SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 66. TIDAK MAU MENYERAH


__ADS_3

"Aku permisi ya Kak," pamit Zero sambil mengulurkan tangannya kepada Royan.


Royan pun mengangguk dan berkata, "Sering-seringlah bermain ke sini!"


"Pasti Kak," jawab Zero.


Ketika Zero membalikkan badan hendak pergi, Zeya menarik tangannya, "Hey...kamu pamit dengan Kakak, kenapa denganku tidak? Kamu pikir aku batu, disini!" ucap Zeya kesal karena merasa diabaikan oleh Zero.


"Aku nggak usah pamit denganmu, karena kamu pasti mengekoriku," ucap Zero dengan rasa percaya diri.


"Hahaha...ternyata selain pandai menghilang, kamu paranormal juga ya! hups..." ucap Zeya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia keceplosan dan berharap sang Kakak tidak menanyakan tentang ucapannya.


Zero membulatkan matanya, sambil berkata pelan seperti orang berbisik , "Awas! Jika sampai orang lain tahu, aku nggak mau temenan lagi sama kamu dan aku akan beri hukuman setimpal!"


"Maaf...aku nggak sengaja, aku janji nggak akan keceplosan lagi, please...aku temen kamu, jangan hukum aku ya!" mohon Zeya sambil mengatupkan kedua tangannya.


Royan yang melihat tingkah keduanya, berbicara berbisik-bisik hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, tapi dia senang melihat adiknya berteman dengan Zero, walaupun dia tahu pemuda itu hanyalah pemuda biasa dan berasal dari keluarga sederhana tapi dia yakin adiknya pasti akan bahagia jika bersamanya.


Zero terus melangkah pergi, sedangkan Zeya mengekorinya sambil berkata, "Tunggu dong teman, aku ikut! Aku ingin tahu dimana rumahmu dan aku juga 'kan ingin kenalan dengan keluargamu terutama dengan ibu. Aku jamin deh...ibumu pasti bakal suka denganku dan mungkin minta aku jadi anak mantunya," racau Zeya dengan percaya diri.

__ADS_1


Zero yang mendengar kalimat terakhir dari Zeya, langsung berbalik hingga membuat Zeya menabrak tubuhnya.


Kening Zeya menabrak dada Zero hingga diapun berkata, "Aduh! sakit tahu, kalau mau berhenti ngomong dong! jadi aku 'kan tidak menabrakmu," ucap Zeya sambil mengelus keningnya.


"Makanya! Punya mata itu, lihat-lihat, jangan mulut saja yang mengoceh, syukur masih nabrak aku, jika nabrak buaya, pasti bakal ditelan hidup-hidup."


"Kamu gitu amat sih! Ya sudah, biar nggak nabrak, begini saja," ucap Zeya sambil mengaitkan tangannya di lengan Zero.


"Apaan sih kamu! malu tahu! Tuh, anak buah Kakakmu memperhatikan kita," tunjuk Zero kepada anggota Royan yang berkumpul di halaman.


"Biarin! namanya mereka punya mata, kalau nggak mau mereka lihat kita, ajak pergi aku dengan ilmu menghilangmu," ucap Zeya sambil tersenyum lebar.


"Pelankan suaramu! Nanti mereka dengar."


"Terserah kamu deh! Aku nggak bakalan menang bicara denganmu," ucap Zero pasrah.


Sekarang Zero membiarkan saja, Zeya menggandeng lengannya hingga mereka tiba di luar pintu pagar.


"Oh ya, kita naik apa pergi ke rumah Kakak?" tanya Zeya penasaran, karena di depan Villa itu tentu saja tidak ada kenderaan umum yang lewat.

__ADS_1


"Jalan dan berlari!" ucap Zero sambil tersenyum penuh kemenangan. Zero yakin gadis itu pasti akan membatalkan niat untuk mengikutinya pulang ke rumah jika tidak naik kenderaan.


"Kak, aku ambil mobil dulu ya, Kakak tunggu disini! Jangan tinggalin aku. Capeklah! Jika kita harus berjalan kaki atau berlari, karena setahuku perkampungan pemulung lumayan jauh letaknya dari sini. Bisa-bisa besok pagi kita baru sampai rumah Kakak.


"Aku nggak mau naik mobil, aku nggak pandai nyetir dan aku nggak mau kamu jadi supirku," ucap Zero lagi hingga membuat Zeya bingung.


"Tapi, masa sih! kita harus jalan? Kakak yakin mau bawa aku jalan kaki?"


Zero pun mengangguk, sambil melanjutkan perjalanannya. Dia sangat berharap gadis ini akan menyerah.


Namun Zero salah, Zeya tetap pada pendiriannya, walaupun kini kaki Zeya lecet karena dia memakai sepatu bertumit, tapi Zeya tidak menyerah sedikitpun.


Zeya melepas kedua sepatunya, hingga dia berjalan tanpa alas kaki untuk mengurangi rasa sakit di kakinya.


Zero memperhatikan gadis itu, berjalan kepayahan sambil menyeringai menahan sakit, tapi Zeya tidak mengeluh sedikitpun.


Dia tetap semangat, bahkan terkadang Zeya menyembunyikan rasa sakitnya sambil bersiul dan bernyanyi-nyanyi kecil.


Zero sebenarnya iba, apalagi ketika melihat darah keluar dari jari kaki mulus milik Zeya.

__ADS_1


"Sudahlah! Kamu balik saja, telephone Kak Royan untuk menjemputmu. Kamu nggak akan tahan. Coba lihat kakimu, yang mulai berdarah. Apa kamu tidak takut jika nanti kakimu yang mulus itu jadi penuh luka? Jangan salahkan aku ya, aku tidak mau jika Kak Royan mu menyalahkanku nanti," ucap Zero.


"Tenang Kak! Nggak akan ada yang menyalahkan Kakak. Ini juga kakiku sendiri, ngapain orang lain musti marah. Demi bertemu calon mertua, nggak apa-apa deh...harus ada pengorbanan," ucap Zeya dengan senyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.


__ADS_2