SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 41. RASA PENASARAN AKAN IDENTITAS DONATUR


__ADS_3

Zero puas dengan pekerjaan mereka hari ini, lalu dia mengajak Bang Togar untuk pulang. Dia masih was-was meninggalkan emak, istri Togar juga Kiara di rumah tanpa penjagaan seorang pria. Menurutnya, kapan saja anak buah Bang Beni bisa saja menemukan dan menyakiti mereka.


Sesampainya di rumah, Zero dan Togar merasa lega, melihat para wanita aman dan menyambut kepulangan mereka.


Emak meminta keduanya untuk membersihkan diri lalu beristirahat, sementara Kiara dan Zeni, panggilan kesayangan Togar untuk istrinya segera memasak makanan untuk makan malam mereka nanti.


Zero dan Bang Togar yang sudah selesai mandi dan berpakaian santai, lalu memilih duduk di teras rumah, beristirahat sambil menyaksikan matahari yang mulai lengser ke arah barat.


Mereka pun ngobrol tentang rencana besok. Kemudian Zero berkata, "Bang...kita harus punya kendaraan untuk memudahkan langkah kita selanjutnya, nggak mungkin 'kan kemana-mana kita terus naik angkot."


"Benar juga Dek, tapi Abang nggak punya uang untuk membeli motor, jika kredit bisa sih. Namun melalui proses survey tempat tinggal, dan juga penghasilan, sedangkan sekarang Abang masih pengangguran, nggak bakal di terima Dek pengajuan kredit motornya."


"Kita beli kontan saja besok Bang. Pergunakan dulu sebagian uang yang buat mengurus kasus Pak Arya, toh donatur pasti tidak keberatan, karena memang untuk memperlancar urusan kita."


"Sebenarnya siapa orang yang mendanai kita Dek? Abang jadi penasaran?" tanya Togar.


"Maaf Bang, aku sudah janji untuk menutup identitasnya. Kita kerjakan saja kebaikan ya Bang, karena itu amanahnya."


"Baiklah Dek, Abang manut saja."


"Besok pagi aku ke Bank dulu, lalu kita ke dealer, selanjutnya ke rumah Ahmad ya Bang. Sudah beberapa hari aku tidak kesana, mungkin saja uang belanja mereka sudah habis, Ahmad 'kan belum ku perbolehkan jualan Bang! takut nanti di ganggu lagi sama anak buah Bang Beni, lagipula ibunya juga belum sembuh."


"Oh iya, Abang juga kangen dengan bocah itu. Bocah yang telah membuat Abang sadar Dek. Bocah cacat saja bisa berjuang menghasilkan uang halal, masa Abang yang sehat dan kekar ini kerjanya dari dulu cuma makan hasil keringat orang lain."


"Sudah Bang, jangan diingat lagi, yang penting sekarang dan kedepannya kita sama-sama terus berusaha, berbuat kebaikan untuk sesama, terutama untuk orang-orang disekitar lingkungan kita.

__ADS_1


"Kamu benar Dek," ucap Togar.


"Ayo Bang kita masuk, sebentar lagi maghrib," ajak Zero.


Merekapun kembali ke dalam rumah, lalu bersiap diri untuk menjalankan ibadah, setelah itu berkumpul di ruang keluarga untuk makan malam bersama.


"Hem...enak sekali, masakan siapa nih?" tanya Togar.


"Masakan Dek Kiara Bang. Ternyata Dek Kiara pernah jadi koki hotel di daerahnya."


"Ah... Kak Zeni bisa saja, ini toh hasil masakan kita bersama," ucap Kiara dengan malu.


"Serius, enak!" ucap Emak.


Emak yang lidah tua saja bisa merasakan kelezatan dari masakan itu, apalagi yang lain. Semua pun makan dengan tenang hingga hidangan hampir habis.


Emak yang ingin membantu dilarang oleh keduanya. Emak hanya diminta duduk manis sambil menonton televisi.


Sejak kedua wanita itu tinggal di sana, Emak tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan rumah lagi.


Sekarang Emak merasa telah memiliki anak perempuan yang bisa mengurus dan menjaga emak setiap saat di penghujung usianya.


