SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 144. MENDISKUSIKAN RENCANA USAHA BARU


__ADS_3

"Mobil pesanan kita sudah dikirim atau belum Bang?" tanya Zero.


"Sudah Bos, tadi pihak dealer konfirmasi ke aku bahwa unit sudah sampai."


"Besok sore aku mau mulai belajar nyetir, apa abang sudah konfirmasi ke bang Beni?" tanya Zero.


"Sudah Bos, tapi nanti aku konfirmasi lagi, mana tahu dia lupa," ucap Bang Togar.


Itu mobil siapa Ben? Nanti kamu salah rumah? Bukankah Zero tidak punya mobil?" tanya emak.


"Alamatnya benar kok Mak, nggak mungkin aku salah," ucap Beni.


"Iya benar kok Mak, itu kan pelayan yang kemaren membantu kita menyusun barang," ucap Kiara.


"Ini mobil baru Mak dan flatnya belum ada", ucap Beni yang memastikan dengan turun dari mobil untuk melihatnya.


Pelayan yang melihat kedatangan keluarga majikannya, mereka segera menyambutnya dengan membantu membawakan barang-barang.


"Mobil baru itu punya siapa ya Bik? memangnya ada tamu Bik," tanya emak.


"Nggak kok Mak, mobil tersebut baru dikirim oleh pihak showroom, punya Den Zero kata mereka."


"Zero beli mobil?" ucap Emak masih tidak percaya.


Saat melihat Zero tiba, Mak pun langsung mendekatinya dan bertanya, "Ro...ini mobil siapa?"


"Mobilku Mak, untuk fasilitas kerja," ucap Zero.


"Siapapun boleh menggunakannya Mak, jika untuk keperluan yang penting," ucap Zero lagi.

__ADS_1


"Mengapa bos kamu royal banget Ro? Apa kamu tidak takut terutang Budi?" tanya emak.


"Nggak apa-apa Mak, selagi aku bekerja, toh wajar Bos memfasilitasi aku," ucap Zero.


"Ayo Mak kita masuk! Kasihan tuh Bu Ambar dan Bu Riana kelamaan menunggu di luar," ajak Zero.


Kemudian Zero pun mempersilahkan semuanya untuk masuk. lalu Zero meminta Kak Kiara untuk menunjukkan kamar buat Bu Ambar dan Bu Riana.


Setelah itu Zero meminta pelayanan untuk menyiapkan makanan ringan serta minuman. Saat ini Zero ingin membicarakan masalah pembangunan perkampungan pemulung bersama Bang Togar dan Bang Beni.


"Bang...bagaimana pembangunan di perkampunganku," tanya Zero.


"Alhamdulillah lancar Dek, sudah berjalan 50%," ucap Bang Beni.


"Oh ya Bang, bekas rumah kami yang terbakar, aku ingin mendirikan mushollah di sana. Jadi para warga nantinya tidak perlu sholat di kampung sebelah," ucap Zero.


"Ide bagus itu Dek, besok kami akan bicarakan hal itu dengan Franky," ucap Beni.


"Oh ya Bang, aku ingin membuka usaha yang bisa merekrut tenaga kerja para warga di sekitar kita, kira-kira usaha apa yang cocok ya Bang," tanya Zero kepada Togar dan Beni.


"Begini Dek, mata pencaharian warga di sekitar kita 'kan memulung, jadi apa kita buat saja usaha pendaur ulangan barang-barang bekas," ide Togar.


"Bagus juga itu Bang. Begini saja, aku akan sediakan dana dan coba Abang kelola dana tersebut untuk membuka pendaur ulangan barang-barang bekas. Pokoknya, usaha ini aku percayakan kepada Bang Togar karena aku tidak bisa fokus di sana, seperti Abang berdua tahu, perkuliahan sebentar lagi akan dimulai. Kalau ide Bang Beni sendiri bagaimana? kira-kira usaha apa lagi yang cocok ya Bang?" tanya Zero kepada Beni.


Menurut Abang, kenapa tidak dimanfaatkan jurusan yang Dek Zero ambil yaitu bidang elektro, jadi dengan kata lain membuka usaha jasa perbaikan alat-alat elektronik," ucap Bang Beni.


