tanya Royan merasa tidak sabar.


"Mama Ambar sekarang tinggal di rumah Kak Zero," jawab Zeya.


"Kenapa tidak kamu ajak tinggal di rumahku saja Dek?" tanya Royan. Dia heran kenapa mamanya malah tinggal di rumah orang lain.


"Ini semua salah mamaku Kak, mama jahat dan kejam, ternyata berpuluh tahun mama Shena yang telah menyembunyikan dan menyiksa mama Kak Royan, hingga beliau syok dan menjadi gila karena dipisahkan dari Kakak," ucap Zeya sedih sekaligus dia malu.


"Apa! Jadi selama ini mama Shena pelakunya!" ucap Royan sambil mengepalkan kedua tangannya.


Kemarahannya memuncak, Royan marah, dia sudah tidak sabar ingin segera membalas perlakuan Mama Shena kepada mama kandungnya.


Namun Nayla menggenggam tangan Royan lalu memberi kode dengan kedipan mata agar Royan bersabar. Bagaimana pun jahatnya mama Shena, dia adalah mama kandung Zeya, adik kesayangannya.


"Kami menyembunyikan Mama Ambar untuk sementara ini di rumah Kak Zero karena mama Shena masih terus mencari jejak beliau. Mama Shena tidak tahu jika aku dan kak Zero lah yang telah menyembunyikan beliau."


"Terimakasih Dek, berkat kalian aku akan bisa bertemu mama lagi, padahal aku hampir saja menyerah, kupikir Mama sudah tidak ada lagi di dunia ini."


"Kakak harus selidiki juga bekas asisten Papa, aku yakin dia ada hubungan dengan mama dan ikut terlibat, karena aku melihat mereka sering janjian bertemu. Jangan-jangan dulu papa struk juga gara-gara mereka."


Royan menarik nafas dalam, dia tahu mama Shena jahat tapi dia tidak menduga jika beliau sekejam itu, sampai membuat mamanya gila. Padahal selama ini Royan telah berlapang dada menerima Mama Shena sebagai mamanya juga.


Melihat wajah sang Kakak begitu muram, dia tidak berani melanjutkan ucapannya, lalu dia mencoba mengalihkan pembicaraan, "Kak, kita kemana ini, pulang dulu atau langsung ke rumah Kak Zero?" tanya Zeya.


"Sebaiknya kita antar Abah dulu pulang, karena Abah masih harus istirahat setelah perjalanan jauh. Lagipula Mama pasti belum bisa menerima kehadiran kita semua."


"Iya Nak, kamu benar, Abah merasa lelah, lain waktu Abah pasti akan menemui mama kamu. Kalau nanti Nayla ingin ikut, Abah nggak masalah, di rumah 'kan ada Bibi dan mamang penjaga kebun yang bisa menemani Abah untuk sementara."


"Iya Bah," ucap Nayla.

__ADS_1


Zeya kemudian mengarahkan mobilnya menuju ke rumah Nayla, setelah sampai di sana, Royan dan Nayla membantu Abah turun dari mobil dan mengantarnya masuk ke dalam rumah.


Kemudian Nayla berpesan agar bibi menjaga Abah sementara Nayla ikut bersama Royan.


"Pergilah kalian! Mudah-mudahan mama kamu bisa sembuh setelah bertemu kamu Nak," ucap Abah.


"Baiklah Bah, Royan bawa Nay dulu, Roy akan antar kembali Nayla secepatnya setelah bertemu dengan mama," ucap Royan.


"Nay berangkat ya Bah," pamit Nayla.


Mereka kembali ke dalam mobil Zeya, Zero tampak gelisah hingga membuat Royan heran dan bertanya, "Kamu kenapa Ro, sejak tadi aku lihat kamu diam saja tapi aku perhatikan sepertinya kamu gelisah dan ada sesuatu yang kamu pikirkan?"


"Entahlah Kak, pikiranku sejak tadi tidak tenang, sepertinya akan terjadi sesuatu."


"Mungkin karena Kak Zero lelah dan ngantuk itu Kak, efek tidak tidur semalaman atau Kak Zero sedang memikirkan gadis yang bernama Alena," pancing Zeya yang masih penasaran dengan gadis tersebut.


"Siapa Alena Dek?" tanya Royan sambil menatap Zero dan juga Zeya.


"Bukan siapa-siapa, cuma teman satu sekolah Kak, yang sedang berkabung karena ibunya meninggal kemaren," timpal Zero.


Zero menarik nafas dalam, dia masih saja merasa tidak enak, entah mengapa pikirannya masih saja tidak tenang.


Kemudian dia mengeluarkan ponselnya, ingin menelepon Togar. Saat panggilannya di terima oleh Togar, Zero pun bertanya, "Bang... bagaimana pekerjaannya, apa baik-baik saja?"


