SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 81. BERTARUH


__ADS_3

"Assalamualaikum Mak," sapa Zeya.


"Wa'alaikumsalam," jawab emak, lalu mempersilakan Zeya untuk masuk ke dalam rumah.


Saat mereka hendak masuk Bang Togar, Bang Beni beserta para istri, Kiara dan juga anak Bang Beni pun sampai.


"Eh...ada Dek Zeya rupanya," ucap Kiara.


"Iya Kak, darimana Kakak dan para Abang nih?" tanya Zeya.


"Kami dari rumah Bang Beni dan Bang Togar membereskan barang, besok mereka akan pindah di sekitar sini," jawab Kiara.


"Memangnya sudah dapat rumah kontrakannya Bang?" tanya Zero.


"Sudah, tidak jauh dari sini ada rumah kontrakan dua pintu yang kebetulan kosong, baru dua hari lalu yang ngontrak pindah," jawab Bang Beni.


"Emak bakal kesepian lagi dong!" seru Mak Salmah.


"Kami nanti bakalan sering main kesini kok Mak," ucap Bang Togar.


"Iya Mak, kami bakal tetap main kesini," ucap Beni dan istrinya.


"Itu motor baru siapa Dek?" tanya Kiara kepada Zero.


"Untuk kita semua Kak, buat fasilitas usaha, bukankah Kak Kiara dan istri Bang Togar sudah mulai usaha dagang makanan online, jadi motor itu bisa kalian gunakan saat Bang Togar tidak di rumah. Sebentar lagi proyek pembangunan di sini akan di mulai, pasti Bang Togar ikut sibuk membantu kami."


"Terimakasih ya Dek, sudah susah payah bantu mikirin usaha kami," ucap Kiara dan istri Bang Togar secara bersamaan.


Zero pun mengangguk, kemudian dia berkata, "Oh ya Bang, besok kami ada meeting tentang rencana pembangunan di kampung kita ini, aku harap Abang berdua ikut dan lusa kita bisa melanjutkan pembicaraan dengan Pak Lurah untuk teknis pelaksanaannya."


"Iya Bang, Abang berdua bisa membantu kami mengawasi para pekerja nantinya," ucap Zeya.


"Iya Dek, kami akan bantu semampu kami. Kita sama-sama berbuat yang terbaik untuk kemajuan kampung kita ini."

__ADS_1


"Oh ya Dek, operasi Ahmad kapan akan dilaksanakan?" tanya Togar.


"Lusa Bang, tadi dokter sudah menghubungiku. Besok hari terakhir ujian Bang, sepulang sekolah kita ke rumah Ahmad ya Bang!" ajak Zero.


"Iya Dek, apa aku jemput kamu dulu di sekolah, baru kita bersama-sama kesana?" tanya Togar.


"Bang Togar dan Bang Beni langsung ke rumah Ahmad saja, biar aku nyusul naik angkot dari sekolah."


"Memangnya siapa Ahmad Kak?" tanya Zeya.


Zero pun menceritakan tentang Ahmad kepada Zeya, hingga membuat Zeya turut prihatin dengan nasib serta kondisi fisik Ahmad.


"Begini saja, Kak Zero biar aku yang jemput ke sekolah, aku ikut ke rumah Ahmad, bukankah sore harinya kita akan meeting, jadi setelah dari rumah Ahmad kita bisa langsung ke kantor Kak Royan. Aku juga ingin berkenalan dengan Ahmad dan keluarganya," ucap Zeya.


"Boleh juga tawaranmu, baiklah aku setuju," ucap Zero.


"Dari tadi tamunya tidak di buatin minum Ro?" ucap Emak.


Zero yang mendengar ucapan Zeya mencebikkan bibir sambil berkata, "Siapa juga yang mau terima kamu jadi anak, ya 'kan Mak?"


"Kamu Ro, biarlah jika Zeya mau jadi anak menantu Emak. Biar ramai rumah ini," bela Mak Salmah.


"Ah...Emak, aku nggak mau buru-buru menikah, lagipula dia bukan tipe gadis idamanku lho Mak!" ucap Zero hingga membuat Zeya sedikit kesal.


"Memangnya kurang Nak Zeya apa Ro? Dia 'kan gadis yang baik, cantik dan ramah, kita semua setuju 'kan?" tanya emak kepada semua yang ada di sana.