"Para warga bisa memakai jasa kita untuk memperbaiki alat-alat elektronik di rumah mereka yang rusak dan para pemulung juga bisa memanfaatkan jasa kita untuk menservis kembali barang-barang elektronik bekas yang mereka dapatkan dari hasil mulung, hingga nantinya bisa dijual di pasaran


dengan nilai lebih tinggi," ucap Beni lagi.

__ADS_1


"Ide bagus Bang, jadi tugas Bang Beni sekarang adalah mencari teknisi yang mau bekerja dengan kita. Untuk tahap awal, rekrutlah dua orang dulu Bang, nanti jika pelanggan kita sudah banyak barulah kita rekrut tambahan teknisi lagi," ucap Zero.


Zero pun terdiam sejenak, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Mengenai tempatnya, nanti kita cari sama-sama, menurutku kita membuka usaha ini di sekitar perkampungan pemulung saja, jika nanti berjalan lancar barulah kita melebarkan sayap."


Iya dek jadi tempatnya kita menyewa saja dulu dek jika sudah mapan baru kita beli lahan," ucap Beni.


Oke Bang Ben saya setuju. ucap Zero.


"Oh ya Bang Togar, untuk usaha daur ulang, coba Abang cari dan rekrut orang yang berpengalam dalam bidang tersebut, sehingga kita tahu, alat-alat apa atau mesin apa yang kita butuhkan untuk awal mula usaha," ucap Zero lagi.


"Oke dek, Abang punya teman yang bekerja di pabrik daur ulang botol bekas, kita bisa konsultasi atau tukar pikiran dengannya. Jika dia bersedia bekerja dengan kita, itu lebih baik. Jika tidak, ya kita mohon bimbingannya saja," ucap Bang Togar.


"Besok... mulailah tugas Abang masing-masing. Mengenai pengawasan pembangunan perkampungan, aku akan meminta tolong anggota Bang Royan untuk membantu di sana. Jadi Abang berdua bisa lebih fokus dalam usaha baru kita," pinta Zero.


"Jika rasanya susah memulai dari awal, Abang boleh membeli perusahaan yang sudah jadi dan bergerak dalam bidang yang mau kita gelutin ini. Jadi, kita hanya tinggal meneruskan dan mengembangkannya saja. Semua aku serahkan ke Abang berdua untuk menentukan pilihan yang terbaik," ucap Zero lagi.


"Baiklah Dek, besok kami akan survei lapangan dulu di mana cocoknya usaha ini akan kita jalankan, setelah itu baru kami akan rincikan anggaran dana yang kita butuhkan untuk membangun usaha tersebut, jadi Dek Zero bisa mempertimbangkan apakah usaha itu bisa kita laksanakan atau tidak," ucap Bang Beni.


Jika kita berhasil dengan dua usaha ini, aku akan tambah usaha lain lagi dengan merekrut para tenaga kerja wanita. Untuk menanggung jawabi usaha ini, aku rasa kita bisa andalkan Kak Kiara dan istri Abang berdua.


"Tujuan utama ku dari mendirikan usaha-usaha ini adalah, untuk mengurangi angka pengangguran, jadi suami istri bisa memiliki penghasilan sendiri-sendiri dan anak-anak mereka yang kreatif juga bisa bekerja paruh waktu sepulang sekolah," ucap Zero.


"Terima kasih Dek, kamu sudah percaya dengan kami. Kami janji akan bekerja sebaik mungkin demi kemajuan kampung kita dan bersama-sama kita akan mengentaskan kemiskinan," ucap Bang Togar.


"Oh ya Dek, pembangunan sekolah juga sudah mulai dilakukan, mudah-mudahan ke depannya tidak ada lagi anak-anak yang buta huruf atau tidak bersekolah, terutama anak-anak para pemulung karena mereka akan mendapatkan pendidikan secara gratis," ucap Bang Beni.


"Itulah yang aku harapkan Bang, kita dan seluruh warga kampung bisa hidup makmur tapi dengan syarat harus saling bantu, dengan cara bahu membahu," ucap Zero.


"Baiklah Dek, jika tidak ada lagi yang bisa kami kerjakan di sini, kami pamit dulu, biar segera bisa menghubungi orang-orang yang berkompeten di bidang usaha yang akan kita dirikan dan geluti nanti," ucap Beni.

__ADS_1


__ADS_2