SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 133. GUDANG PENYELUNDUPAN BARANG


__ADS_3

Zero berangkat bersama tiga orang anak buah Royan, lalu dia meminta ketiganya untuk mengarahkan motor ke jalan menuju pelabuhan, tempat pergudangan yang jarang ada rumah penduduknya.


Motor sudah melaju kencang, tapi Zero merasa tidak sabar karena dia terbiasa dengan kecepatan berlari. Tapi tidak mungkin hal itu dia lakukan sekarang, sebab dia adalah penunjuk jalan bagi ketiga temannya itu.


"Ayo bang, bisa lebih kencang lagi. Aku takut kita terlambat menyelamatkan calon istri Bos Royan. Kasihan mereka, Kak Royan pasti membutuhkan kehadiran orang terkasihnya sebagai penyemangat untuk mempercepat kesembuhannya," ucap Zero.


"Sudah Bos, ini sudah lari diatas rata-rata," ucap salah satu anak buah Royan.


"Jangan panggil aku Bos dong Bang, panggil saja aku Zero. Aku hanya seorang pemulung jadi nggak pantas dengan julukan itu," ucap Zero.


"Tapi Bos adalah calon adik ipar Bos kami, jadi nggak mungkin kami hanya panggil nama," ucap anak buah Royan.


"Ah... abang bisa saja, masih calon belum jadi beneran," ucap Zero sambil tertawa.


"Sekarang kita ke arah mana Bos, kita sedang di perempatan arah," ucap anak buah Royan.


"Ke kiri Bang, disana arah pelabuhan."


"Baik Bos."


Mereka mulai melewati gudang-gudang penyimpanan barang, tapi Zero belum melihat rumah yang terlihat dalam terawangannya tadi.


"Jadi kemana lagi kita Bos! area pergudangan sudah hampir habis dan kita sudah menuju ke dermaga."

__ADS_1


"Coba kita putar lagi Bang, siapa tahu ada tempat yang terlewat dan letaknya agak tersembunyi di antara gudang-gudang tersebut," ucap Zero lagi.


"Baik Bos! Ayo kawan kita putar lagi! jangan sampai ada tempat yang terlewat, perhatikan baik-baik."


"Oke Bang," jawab yang lain dengan serempak.


Akhirnya mereka putar arah dan pelan pelan menyusuri jalan di antara pergudangan tersebut dan ternyata benar terdapat sebuah rumah di sana.


Namun rumah itu terlihat sangat sunyi seperti tidak ada seorang pun yang tinggal di sana. Banyak rongsokan barang yang hampir menutupi rumah tersebut.


Zero meminta teman-temannya untuk mematikan sepeda motor mereka dari kejauhan agar tidak menimbulkan kecurigaan dan meminta mereka agar menyimpan sepeda motor tersebut di tempat yang tidak terlihat orang.


Kemudian mereka berempat mengendap-ngendap mendekati rumah tersebut. Zero meminta temannya agar berpencar, agar dia leluasa bergerak.


Zero menyelinap masuk, tapi belum beraksi, dia masih mengintai dari balik rongsokan besi tua. Barangkali masih ada teman dari kedua penjaga tersebut yang berkeliaran di sekitar tempat itu.


Ketiga anak buah Royan yang berpencar tadi juga mengendap masuk, tapi naas, salah satu dari mereka kepergok penjaga yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Lalu penjaga tersebut berteriak agar teman-temannya segera datang dan menangkap anak buah Royan.


"Penyusup...ada penyusup masuk!"


Sekitar lima orang datang mengepung mereka, termasuk dua orang yang sedang makan juga ikut berlari kesana.

__ADS_1


Tapi sebelum berlari kesana mereka telah mengunci satu ruangan. Ruangan itu di curigai oleh Zero tempat menyekap Nayla dan abahnya.


Saat keduanya keluar mengepung anak buah Royan, Zero pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


Karena kunci ruangan itu mereka bawa, jadi salah satu cara untuk mengetahui apa ataupun siapa yang ada di dalam kamar tersebut adalah dengan cara menghilang yaitu memakai Rompi pemberian sistem.


Zero mengenakan rompinya, lalu dia menghilang dan masuk menembus tembok kamar tersebut.


Di dalam banyak peti, tapi tidak seorang pun terlihat di sana. Zero membuka salah satu peti dan ternyata isinya adalah berbagai minuman keras.


Kemudian dia membuka peti lainnya, isinya berbagai jenis senjata. Zero berjalan kesisi lain, dii sana terlihat sebuah peti yang agak berbeda bentuknya.


Karena penasaran, lalu Zero membukanya, ternyata isinya adalah berbagai bentuk alat untuk menghisap sabu atau biasa di sebut bong.


Zero membuka peti lainnya dan dia menemukan barang haram sabu berikut pil. Berarti tempat ini di gunakan untuk menyimpan barang yang akan di selundupkan maupun barang yang baru tiba di pelabuhan.


"Kalau di sini isinya hanya barang-barang, jadi abah dan mbak Nayla di sekap di mana ya, tapi saat aku lihat dengan terawangan sistem, emang benar ini tempatnya," monolog Zero.


Zero berpikir sejenak, apa dia harus menggunakan ilmu terawangnya lagi untuk mencari posisi di mana Nayla dan abah sekarang berada berada.


Saat dia hendak membuka peti satu lagi, kakinya seperti menginjak sesuatu, ternyata sebuah ponsel.


Lalu Zero mencoba menghidupkan ponsel tersebut tapi tidak bisa, mungkin karena baterainya lobet.

__ADS_1


Zero meletakkan ponsel itu kembali ke lantai sambil ingin membuka peti yang lain, ternyata Zero melihat sebuah lorong bawah tanah di dekat peti yang hanya di tutup dengan tumpukan peti kosong.


__ADS_2