"Iya Dek, kami semua setuju jika kamu dengan Dek Zeya," ucap Togar diikuti oleh anggukan dari yang lain.


Pembelaan dan persetujuan Mak Salmah dan yang lain membuat Zeya tersenyum, pipinya bersemu kemerahan, dia senang sekaligus malu. Zero yang melihat hal itu lalu berkata, "Jangan senang dulu! Aku 'kan belum mengatakan setuju dengan penilaian mereka," ucap Zero sambil meneguk minuman yang dibawa Kiara untuk Zeya.


"Lho Dek, itu buat Dek Zeya! Kenapa kamu yang minum?"


"Nggak apa-apa Kak! Nanti aku ambil sendiri ke dapur jika haus," ucap Zeya.

__ADS_1


"Iya Kak, ngapain juga dilayani jika dia sudah merasa bagian dari keluarga kita," ucap Zero sambil kembali meminum teh yang telah di buat oleh Kiara untuk Zeya.


"Ro...jangan seperti itu dengan Nak Zeya! Nanti jika ada pemuda lain yang mendekati, jatuh cinta sama dia dan Nak Zeya menerimanya kamu bakal menyesal," ucap Mak Salmah.


"Silakan saja, jika Zeya mau, toh kami tidak ada hubungan apapun," ucap Zero yang masih cuek.


"Beneran nih? Kak Zero Nggak bakalan nyesel? Ya sudah, ntar kalau ada lelaki baik yang datang mendekat, aku terima saja Mak jadi pacar," balas Zeya, lalu dia pamit ke dapur untuk mengambil minum.


"Aku juga mau ambil air minum lagi, masih haus Mak," ucap Zero yang menyusul Zeya ke dapur.


Semua yang ada di sana tersenyum sembari menggelengkan kepala. Mereka semua bisa melihat jika Zero masih gengsi untuk mengakui jika dia sebenarnya juga tertarik terhadap Zeya.


Sementara di dapur, Zeya sedang membuat teh untuk dirinya saat Zero datang mendekat.


"Memangnya kamu bisa membuat teh?" tanya Zero.


"Kak Zero terlalu menyepelekan kemampuanku. Bukan hanya membuat teh, memasak juga aku pandai Kak! Bilang saja Kakak mau minta aku buatin, sini gelas Kakak! Biar sekalian aku buatkan tehnya," ucap Zeya sembari mengambil gelas dari tangan Zero.


"Mana mungkin gadis manja seperti mu bisa memasak! Aku berani bertaruh bahkan potong telinga jika memang kamu bisa memasak yang enak seperti masakan emakku," tantang Zero.


"Boleh, dengan senang hati aku berani bertaruh. Nggak usah potong telinga, taruhan kita adalah jika aku yang menang, Kakak harus bersedia menjadi pacarku dan mengumumkan kepada mereka tapi jika aku kalah, aku akan menjauhi Kakak dan selamanya tidak akan mengharapkan cinta Kak Zero lagi. Sebagai jurinya mereka semua termasuk emak dan kita minta tetangga untuk ikut mencicipi hasil masakanku nanti. Bagaimana? Kakak setuju?" tantang Zeya dengan yakin jika dirinya pasti menang.


"Deal! Baiklah, aku setuju. Mengenai masakan yang harus kamu buat ada tiga macam, pertama sesuai pilihanku, kedua terserah pilihanmu dan yang ketiga pilihan mereka," ucap Zero yang penuh keyakinan bahwa Zeya akan mundur dari tantangan tersebut.


Zeya mengulurkan tangan, bahwa mereka sepakat dengan taruhan itu. Zero pun membalas uluran tangan dari Zeya dengan senyum kemenangan. Dia merasa idenya ini pasti akan berhasil.


"Jadi kapan akan kita laksanakan taruhan kita ini?" tanya Zeya.


"Sekarang!" ucap Zero.


"Oke, aku setuju! Kakak sebutkan saja masakan apa yang harus aku masak, lalu kita akan bertanya kepada emak, mereka ingin aku masak apa biar kita bisa langsung belanja bahannya sekarang juga, mumpung hari belum terlalu sore," ucap Zeya.


"Baiklah, kita tanya mereka dulu, sambil aku berpikir, apa yang akan aku minta untuk kamu masak," ucap Zero sambil berjalan keluar dari dapur.

__ADS_1


__ADS_2