
Zero berjalan melewati penjaga, dia ingin memberi sedikit pelajaran kepada mereka yang telah menolaknya untuk menjenguk Pak Arya hingga sampai beberapa kali.
"Rasain, aku sentil telinga kalian satu persatu," monolog Zero.
"Aduh! sakit dong telingaku!" ucap salah satu penjaga kepada temannya.
"Kenapa? memangnya ada apa dengan telingamu?"
"Kau sentil telingaku 'kan?"
"Jangan asal tuduh! Siapa juga yang menyentil telingamu?"
Keduanya pun kembali fokus melayani pengunjung, tapi lagi-lagi "Iih...bulu kudukku berdiri, lihatlah merinding semua. Aduh...kamu sentil telingaku, kenapa kamu balas, aku 'kan tidak melakukannya! Usil banget sih!"
"Bukan aku lho... aku juga nih, ada yang gerayangi tengkuk ku. Apa ada hantu di sini ya?"
"Begok banget lu! Mana mungkin ada hantu di siang bolong begini. Aduh siapa pula nih yang jambak rambutku."
"Hahaha...tuh beneran 'kan, kamu sih nggak percaya!"
Ketika mereka celingukan melihat kesana kesini, Zero mengambil buku dan pena yang ada di hadapan ke duanya lalu mengangkat dan menggoyang-goyangkan seperti layaknya buku dan pena itu terbang dengan sendirinya.
Melihat hal itu keduanya pun, berlari keluar ruangan sambil berteriak, "Haaantu!!!"
Karena panik mereka menabrak pengunjung yang mau masuk dan juga kenderaan yang terparkir di halaman hingga keduanya terjungkal ke tanah.
Zero tertawa terpingkal-pingkal, sambil menutup mulut, melihat kedua penjaga itu lari terbirit-birit, lalu dia berjalan masuk mengelilingi setiap sel tahanan.
Dengan kemampuan khusus menerawangnya, Zero melihat dalam cermin pusaran tersebut seorang pria paruh baya di kurung dalam sel yang sangat sempit dan gelap.
Setelah mendapatkan petunjuk, Zero terus berjalan mencari dan akhirnya diapun menemukan sel yang dimaksud.
Sel tikus atau sel isolasi diperuntukkan bagi para narapidana yang melanggar aturan tata tertib, maka tempatnya terpisah dari kamar napi yang lain. Sel ini dikenal dengan sel tikus karena hanya memiliki ukuran sekitar 1 x 2 meter saja. Dalam sel sempit itu tidak ada fasilitas lain selain kamar mandi.
__ADS_1
Zero menarik nafas dalam, saat melihat kondisi sel tersebut. Kemudian dia melepas rompinya, menyimpan kembali di dalam tas sebelum menemui Pak Arya.
Pak Arya yang mendengar suara langkah kaki mendekat segera membuka mata, dalam benaknya dia berpikir pastilah sipir penjara yang datang untuk menyiksa dirinya lagi.
Namun Pak Arya terkejut saat Zero mendekat sembari menghidupkan senter ponselnya.
"Siapa kamu?" tanya Pak Arya.
"Aku Zero Pak! Teman Seto."
"Bagaimana kamu bisa kemari? Ini ruang isolasi, nggak sembarangan orang bisa masuk, bahkan keluargaku sekalipun."
"Aku mengelabuhi penjaga Pak, aku penasaran ingin bertemu dan ngobrol banyak dengan Bapak."
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum sipir datang dan memergokimu. Aku nggak mau nyawamu terancam, cukup aku saja. Jika kamu ingin menolong, bawalah keluargaku pergi jauh. Kasihan mereka, biar anak dan istriku bisa hidup tenang."
"Mereka pasti tidak akan mau Pak, karena orang yang mereka sayangi masih tinggal di sini. Oh ya, Seto titip salam, dia sangat rindu dengan Bapak," ucap Zero.
"Sebenarnya kesalahan apa yang membuat Bapak di tahan disini? Aku bersama dengan teman dan seorang pengacara ingin membuka kasus Bapak lagi."
"Percuma Dek, mereka sangat kuat, lagipula keluargaku tidak punya uang untuk membayar pengacara. Mereka bisa makan dan menyewa rumah saja aku sudah sangat bersyukur."
"Bapak tidak boleh pesimis! Kami tengah berusaha menghubungi pengacara terkenal di kota ini, Mudah-mudahan beliau nanti bisa membantu Bapak."