"Semuanya lancar Bos, ini asisten pranky juga sedang berada di sini," jawab Bonar.


"Syukurlah, aku bisa minta tolong Bang? tolong lihatkan rumah emak, sejak tadi perasaanku tidak enak, aku takut terjadi apa-apa di sana. Ini aku sedang dalam perjalanan pulang bersama Kak Royan."


"Terimakasih ya Bang, jika ada apa-apa langsung kabari aku ya Bang," ucap Zero.


"Siap Bos!" ucap Togar lagi sembari berjalan untuk mengambil kunci motornya yang tadi ada pada Beni.


"Tenanglah Kak! mudah-mudahan tidak terjadi apapun," ucap Zeya mencoba menenangkan Zero.


"Iya Ro, kamu harus tenang."


Togar melajukan motornya dengan kencang. Saat hampir mendekati rumah Mak Salmah, Togar melihat asap hitam dan tebal membumbung ke atas.


Lalu Togar mendengar suara teriakan warga yang merasa panik.


"Kebakaran... kebakaran... tolong... kebakaran," teriak warga dengan histeris sambil berlari.


"Hah...ada kebakaran! Rumah siapa itu yang kebakaran!" monolog Togar.


Dia berhenti, dan mencoba bertanya kepada warga yang berlari ingin melihat kebakaran tersebut.


"Maaf Pak, ada apa ya? kenapa warga pada lari dan berteriak-teriak kebakaran. Memangnya apa yang terbakar Pak?"


"Rumah Mak nya Zero Dek! Ayo kita lihat dan bantu mereka, mumpung api belum terlalu besar dan belum menjalar ke rumah warga yang lain."

__ADS_1


"Iya Pak, sebentar saya akan menghubungi Zero dulu," ucap Togar panik.


Kemudian Togar menghubungi Zero dan menceritakan tentang musibah yang sedang terjadi di rumahnya.


Zero pun kaget, berarti benar firasatnya sejak tadi, ada hal buruk yang terjadi.


"Abang coba lihat bagaimana keadaan emak dan yang lain, aku akan segera sampai. Tolong ya Bang! selamatkan mereka, kalau barang-barang tidak usah dipikirkan," ucap Zero.


Togar segera mendekati rumah Mak yang terbakar, sedangkan Zero meminta Zeya untuk memberhentikan mobilnya.


"Zey...tolong berhenti! Aku akan berlari kesana lewat jalan pintas. Jalan itu tidak bisa di lewati mobil, jadi aku turun saja di sini, aku harus menyelamatkan emak dan yang lain," ucap Zero yang berusaha untuk tenang.


"Aku ikut kamu ya Ro, aku juga mau membantu menyelamatkan mereka termasuk mamaku," pinta Royan.


Kak Royan lewat jalan ini saja bersama Zeya, biar kalian bisa mempersiapkan mobil untuk membawa mereka jika ada yang terluka," dalih Zero. Padahal Zero ingin mempergunakan kekuatan dan juga rompi ajaibnya.


Royan dan Zeya pun setuju, lalu mereka menurunkan Zero dan segera meneruskan perjalanan agar cepat sampai di tempat kejadian.


Zero berlari mencari tempat yang sepi, lalu memakai rompinya dan segera mempergunakan kekuatan supernya untuk secepatnya sampai di rumah.


Selamat sore sahabat semua, yuk mampir juga dalam karya sahabatku, jangan lupa beri juga dukungannya di sana ya.... Terimakasih πŸ™β™₯️


BLURB KARYA :




Obsesi yang tidak pantas seorang kakak terhadap adiknya sendiri. Viktor Alexander Aganta, itulah nama lengkap dari sosok abang yang begitu kejam dan sangat terobsesi dengan adiknya, Quenna Anezka Aganta.



Viktor selalu menggunakan penutup wajah setelah tragedi kelam beberapa tahun lalu hingga tidak sekalipun yang mengetahui rupa tampan dari sosok Viktor, bahkan Quenna sendiri.



Quenna tidak pernah melihat wajah sang Abang bertahun-tahun lamanya usai insiden yang menjadi kunci utama hancurnya hidup Quenna karena obsesi abangnya.



Kematian seluruh keluarganya dan obsesi abangnya telah membuat Quenna percaya bahwa ia berada dibawah kendali Viktor, ia menjadi budak Viktor abangnya sendiri.



"Hentikan perbuatan tidak pantas ini Kak, aku adik mu, adik kandung mu!!"



"Kenapa aku harus mengehentikan? Aku bahkan bisa lebih dari ini, membuat mu mengandung anak ku, misalnya?"

__ADS_1



![](contribute/fiction/4470767/markdown/24522111/1653991186295.jpg)


__ADS_2