
Setelah kepergian Togar dan Beni Zero pun menemui Emak dan Kiara.
"Mak, Kak Kiara...malam ini aku masih harus menginap di rumah sakit, jadi kumohon, tolong sambil perhatikan Bu Ambar ya Mak. Kita tidak ingin terjadi hal yang buruk terhadap Beliau. Besok pagi ada dokter jiwa dari rumah sakit akan memeriksa Bu Ambar," ucap Zero.
Kemudian Zero melanjutkan perkataannya lagi, "Dokter tersebut adalah pilihan Kak Royan dan akan ke sini diantar oleh anak buah beliau. Namun jangan lupa, kita harus tetap waspada karena musuh bisa saja menyelinap dengan berbagai cara."
"Iya nak, pergilah! kamu temani Zeya. Di sini kami aman, para penjaga banyak kamu tempatkan di luar 'kan?" ucap emak.
"Oh ya Kak, jika besok mau memulai usaha, sudah bisa. Kontrakan untuk 3 tahun sudah aku bayar dan besok pagi modal usaha akan aku berikan kepada Kakak, jadi mulailah belanja apa yang kalian perlukan untuk memulai usaha tersebut. Bekerjasama lah Kak, dengan istri Bang Togar dan Bang Beni, jadilah tim yang solid demi kemajuan usaha kalian," ucap Zero.
"Iya Dek, terima kasih, kamu selalu memperhatikan keperluan kami," ucap Kiara.
"Aku permisi dulu ya Mak, Kak Kiara, kasihan Zeya sendirian di rumah sakit. Memang sih banyak pengawal di sana, tapi dia pasti kesepian sementara Nayla dan Abah juga sudah pulang kerumahnya," ucap Zero.
"Hati-hati kamu di jalan ya Nak, salam emak untuk Zeya dan juga Royan.
Setelah pamit, Zero pun meninggalkan rumah menuju ke rumah sakit diantar oleh anak buah Royan dengan menggunakan mobil barunya.
Di perjalanan, anak buah Royan menjelaskan satu persatu fungsi tombol, stir dan rem serta fungsi yang lainnya.
"Bos harus secepatnya belajar mengendarai mobil, jadi di saat terdesak, Bos bisa menjalankannya sendiri tanpa bantuan orang lain."
"Ya... kamu benar, aku tidak mungkin selamanya mengandalkan orang lain," ucap Zero.
"Kita sudah tiba Bos, apa aku harus menunggu di sini sampai bos kembali?" tanya anak buah Royan.
"Tidak usah, aku akan menginap, kamu kembali saja ke rumah dan besok pagi, tolong jemput aku karena aku mau pergi ke kampus," pinta Zero.
"Baiklah Bos, aku permisi dulu, besok pukul 07.00 pagi aku menunggu Bos di parkiran," ucap anak buah Royan.
Zero pun mengangguk, lalu meninggalkan tempat itu menuju ke ruang rawat Royan.
Para pengawal yang masih menjaga ketat ruangan rawat Royan pun mengangguk saat melihat kehadiran Zero.
__ADS_1
"Bagaimana Bang? Apakah semua aman-aman saja?" tanya Zero.
"Untuk saat ini, aman bos!
Bos Royan dan Non Zeya sedang istirahat di dalam, silakan masuk Bos!" ucap anak buah Royan.
Ketika Zero hendak masuk ke dalam ruangan Royan, bertepatan dengan Zeya yang hendak keluar.
"Kak Zero sudah kembali? syukurlah Kak, saat ini aku butuh bantuan kakak," ucap Zeya.
"Memangnya kenapa Zey?" tanya Zero khawatir.
"Mama Kak, kata pengawal mencoba bunuh diri," ucap Zeya.
"Apa! kamu serius Zey?" tanya Zero.
Zeya pun mengangguk, lalu berkata, "Ayo Kak! Tolong temani aku pergi kesana, aku takut, terjadi apa-apa dengan Mama," ucap Zeya cemas, sambil menarik lengan Zero.
"Belum Kak, mereka hanya mengobati luka goresan yang ada di pergelangan tangan mama," ucap Zeya lagi.
"Jika memang membahayakan, lebih bagus secepatnya dibawa ke rumah sakit, telepon mereka sekarang juga Zey," pinta Zero.