"Mana mau jika tidak dibayar Dek? pasti mulutnya nanti bakal dibungkam oleh mereka."
"Mereka siapa Pak?"
"Orang-orangnya Royan."
"Royan itu siapa Pak?"
"Gembong mafia, usahanya meliputi perdagangan obat terlarang, perdagangan senjata, penjualan para wanita keluar negeri. Tapi dia pandai menutupinya dengan bisnisnya yang lain."
__ADS_1
"Maksud Bapak?"
"Royan punya bisnis beras, pengangkutan dan properti, di situlah dulu aku dan dia bekerjasama. Tapi setelah aku tahu dia menggunakan bisnis ini untuk menutupi bisnis ilegalnya, aku meminta mundur, karena aku tidak mau ikut terseret di dalamnya. Namun Royan tidak membiarkanku hidup tenang, dia menjebakku, hingga akhirnya aku dikurung di sini."
"Royan...., sepertinya aku pernah mendengar nama itu Pak, tapi siapa dan dimana ya?"
"Kamu tidak mungkin kenal Dek, dia jarang tampil di depan umum, cukup melalui telephone saja dia memberi perintah maka seluruh anggotanya langsung bergerak."
"Aku jadi penasaran Pak, memangnya seperti apa sih Royan itu, hingga semua orang takut dan menuruti perintahnya? Apa begitu seram dan memiliki ilmu beladiri yang hebat?"
"Sebenarnya tidak seram sih, bahkan dia masih sangat muda dan tampan, cuma dengan uangnya yang banyak dan kepintaran otak serta jaringan relasinya di luar negeri, Royan bisa membayar semua kekuatan dan kekuasaan yang ada. Jika kamu melihatnya pasti tidak bakal menyangka, kalau dia adalah seorang gembong mafia."
Zero mendengarkan cerita Pak Arya dengan cermat, dia sadar, ini kasus berat, menyangkut gembong mafia dan perdagangan ilegal keluar negeri. Tapi Zero tidak mau menyerah, dia pegang prinsip, sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu saat akan jatuh juga, nggak mungkin Royan tidak punya kelemahan. Zero akan mencari tahu siapa Royan dan mencari kelemahannya.
"Oh ya Pak, kenapa Bapak di tempatkan di sel tikus ini? Di sini sangat sempit, pengap dan kotor. Apa Bapak berusaha melawan sipir hingga mereka menempatkan Bapak di sini?"
"Ya, biasa lah Dek, Aku tidak memiliki kekuatan apapun di sini untuk melawan mereka, bahkan untuk melindungi anak istriku saja, aku tidak mampu. Sekarang aku manusia paling tidak berguna," ucap Pak Arya
sedih karena teringat anak istrinya yang hidup sengsara sejak dirinya di penjara. Ada air mata tertahan di pelupuk matanya yang terlihat sangat sayu.
"Pak, ini pertanyaanku terakhir, tolong beritahu aku di mana markas Royan terbesar yang menjadi inti usahanya itu dan terutama tempat tinggal Royan."
"Jangan membahayakan dirimu, mereka bukan tandinganmu Dek."
"Tolong Pak, bayangkan wajah Seto dan adiknya yang ingin memeluk dan berlindung di pelukan Bapak. Seto sejak umur lima tahun bekerja menjadi pemulung demi membantu Ibu dan membiayai sekolah adiknya, dia tidak pantas mendapatkan hidup yang seperti itu Pak!"
Sejenak Zero terdiam menahan sesak di dadanya, lalu berkata lagi, "Dia butuh hidup lebih layak, butuh pendidikan, butuh waktu bermain dan yang pasti butuh kasih sayang dan perlindungan dari ayah ibunya."
Perkataan Zero nyaris membuat hati Pak Arya Seto Wiguna tertohok, beliau terisak. Seorang ayah yang selama ini berusaha tegar, menyembunyikan tangis, hari ini di hadapan Zero tidak mampu lagi menutupi kepiluan hatinya.
Air mata Pak Wiguna tumpah, tangannya menggenggam erat tangan Zero seakan berharap bisa mendapatkan kekuatan.
Zero yang melihat pria paruh baya itu menangis, diapun tak kuasa membendung haru biru perasaannya. Dia membalas genggaman tangan Pak Arya sambil berkata, "Beri aku kesempatan Pak, aku ingin membuat Seto tersenyum saat dia melihat ayahnya keluar dari tempat ini."
__ADS_1