
Royan yang sedang menjaga Abah bersama Nayla tersentak saat merasakan getaran di saku celananya. Dia sengaja menonaktifkan nada dering dan mengganti dengan getaran saat dirinya di dalam ruang rawat Abah.
"Kenapa Kak?" tanya Nayla.
"Sepertinya ada panggilan masuk Nay, aku keluar sebentar ya, jika aku terima di sini nanti takutnya malah membangunkan Abah. Kasihan 'kan Abah, beliau baru saja tidur," ucap Royan.
"Iya Kak, pergilah! Siapa tahu telephone penting dari tanah air," ucap Nayla.
Royan segera meninggalkan ruangan, dia lalu mengangkat ponselnya yang kembali bergetar.
"Hallo Dek, apa kabarmu? Bagaimana Zero dan yang lain? Apa proyeknya sudah mulai kalian kerjakan?"
"Ih...nanyanya sudah seperti detektif saja, masa nggak ada jedanya. Aku 'kan bingung Kak, mau jawab yang mana dulu," ucap Zeya.
"Hehehe...," Royan tertawa mendengar ucapan Zeya dan melihat wajah bete adiknya itu.
"Huh... Kakak, aku serius malah Kakak ketawain."
"Ya sudah, kalau begitu kabar apa yang ingin kamu sampaikan kepada Kakak?" tanya Royan yang mulai serius.
"Yang pertama, kami di sini baik-baik saja, yang kedua proyek hari ini sudah mulai dan yang ketiga ada kabar penting dan kabar terbaik," ucap Zeya sambil tersenyum.
"Kabar apaan itu? Ayo cepat katakan Dek!"
"Kabar yang puluhan tahun Kakak nantikan," ucap Zeya.
"Apa Dek! kamu sedang tidak bercanda? Mama Ambar sudah kalian temukan?"
"Aku serius lho Kak, iya...mama Ambar, Mamanya Kak Royan sudah kami temukan."
"Alhamdulillah...bagaimana kabar Mama Dek? dan dimana kalian menemukannya?" tanya Royan yang sangat senang dan bersyukur.
"Ceritanya panjang Kak, Kak Roy kapan pulang? Apa Abah belum baikan Kak?"
"Untuk sembuh total sih masih butuh waktu Dek, tapi harus tetap bersyukur, kondisi beliau semakin membaik. Coba nanti Kakak konsultasi dulu sama dokter, kapan kami boleh pulang. Jika sudah ada keputusan, Kakak segera kabari kalian segera. Kakak rindu Mama Dek, kakak ingin cepat pulang," ucap Royan.
Iya Kak, semakin cepat semakin baik, "ucap Zeya yang masih menyimpan bagaimana kondisi Mama Ambar sebenarnya.
Zeya tidak ingin melihat Royan khawatir dan sedih, dia akan menceritakan semuanya saat sang kakak sudah tiba di tanah air.
"Kenapa kamu diam Dek, Mama Ambar baik-baik saja 'kan? Sekarang Mama ada dimana Dek? Kalau memang saat ini beliau ada bersama kalian, tolong VC 'kan dengan Kakak."
__ADS_1
"Kalau begitu nggak kejutan dong!" ucap Zeya.
"Ya sudah...titip salam buat Zero ya. Terimakasih, kalian telah membantuku, aku pasti pulang secepatnya."
"Iya Kak, salam juga buat Kak Nay dan Abah ya," ucap Zeya sambil mengucap salam dan mengakhiri panggilannya.
Setelah itu Royan pergi ke ruangan dokter, dia ingin menanyakan kapan Abah diperbolehkan pulang. Dokter yang mendengar suara ketukan pintu, segera berkata, "Masuk!"
Royan pun membuka pintu ruangan lalu duduk setelah dokter memintanya.
"Ada keperluan apa ya Dek?" tanya dokter yang kebetulan pandai berbahasa Indonesia.
"Begini Dok, saya ingin bertanya kapan Abah diperbolehkan pulang? Sebab kami ingin secepatnya kembali ke tanah air karena ada urusan penting di sana."
"Sebenarnya Abah masih butuh waktu untuk pemulihan, tapi jika memang urusan itu tidak bisa di tunda, saya bisa memperbolehkan Abah pulang dengan catatan, harus kontrol secepatnya ke dokter spesialis jantung yang ada di sana," jawab Dokter.
