SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 143. MEMBERI PELAJARAN


__ADS_3

"Lepaskan aku! Lepaskan! Dasar b***ngan kalian! Awas...jika sampai aku keluar dari tempat ini akan kuhabisi kalian semua," teriak mama Shena.


Anak buah Royan tidak memperdulikan teriakan mama Shena, mereka memasukkan makanan dan minuman dari sela kerangkeng yang cukup untuk memasukkan piring juga gelas.


Mama membanting piring dan gelas tersebut hingga pecah dan makanan pun bertabur di dalam kerangkeng.


"Terserah Nyonya, yang penting kami sudah melaksanakan tugas, memberi Nyonya makanan, jika Nyonya mati karena kelaparan itu salah Nyonya sendiri," ucap salah satu anak buah Royan.


Mereka pun membiarkan mama Sena berteriak-teriak dengan berjaga-jaga di luar rumah.


Sementara anggota yang diperintahkan oleh Zero untuk mencari tikus segera masuk ke dalam dan melepaskan tikus tersebut ke dalam kerangkeng.


Mama Sena ketakutan hingga menjerit histeris, tapi mereka tidak memperdulikan hal itu. Hingga malam hari, mama Shena memegangi perutnya yang sakit karena seharian beliau tidak makan apapun.


Beliau meminta anak buah Royan untuk melepaskan gembok kerangkeng, dengan alasan mau ke toilet.


Dua orang anak buah Royan pun mengawal Mama sampai ke depan toilet karena, mereka tidak ingin kecolongan, Mama melarikan diri dari sana.


Mama melihat ke sekeliling kamar mandi ternyata tidak ada celah yang bisa dia gunakan untuk melarikan diri. Beliau kecewa dan masih memikirkan cara lain untuk melarikan diri dari tempat itu.


Anak buah Royan yang sudah kelamaan menunggu di luar segera menggedor pintu toilet, lalu mama Shena pun menjawab, "Sabar aku belum selesai!"


Setelah tidak menemukan ide untuk lari, Mama pun keluar dengan cara berpura-pura memegangi perutnya yang sakit.


Pengawal pun membawa Mama kembali ke dalam kerangkeng dan mengikat pintunya dengan kuat.


Sebelum pengawal pergi, Mama meminta agar mereka menyediakan makanan serta minuman karena perutnya sakit seharian tidak makan.


Mereka sebenarnya kesal, karena pada tengah malam seperti itu akan mencari makanan ke mana, apalagi tempat itu jauh dari keramaian.


Namun karena nyonya Sena adalah ibu dari bos mereka, pengawal itu pun tidak berani membantah. Salah satu dari mereka pergi keluar untuk mencari makanan dan minuman yang diminta oleh mama.


Yang pengawal dapatkan hanyalah roti, mie instan dan air mineral, itu pun dia dapatkan dengan cara menggedor salah satu warung yang cukup jauh letaknya dari tempat itu.


Setelah mendapatkannya pengawal pun segera kembali dan menyerahkan makanan tersebut kepada Mama.

__ADS_1


Tadinya, mama mau marah dan membuang makanan tersebut, tapi karena perutnya sangat lapar dan terasa sakit, akhirnya dia pun memakannya.


Sementara Zero dan Zeya yang telah kembali ke rumah sakit segera menemui Royan. Mereka memberitahu Royan, jika sudah menyekap Mama Shena.


"Jadi Kak, apa selanjutnya yang harus kita lakukan? Aku tidak yakin mama bisa sadar dengan cara itu," ucap Zeya.


"Sementara biarlah seperti itu Dek, sambil kita mencari cara untuk membuatnya sadar," ucap Royan.


"Oh ya Ro, apakah Dokter sudah datang untuk memeriksa Mama Ambar? soalnya kemarin aku meminta salah satu anak buahku untuk menghubungi dokter tersebut dan meminta beliau agar memeriksa kondisi mama," tanya Royan.


"Aku tidak tahu Kak, coba nanti aku telepon emak. Oh ya Kak, mungkin besok pagi kami akan pindah ke rumah baru dan akan membawa Mama Ambar serta Bu Riana ke sana," ucap Zero.


"Ya sudah nggak papa Ro, yang penting Mama ada yang menemani, nanti setelah aku pulih dan keluar dari rumah sakit, Aku akan menjemput beliau, karena aku dan Nayla telah sepakat untuk melangsungkan pernikahan, jadi mama bisa tinggal dengan kami."


