
Zeya yang sedang tertidur pulas terbangun, saat mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Dia melihat nomor tak di kenal yang menghubunginya.
Awalnya Zeya ingin mengabaikan, namun kembali ponselnya berbunyi. Merasa penasaran dengan siapa sebenarnya yang kurang pekerjaan menghubungi orang pada jam tengah malam, Zeya pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut dengan marah.
"Hallo! Siapa ini, malam-malam mengganggu orang yang sedang istirahat!" bentak Zeya.
Anak buah Royan langsung menjawab, "Bu...maaf mengganggu istirahat Anda, kami terpaksa karena bos Royan sedang membutuhkan bantuan Anda."
"Apa kalian bilang! Memangnya kalian siapa? Dan apa yang terjadi dengan kakakku!"
"Kami anak buah bos Royan dan tadi Bos Royan diserang orang di jalan, beliau terluka serta banyak kehilangan darah."
"Saat ini bos ada di rumah sakit Mitra dan membutuhkan donor darah, sedangkan stok darah yang dibutuhkan bos Royan sedang kosong, baik di rumah sakit maupun di PMI. Jadi tolong Bu cepatlah kesini bos Royan membutuhkan bantuan dari keluarga yang memilliki golongan darah yang sama," ucap anak buah Royan.
"Baiklah, saya akan segera kesana. Kalian tolong jaga kak Royan, jika ada apa-apa langsung kabari aku ya!" ucap Zeya.
Zeya langsung keluar kamar dan dia menggedor kamar Zero. Zero terkejut saat mendengar suara orang memanggil dan menggedor pintu kamarnya.
__ADS_1
Saat Zero membuka pintu, dia melihat Zeya menangis. Zero merasa heran lalu dia bertanya, "Ada apa Zey? Kenapa kamu menangis?"
"Kak Royan terluka Kak! Baru saja anak buahnya telephone aku. Ada orang yang menyerangnya di jalan saat kak Royan dalam perjalanan pulang. Sekarang kak Royan ada di rumah sakit mitra dan sedang membutuhkan pendonor darah. Kita harus cepat ke sana Kak, kak Royan butuh bantuanku," ucap Zeya lagi.
"Aku bersiap dulu ya Zey, oh ya apa perlu kita membawa Bu Ambar juga, siapa tahu darah yang dibutuhkan cukup banyak," ucap Zero.
"Iya Kak, kita bawa saja dan yang lain juga."
"Selagi aku bersiap, kamu bangunkan mereka ya!" ucap Zero.
Lalu Zeya bergegas ke kamar mama Ambar, diapun mengetuk pintu memanggil Bu Riana.
Bu Riana tersentak lalu membuka pintu saat dia mendengar Zeya lah yang sedang memanggilnya.
Saat pintu terbuka, Zeya langsung berkata, "Bu, bersiaplah! Kita semua sekarang juga harus ke rumah sakit. Kak Royan terluka dan membutuhkan pendonor darah. Ibu bersiaplah dan bawa mama Ambar, aku akan membangunkan emak dan kak Kiara," ucap Zeya.
"Baik Non, Ibu akan bersiap da membangunkan Nyonya Ambar," ucap Bu Riana.
__ADS_1
Kemudian Zeya berjalan ke kamar Emak dan Kiara. Emak yang baru terbangun karena hendak ke toilet segera membuka pintu saat mendengar suara Zeya memanggil.
"Ada apa Nak?" tanya emak.
Lalu Zeya menceritakan kejadian yang menimpa Royan, lalu Zeya meminta agar emak juga ikut ke rumah sakit bersama Kiara. Emak lalu membangunkan Kiara dan mereka pun bersiap.
Semua sudah siap berangkat, Zeya menghidupkan mesin mobil tapi sebelumnya dia berpesan kepada para penjaga agar tetap waspada menjaga rumah selama mereka pergi.
Zeya segera melajukan mobilnya ke jalan raya, dia tidak mau terlambat sampai di sana makanya kecepatan mobilnya dia tambah di atas kecepatan rata-rata.
Lalu sambil tetap pokus menyetir, Zeya meminta tolong agar Zero mencari nomor kontak Nayla yang ada di ponselnya.
Setelah mendapatkan kontak Nayla, Zero pun menghubunginya, tapi tidak tersambung. Ponsel Nayla aktif tapi tidak ada yang mengangkat. Zero mengulangnya berkali-kali tapi hasilnya tetaplah sama.
"Coba sekali lagi kak, mungkin Kak Nayla terlalu capek jadi saat ini sedang nyenyak tidur," pinta Zeya.
Lalu Zero mencobanya sekali lagi dan Zero terkejut, di balik telepon terdengar suara tawa dan tangis Nayla.
__ADS_1