"Kalau bahaya bagi kesehatan Abah, biar saya pulang sendiri saja Dok. Saya titip Abah dan Nayla di sini dulu sampai Abah benar-benar pulih," ucap Royan.
"Nggak apa-apa Dek, mudah-mudahan Abah kamu sudah kuat untuk melakukan perjalanan jauh. Besok Abah sudah saya perbolehkan pulang," ucap Dokter lagi.
"Terimakasih, saya permisi ya Dok."
Dokter pun mengangguk dan Royan segera kembali ke ruangan rawat Abah. Nayla yang melihat Royan datang segera menghampirinya dan bertanya, "Kok lama Kak? Memangnya ada masalah ya di tanah air?"
"Mama siapa Kak?" tanya Nayla bingung.
"Mama Ambar, mama kandungku. Zeya dan Zero telah menemukan beliau tapi mereka belum memberikan kesempatan aku untuk melihat mama."
"Alhamdulillah, syukur deh Kak, aku ikut bahagia."
"Ada kabar baik lagi, besok Abah sudah boleh pulang, tadi aku menemui Dokter dan dokter telah mengizinkan kita membawa Abah pulang."
Dua berita yang sama membuat keduanya bahagia, mereka lalu memberitahu Abah yang sudah bangun dari tidurnya.
Nayla kemudian membereskan barang, sementara Royan memesan tiket pesawat untuk kepulangan mereka besok.
Royan mendapatkan penerbangan siang, jadi mereka tidak terlalu terburu-buru.
Setelah itu Royan kembali menghubungi Zeya bahwa besok mereka akan kembali.
Zeya berjingkrak gembira mendengar berita tersebut, lalu dia memberitahukan tersebut kepada Zero.
__ADS_1
"Syukur deh jika Kak Royan bisa cepat kembali, kita jangan sampai kehilangan Mama Kak Royan lagi. Jadi kita harus bagaimana ini Zey, apa kita akan membawa keluar Bu Ambar dari sini sebelum Mama kamu datang?"
"Jangan Dek!" ucap Bu Riana yang mendengar ucapan Zero.
"Tapi Bu, kak Royan sudah tahu keberadaan mamanya, jika kita tidak segera membawanya pergi dari sini takutnya mama Shena akan datang, membawa pergi dan menyekap kalian lagi."
"Tapi bagaimana dengan Ibu Dek, ibu tidak mau nyonya Shena menyakiti putra Ibu."
"Ibu jangan takut, kami pasti akan bantu menemukan putra ibu. Aku tahu Bu, saat ini yang dibutuhkan mama Shena adalah mama Ambar, agar bisa menekan Kak Royan untuk mengalihkan semua harta kepadanya, jadi kita harus membawa pergi beliau sekarang."
"Apa tidak ada penjagaan di luar Dek, takutnya Dokter sudah memberitahu kehadiran kalian disini kepada nyonya."
"Aku akan melihat situasi di luar terlebih dahulu sebelum kita menyelinap pergi, kamu jaga mereka ya Zey dan jangan lupa mengunci pintu. Jangan dibuka, sebelum aku kembali!" ucap Zero.
"Baik Kak, hati-hati dan cepat kembali ya Kak!" pinta Zeya.
Zero pun mengangguk, kemudian dia keluar dari ruangan. Zero melihat di kejauhan datang segerombol orang yang setengah berlari menuju ke tempatnya.
Dengan sigap, Zero mengeluarkan rompinya dari dalam tas, dia harus segera menyingkirkan orang-orang tersebut, sebelum sampai ke ruangan Bu Ambar.
Sepuluh pengawal suruhan Shena sudah semakin mendekat, belum sempat mereka membuka pintu, Zero pun menjalankan aksinya.
Zero yang berdiri di depan pintu dan tidak terlihat oleh siapapun segera merampas pistol yang terselip di pinggang salah satu anak buah Shena, lalu dia memain-mainkannya ke udara, untuk mengalihkan perhatian para pengawal agar menjauh dari pintu.
Para pengawal terkejut, lalu mereka berusaha mengambil pistol tersebut tapi Zero mahir memainkannya kesana kemari hingga salah satu pengawal terjungkal ke lantai.
Bagaimanakah kisah selanjutnya, ikuti terus ceritaku ya guys🙏😉
Malam ini aku rekomendasikan karya sahabatku, mampir yuk sobat dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga di sana ya🙏♥️
Bulrb "Kesandung cinta anak bau kencur" karya Kak Yanktie Ino :
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
__ADS_1
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?