"Syukurlah kak, mudah-mudahan niat Kakak dan Kak Nayla segera terlaksana dan dimudahkan oleh Allah. Rasanya sudah cukup cobaan yang menimpa kalian berdua, hingga menunda terus, rencana pernikahan," ucap Zeya.


"Iya dek, kali ini mungkin kami akan langsung ke penghulu pernikahan saja, masalah resepsi bisa nanti menyusul, yang penting sah akadnya dulu," ucap Royan.


"Ya, kami setuju Kak! apalagi abah juga belum sehat benar untuk mengadakan resepsi," ucap Zeya.


"Iya Kak, kami permisi dulu," jawab Zeya.


"Oh ya Zey, kamu istirahatlah dulu, Aku ingin memeriksa ruangan abah barangkali mereka membutuhkan bantuan," ucap Zero.


Zeya pun menggangguk, lalu dia bergegas menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana, sedangkan Zero keluar menuju ruangan Abah.


Zero mengetuk pintu ruang rawat Abah sambil mengucap salam. Nayla yang melihat kedatangan Zero segera mempersilahkan masuk.


"Bagaimana kabar Abah Kak? tanya Zero.


"Syukurlah Dek, kata dokter...besok Abah sudah boleh pulang."


"Oh... bagus jika begitu kak, tapi kita harus tetap waspada. Biarlah para pengawal Kak Royan tetap menjaga Kakak dan Abah di rumah. Kita tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi menjelang pernikahan kakak."


"Iya dek, kak Royan juga bilang begitu karena selama ini ada saja yang menghalangi pernikahan kami."

__ADS_1


"Sejenak Nayla terdiam, lalu diapun bertanya, "Bagaimana kondisi Kak Royan sekarang Dek?"


"Kak Royan pun sudah mulai membaik dan luka-lukanya juga sudah mulai mengering. Mungkin dalam beberapa hari sudah diperbolehkan pulang."


"Besok, coba aku tanyakan kepada dokternya Kak, biar kita tahu kapan kepastian Kak Royan bisa pulang dari rumah sakit. Kami ingin membantu mempersiapkan pernikahan kalian Kak dan berjaga-jaga agar tidak terjadi lagi musibah," ucap Zero.


"Terima kasih Dek atas bantuan kalian, kami tidak tahu bagaimana cara membalasnya," ucap Nayla.


"Kak Nayla jangan pikirkan hal itu, bagaimanapun kalian sudah aku anggap keluarga sendiri. Aku permisi dulu ya Kak, titip salam untuk abah dan ingat, kakak harus istirahat," ucap Zero.


Zero pun pamit, lalu dia kembali ke ruangan Royan untuk tidur sejenak sambil menunggu datangnya pagi.


Pagi ini Abah sudah diperbolehkan pulang, lalu sebelum mereka meninggalkan rumah sakit Nayla mengajak Abah untuk menemui Royan.


Royan pun berpesan, agar Nayla dan Abah berhati-hati. Jika ada masalah, Royan meminta Nayla langsung menghubunginya.


Zero pun juga pamit kepada Royan dan Zeya, dia akan kembali ke rumah untuk membantu Bang Togar serta Bang Beni mengurus kepindahan Emak dan yang lain.


Namun sebelum Zero pulang, Royan meminta tolong, agar Zero mengantar Abah dan Nayla terlebih dahulu dan memastikan penjagaan untuk mereka.


Setelah mengantar Nayla dan Abah, barulah Zero pulang ke rumah Royan.


Sesampainya di rumah Royan, Zero melihat emak dan yang lain sudah naik ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh Bang Beni.


"Tunggu Bang! Jangan berangkat dulu, itu si Bos Zero pulang," ucap Bang Togar.


"Kalau sudah beres semua, berangkat saja Bang, aku sebentar lagi menyusul. Ada barang yang ingin aku ambil dulu di dalam kamar."


"Kalau begitu, Bang Beni berangkat dulu, biar aku yang membonceng Bos Zero," ucap Togar.


"Baiklah, jika begitu kami berangkat dulu ya Bos," ucap Bang Beni.


Setelah mendapatkan anggukan dari Zero, Bang Beni pun segera melajukan mobil, menuju ke rumah baru, sedangkan Zero masuk ke dalam kamar untuk mengambil barang yang dia maksud.


Sambil menunggu Zero, Bang Togar berpesan kepada anak buah Royan untuk tetap menjaga rumah itu sampai Bos mereka kembali.

__ADS_1


Zero pun sudah selesai mengemasi barangnya, lalu dia menemui Bang Togar dan siap berangkat untuk menyusul rombongan emak ke rumah baru mereka.


__ADS_2