SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 122. PURA-PURA TIDAK TAHU


__ADS_3

"Tapi...aku tidak mungkin pulang membawa ini, aku harus menjual dulu hasil mulungku, nggak mungkin 'kan aku ke rumah Kak Royan dengan karungku yang penuh barang-barang," monolog Zero.


Sambil menyandang karung di pundaknya, Zero terus berjalan mencari tempat penampungan barang bekas.


Namun sudah jauh melangkah, tempat itu tidak juga Zero temukan, maklumlah namanya komplek yang isinya rata-rata perumahan mewah, mungkin saja tidak di perbolehkan agen barang bekas membuka usaha di tempat seperti itu.


Untuk menghemat waktu yang sudah kian mendesak, akhirnya Zero mengenakan rompinya dan berlari seperti kilat untuk pergi ke tempat penjualan barang bekas yang ada di sekitar pasar.


Zeya hanya ternganga melihat Zero menghilang setelah mengenakan rompi, dari apa yang sedari tadi Zeya lihat, akhirnya dia semakin banyak tahu tentang rahasia yang selama ini Zero simpan dari siapapun.


Akhirnya Zeya memutuskan untuk kembali, karena dia tidak akan mungkin mencari dan mengejar Zero yang telah pergi, menghilang seperti hantu. Dia yakin, Zero akan segera kembali.


Zero sudah menemukan tempat yang di maksud, tapi di sana dia melihat seorang pria paruh baya yang kedua kakinya puntung sampai dengan sebatas lutut, sedang menunggu antrian untuk menjual barang.


Tanpa menunggu lagi, Zero ke barisan paling depan, membeli sebuah karung bekas dan menuangkan hasil mulungnya ke karung yang baru saja dia beli, lalu Zero kembali ke antrian paling belakang dan menyerahkan karung tersebut kepada sang Bapak yang cacat.


Kemudian Zero berkata sambil menyelipkan selembar Cek ke dalam kantong sang Bapak sambil berkata, "Ini...di dalamnya ada uang untuk Bapak dan keluarga, pergunakanlah Pak untuk hal yang bermanfaat demi hari tua Bapak," ucap Zero, sembari tersenyum dan pergi dari tempat itu.


Belum sempat sang Bapak berterimakasih, Zero sudah pergi dari tempat itu.


Tangan sang Bapak gemetar, saat beliau mengambil sehelai kertas yang tadi Zero selipkan di kantongnya.


Beliau mengucek mata, tidak percaya dan seperti mimpi, jika saat ini di tangannya ada uang senilai 1M. Tanpa menunggu lagi sang bapak cacat itu menitipkan barangnya, lalu dia bermaksud pergi ke Bank untuk menanyakan tentang keaslian cek tersebut.

__ADS_1


Zero melenggang pergi, dia sudah menjalankan satu tugasnya dan kini tinggal 9 lembar cek yang masih harus dia salurkan. Tapi saat ini dia memutuskan untuk kembali pulang dulu ke rumah Royan.


Zeya pura-pura sibuk dengan ponselnya, saat melihat Zero masuk. Walaupun Zeya sebenarnya penasaran, tapi dirinya tidak berhak untuk terlalu ikut campur dengan urusan Zero.


Sementara Zero yang melihat Zeya duduk di ruang tengah segera menghampiri dan bertanya, "Kenapa kamu malah di sini Zey? dan mengapa tidak istirahat saja di kamar. Masih ada waktu 30 menit lagi kok, jadi masih bisa jika kamu ingin tidur sejenak," ucap Zero.


"Nggak ngantuk Kak, lah...kak Zero sendiri darimana? sudah tahu masih sakit kok malah berkeliaran," timpal Zeya.


"Aku juga nggak mengantuk, ya sudah, aku putuskan jalan-jalan keluar daripada di dalam cuma bengong," ucap Zero lagi.


"Kalau gitu, lebih baik kita berangkat sekarang saja Kak! Jadi kita di sana bisa lebih puas melihat-lihat, siapa tahu kakak berubah pikiran dalam menentukan pilihan rumah mana yang mau kakak beli," ucap Zeya.


"Boleh juga ide kamu Zey, ya sudah ayolah bersiap," ajak Zero.


"Iya, aku juga mau ganti pakaian dulu," ucap Zero sambil berjalan kembali ke kamar.


Setelah bersiap, Zero menyempatkan diri melihat laporan SMS banking di ponselnya, di sana terlihat ada saldo masuk 1 Triliun kedalam rekeningnya dan total saldo uangnya sekarang berjumlah Rp.1.008.618.900.000,-


Pemuda miskin yang hanya berprofesi sebagai pemulung kini menjadi seorang konglomerat muda.


Saat Zero sedang memikirkan akan melakukan apa dengan uang itu setelah membeli rumah, terdengar lah suara ketukan pintu.


Ternyata Zeya yang datang dan siap untuk berangkat. Kemudian mereka berdua pamit kepada emak dan juga Royan.

__ADS_1


Zeya mengemudikan mobilnya menuju kompleks Perumahan Puri Indah sesuai instruksi dari Zero.


Dalam perjalanan itu Zeya pun bertanya, "Kapan Kak Zero akan belajar mobil? Bukankan sebentar lagi Kak Zero akan kuliah, sambil menangani proyek dari kak Royan. Jika kemana-mana kakak jalan atau naik angkot, tentu saja tidak efisien dan kurang efektif," ucap Zeya.


"Iya, aku tahu Zey!" ucap Zero.


'Setelah aku mendirikan sekolah di perkampungan pemulung dan membuka usaha rakit merakit alat-alat elektronik sesuai keahlian ku, Insyaallah baru aku pikirkan untuk membeli mobil," ucap Zero.


Saat ini aku masih nyaman kemana-mana jalan dan naik


angkot Zey. Jadi kebutuhan mobil bagiku bukanlah hal pokok, apalagi sekarang, aku sudah punya sopir pribadi, jadi untuk apa lagi.


"Enak saja kak Zero! masa aku dibilang sopir pribadi sih!" ucap Zeya pura-pura ngambek.


Zero pun tertawa melihat Zeya ngambek, dan tanpa terasa, ternyata mereka sudah masuk ke dalam kompleks perumahan Puri Indah.


Di sana Zero dan Zeya disambut baik oleh karyawan bagian pemasaran. Setelah Zero memperkenalkan diri, karyawan tersebut segera tahu jika Zero sudah membuat janji dengan manajer mereka.


Karyawan itupun segera menghubungi manajernya, tidak berapa lama manajer tersebut sudah ada di hadapan Zero.


"Selamat siang Pak!" sapa sang manajer.


"Tolong panggil Zero saja Pak, saya masih pelajar dan baru mau tes ujian masuk perguruan tinggi," ucap Zero.

__ADS_1


"Tapi saya salut melihat adek, masih muda sudah mampu membeli rumah mewah di sini. Selamat bergabung dalam keluarga besar kompleks Puri Indah ya Dek. Mari ikut saya ke atas, kita akan mulai penandatanganan surat jual belinya sekaligus Dek Zero bisa melihat bagaimana suasana atau pemandangan kompleks ini jika dilihat dari ketinggian," ucap sang manajer.


__ADS_2