"Iya Kak, aku akan segera menelpon mereka."
Zeya pun menelpon anggota royan agar segera membawa mamanya ke rumah sakit, dia tidak mau menyesal jika sampai terjadi hal yang buruk terhadap mamanya.
Pengawal Royan pun, segera membawa mama Shena ke rumah sakit terdekat dari tempat mereka sekarang. Walaupun lukanya tidak terlalu parah, tapi karena perintah dari adik Bos, mereka tidak berani membantah.
Shena tersenyum penuh kemenangan, rencananya akan segera berhasil. Dengan cara seperti ini, dia jadi memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari kurungan kerangkeng tersebut.
Dia berhasil mengelabuhi para pelayan, dengan cara pura-pura pingsan, hingga membuat para pengawal tersebut cemas dan buru-buru membawanya ke rumah sakit.
"Ayo cepat! Jangan sampai terlambat, nanti kita bakal kena hukuman jika sampai dia meninggal."
__ADS_1
Empat orang pengawal itu pun terlihat cemas, setibanya di rumah sakit, merekapun buru-buru mengangkat tubuh Shena menuju ke ruangan UGD.
Saat pengawal mengurus proses administrasi dan yang keduanya lengah Mama Shena pun turun dari tempat tidur pasien lalu mencoba melarikan diri dari sana, mumpung dokter masih menangani pasien yang lain.
Untung saja kepergian mama Shena dari tempat itu bertepatan dengan datangnya Zero dan juga Zeya. Jadi mereka melihat, saat mama lari keluar dari rumah sakit.
Zeya pun berteriak memanggil mamanya, "Ma...kembali, Mama mau ke mana?" tanya Zeya.
Zeya dan Zero pun mengejar Mama Shena, mereka tidak ingin kehilangan jejak beliau. Mama terus saja berlari dengan kaki polos tanpa memakai alas kaki.
Zero sedikit menggunakan kekuatannya, dia tidak ingin kehilangan jejak Mama Shena, akhirnya dengan menggunakan kekuatan super Zero bisa mengejar mama yang sekarang berhenti sambil mengatur nafasnya kembali.
Dari kejauhan, Mama bisa melihat jika Zeya dan Zero sedang mengejarnya.
Dengan tidak memperdulikan kakinya yang sakit dan sedikit terluka, mama terus saja berlari, Tapi beliau tidak menduga jika Zero sudah berdiri tegak, tepat di hadapannya.
Tubuh Mama seperti menghantam sesuatu hingga dia terdorong kebelakang dan merasa kesakitan.
Saat Shena menoleh, matanya membulat dan mulutnya ternganga. Menurutnya bagaimana Zero sekarang ada di depannya, padahal tadi dia melihat, Zero dan Zeya masih tertinggal jauh di depan.
Dengan mengucek mata, Shena ingin memastikan apa yang barusan saja dia lihat. Kemudian dia pun berkata, "Awas! Aku mau pergi!" bentak mama Shena.
"Maaf Bu, aku tidak bisa membiarkanmu lepas begitu saja. Sekarang Ibu harus ikut aku dan kembali ke tempat penyekapan tersebut."
Setelah mengatakan hal itu, Zero pun menangkap tubuh Mama Shena, lalu memegang erat kedua tangannya, yang diarahkan oleh Zero ke belakang punggungnya.
Mama Shena meronta, memanggil-manggil Zeya sambil berteriak kasar, "Zeya! cepat suruh dia melepaskan aku. Aku tidak mau kembali ke dalam sana!" teriak mama Shena.
Zeya yang sudah sampai disitu, hanya bisa berkata, "Maaf Ma! kenapa Mama melakukan hal ini, pura-pura bunuh diri agar bisa lari dari kami," ucap Zeya.
"Kamu menyebalkan! Dasar anak durhaka, tidak tahu diuntung, kamu bakal menyesal nanti Zey, jika tidak melepaskan aku!" seru mama Shena.
Zero dan Zeya tidak memperdulikan teriakan mama, keduanya tetap dengan rencana awal, yang ingin memberikan pelajaran dengan cara menyekap mama dan mengembalikan ke dalam kerangkeng lagi.
__ADS_1