Selesai mengerjakan semuanya, mereka lalu ngobrol banyak hal bersama Emak, Zero dan juga Togar.


Emak dan Zero meminta Togar dan Zeni untuk tetap tinggal bersama, lusa Zero akan usahakan mencari rumah yang lebih besar serta aman untuk mereka tinggal, jauh dari lalu lalang orang. Karena Zero masih khawatir akan anak buah Bang Beni yang masih berkeliaran.

__ADS_1


Malam kian larut, merekapun memutuskan untuk beristirahat. Emak meminta Kiara tidur bersamanya, sementara Zero memberikan kamar pribadinya untuk Togar beserta istri dan dia memilih tidur di ruang tamu. Lusa rencananya Zero akan mencari rumah yang memiliki 4 kamar tidur.


Pagi pun tiba, mereka menjalankan aktivitas seperti biasa, setelah itu Zero dan Togar pamit kepada semua.


Namun sebelumnya, mereka berpesan, agar jangan keluar rumah dulu karena menurut prediksi Zero dan Bang Togar, Bos misterius itu pasti sedang marah besar sekarang, kemungkinan mengerahkan kekuatan yang ada untuk mencari Togar dan istri. Mengenai stok makanan, nanti sore Zero dan Bang Togar pulang sekalian belanja.


Zeni dan Kiara tahu akan kekhawatiran Zero dan Togar, tapi emak tidak takut, beliau sudah tinggal di perkampungan pemulung ini sejak Zero belum ada dan beliau pasrah andai nasib buruk menimpanya itu pasti jalan yang sudah ditentukan Allah untuknya.


Zero dan Togar pun naik angkot, mereka menuju ke Bank. Setelah tiba di sana, Zero segera masuk ke dalam untuk mengambil nomor antrian.


Syukurnya dia mendapat nomor antrian satu jadi tidak perlu menunggu lama. Sementara Zero sibuk dengan urusannya, Togar memilih ngobrol diluar bersama security yang bertugas pagi ini sambil menunggu Zero menyelesaikan urusannya.


Zero terlebih dahulu menuliskan jumlah uang yang akan diambilnya pada slip pengambilan. Dia menuliskan angka 50 juta rupiah, karena hari ini Zero akan membeli sepeda motor, memberi uang belanja untuk keluarga Ahmad, memberi uang saku Bang Togar serta istri serta memberi Emak dan juga Kiara untuk keperluan mereka bersama.


Setelah nomor antrian satu dipanggil, Zero pun maju ke meja kasir dan menyerahkan buku tabungan serta slip pengambilan yang sudah di tulisnya.


Mbak kasir pun yang masih tanda dengan wajah Zero tersenyum. Kali ini dia merasa heran, kenapa Zero terlihat lebih tinggi dan lebih keren daripada sebelumnya. Zero tidak kesulitan lagi dalam menjangkau tingginya meja kasir seperti saat sebelumnya.


Keterkejutannya pun bertambah, saat dia melihat slip pengambilan yang ada ditangannya, tertera di sana nilai yang besar, padahal seingatnya sisa tabungan Zero terakhir datang sangatlah minim.


Namun mbak kasir tetap bersikap profesional, dia tidak banyak bertanya, lalu dengan cekatan jarinya menari di atas papan keyboard untuk mengecek jumlah saldo yang ada di rekening Zero saat ini.


Mata mbak kasir membulat, mulutnya ternganga saat dia melihat jumlah saldo yang dimiliki oleh Zero saat ini.


Kemudian Mbak kasir memakai kacamata, mengulang kembali kerjanya, karena dia takut ada kesalahan dengan sistem komputer atau memang matanya yang sudah mulai rabun. Dan ternyata terlihat di layar monitor masih jumlah yang sama.

__ADS_1


Dia tidak menyangka, pemuda kerdil bernama Zero, yang beberapa hari lalu terlihat miskin dan kumuh ternyata sekarang menjadi orang kaya dan menjadi salah satu nasabah yang memiliki jumlah saldo terbesar di dalam bank mereka.


__ADS_2