
"Kak...semua 'kan sudah pergi, coba Kak Zero terawang, sebenarnya Mama Kak Royan di sembunyikan di mana oleh mamaku. Aku harus segera membebaskan mama Ambar Kak, kasihan Kak Royan, dia sudah buru-buru pulang, eh...sampai sini mamanya menghilang lagi," ucap Zeya.
"Sebentar," ucap Zero sembari meninggalkan Zeya dan masuk ke dalam kamar yang telah Zeya siapkan khusus untuk Zero.
Zero duduk tenang di atas kasur, lalu dia mengeluarkan ponsel jadulnya, dengan konsentrasi penuh dia menggunakan kemampuan untuk menerawang, melihat kejadian menjelang kebakaran tersebut.
Sekarang di hadapannya muncul sebuah pusaran yang di dalamnya terdapat cermin yang menampillkan kilas balik kejadian.
Di sana terlihat, Mama Shena bersama lima orang anak buahnya masuk secara paksa ke rumah Mak Salmah, di mana mak dan Kiara sedang bersiap untuk memasak.
Mama Shena langsung mengancam jika emak tidak menunjukkan di mana keberadaan Ambar dan Riana, maka anak buahnya akan menggores wajah Kiara dengan Sutil panas.
Kiara memberi kode ke emak agar jangan mengatakan apapun, tapi keburu Bu Riana keluar dari kamar. Jadi akhirnya mereka tahu tentang keberadaan Bu Ambar.
Dua orang menyekap emak dan Kiara, lalu mereka membawa keduanya menuju kamar Zero serta mengikatnya di sana.
Sementara tiga orang lagi menggeledah kamar di mana tadi Bu Riana keluar. Dorong mendorong pintu kamar pun terjadi, antara ketiga anak buah Shena dengan Bu Riana. Pintu kamar jebol dan mereka menangkap keduanya membawa ke hadapan Shena.
Shena memerintahkan agar mengunci kamar di mana emak dan Kiara diikat, walaupun emak dan Kiara berusaha untuk lepas dari ikatannya tetap saja sia-sia.
Kemudian Shena dengan lantang berkata agar anak buahnya membakar rumah mak Salmah. Setelah menyulutkan api, mereka segera pergi meninggalkan emak dan Kiara di sana agar terbakar hidup-hidup.
Shena bersama anak buahnya membawa Bu Ambar dan Bu Riana ke tempat penyekapan yang berpuluh tahun mereka gunakan untuk mengurung Bu Ambar.
Setelah mendapatkan gambaran di mana mereka di sekap, Zero menghentikan terawangannya, lalu kembali keluar kamar untuk menemui Zeya dan menceritakan semuanya.
Namun Zero masih melarang Zeya untuk bertindak gegabah karena tempat itu di jaga ketat oleh banyak anak buah Shena. Saat ini mereka pasti lebih waspada, menjaga agar kejadian yang sama tidak terulang.
Royan yang baru saja kembali dari mengantar Nayla, mendapatkan telepon dari Shena. Shena mengundang Royan untuk datang ke tempat tinggalnya yaitu rumah almarhum Papa Royan.
Zeya yang mendengar suara mobil Royan sudah masuk pekarangan dan keluar lagi merasa heran, lalu dia segera menelepon sang Kakak ingin mengetahui apa yang terjadi dan kemana lagi Royan hendak pergi.
"Hallo Kak, Kakak mau kemana? tadi aku dengar kakak sudah sampai pekarangan kenapa keluar lagi?" tanya Zeya melalui ponselnya.
"Kamu istirahat saja Dek, kakak masih ada keperluan," ucap Royan yang tidak ingin Zeya ikut terlibat.
__ADS_1
"Aku ikut Kak! Kakak tidak boleh pergi sendiri, apa kakak mau pergi menemui mama?" tanya Zeya lagi.
"Bukan, Kakak ada urusan bisnis yang harus segera di selesaikan. Sudah dulu ya Dek, Kakak terburu-buru," ucap Royan sembari menutup ponselnya.
"Ini tidak boleh, Kak Royan tidak boleh pergi sendiri," monolog Zeya.
Zero yang mendengar Zeya berkata sendiri pun bertanya, "Ada apa Zey, kenapa Kak Royan?"
"Ayo Kak! Kita harus mengikuti Kak Royan, pasti dia akan menemui mama. Tapi sebelum pergi aku akan meninggalkan pesan dulu kepada Bibi agar emak dan Kak Kiara tidak cemas mencari kita. Kakak tunggu aku di luar ya, aku akan ambil kunci mobil dan menemui Bibi," ucap Zeya.
Zero pun menuruti perkataan Zeya, dia menunggu di dekat mobil sampai Zeya datang. Kemudian Zeya melajukan mobilnya, meninggalkan rumah Royan menuju rumah mamanya.
Setibanya Zeya dan Zero di sana, ternyata benar Zeya melihat mobil Royan ada di rumah itu.
Zeya tanpa takut masuk kedalam rumah dan dia melihat Sang mama sedang duduk berhadapan dengan Royan.
Shena kaget kenapa Zeya ikut datang ke sana, lalu dia berkata, "Tak kusangka, kamu pengecut, bahkan datang ke rumah papamu sendiri musti di kawal adikmu," cibir Shena.
Royan cuma diam mendapatkan sindiran seperti itu, tapi Zeya menjawab, "Aku pulang bukan karena di ajak Kak Roy, tapi aku mau lihat kelicikan seperti apalagi yang akan Mama perbuat."
"Dia kakakku! Mama tidak bisa pungkiri itu, darah yang mengalir di tubuh kami sama, darah Papa! Jadi jika Mama menyakiti Kak Royan berarti Mama menyakiti aku juga!"
"Hahaha...siapa bilang kalian memiliki darah yang sama. Pria yang kunikahi sudah loyo, mana mungkin dia bisa membuatku hamil! Dia terlalu bodoh, sama seperti Ambar dan juga kamu! terlalu mudah kalian di bohongi!" ucap Shena ketus sambil tertawa.
"Mama bohong! Kak Royan adalah Kakakku!" ucap Zeya sambil mendekati Royan.
"Kau anak bodoh, kemari! kita akan ambil semua harta mereka, setelah itu kita akan bersenang-senang, jalan-jalan keluar negeri sepuasnya. Cepat kemari!" Perintah Shena.
"Tidak, Mama bohong! Mama cuma ingin menyakiti kami saja. Aku dan kak Royan adalah kakak beradik dan aku tidak akan pernah mengkhianati kakakku. Sekarang juga Mama beritahu dimana Mama Ambar! atau sebentar lagi polisi akan datang untuk menangkap Mama!" ucap Zeya.
"Coba saja kalian panggil polisi, dengan sekali telepon, Ambar akan segera menyusul suami bodohnya itu ke neraka!" ancam Shena.
"Kamu diam dan duduk tenang Dek, biar Kak Roy yang akan menyelesaikan semuanya," ucap Royan.
Zeya pun menuruti perkataan Royan, dia mundur mensejajarkan dirinya dengan Zero yang masih diam saja.
__ADS_1
Kemudian Royan berkata, "Sekarang mau Mama apa? agar mamaku bisa bebas. Aku akan penuhi semua permintaan mama, asalkan aku.bisa bersama lagi dengan mamaku," ucap Royan dengan tenang.
"Aku mau semua harta kalian, perusahaan dan juga rumahmu. Terutama, deposito yang orang bodoh itu wariskan untuk istri gilanya!"
"Baiklah! Aku akan penuhi semua permintaan Mama. Aku akan meminta pengacaraku untuk mempersiapkan semua berkasnya, tapi tolong lepaskan dan jangan sakiti mamaku lagi," pinta Royan.
"Tapi Kak!" ucapan Zeya terhenti saat tangan Royan terangkat ke atas mencegah Zeya berbicara.
"Aku tunggu kabar secepatnya, kamu serahkan surat-surat itu, baru aku akan lepaskan wanita gila itu!"
"Tapi ingat Ma! Jika mamaku terluka sedikit saja, jangan harap aku akan menuruti permintaan mama!" ucap Royan sambil berbalik, hendak pergi dari tempat itu.
"Kak tunggu! Aku ikut, aku tidak mau tinggal dengan wanita jahat dan kejam seperti dia!" ucap Zeya sambil berlari mengejar Royan yang sudah di ambang pintu keluar.
Zero pun mengikuti Zeya dan Royan, dia bertekad dalam hati harus menyelamatkan Bu Ambar dan menggagalkan rencana Shena untuk menguasai semua harta Royan. Tidak adil rasanya bagi keluarga Royan yang berpuluh tahun terus saja ditindas oleh Shena.
Mampir yuk sobat dan beri dukungannya juga di karya sahabatku ini ya. Terimakasih πβ₯οΈ
BLURB KARYA ( PROMO TERAKHIR)
Karena pengkhiatan istrinya, Axel terluka, hingga luka itu mendarah daging. Memperegoki istrinya yang tengah bercinta dengan sahabatnya sendiri. Tak cukup sampai disitu, Hanna yang merupakan istrinya harus pergi selama-lamanya akibat perkelahian antar suami dan selingkuhannya.
Berimbas, Axel yang menjadi tersangka akan pembunuhan yang dilakukan sahabatnya sendiri. Axel mendekam selama 15 tahun di penjara. Saat terbebas, ia akan membalaskan dendamnya pada sahabat sekaligus pembunuh yang sebenarnya. Hasil dari perselingkuhan, hadirlah sosok wanita cantik yang menjadi incaran Axel untuk membalaskan dendamnya.
RANJANG PENGKHIANTAN (balas dendam)
__ADS_1
