
"Mak, Kak Kiara...pilih saja mana yang suka, semua bagus, soal harga nggak usah dipikirin, Kak Royan sudah menyerahkan ini kepada kita," ucap Zeya sambil mengacungkan kartu black card milik Royan.
"Sudah Nak, Mak cukup ini saja, sudah tua mau kemana juga beli baju banyak-banyak. Biar Kiara saja yang lebih di banyakin belanjanya," ucap Mak Salmah.
"Iya, Kak Kiara ini bagus lho...coba deh di kamar pas, jamin nggak bakal nyesel belinya."
"Kamu nyuruh kami belanja banyak, kamu sendiri mana? Satu pun tidak ada yang kamu beli Zey?" tanya Kiara.
"Kalau aku kapan kepingin dan suka, langsung beli Kak! Baju ku sudah banyak di lemari, nanti kapan-kapan aku ajak Kakak ke rumah ya," ucap Zeya.
"Sudah Zey, ini sudah terlalu banyak, lebih baik kita belanja peralatan dapur, kalau yang lain kita tunggu Zero datang," ucap Kiara.
"Boleh, ayo Mak kita ke sana, kita pilih alat-alat dapur yang di butuhkan," ajak Zeya sambil menarik tangan Mak Salmah.
Mereka pun memilih dan membeli semua perlengkapan dapur yang dibutuhkan, lalu Zeya menelepon Zero untuk menanyakan dimana dia sekarang, apa masih di sekolah atau sudah jalan untuk menyusul mereka.
Ternyata, Zero masih di sekolah, dia bertemu teman-teman dan saling bertukar cerita tentang rencana mereka kedepannya.
Ada yang berencana lanjut kuliah, ada yang memang tidak ingin pusing belajar dan memilih mencari pekerjaan serta ada pula yang terpaksa harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga, padahal keinginan untuk bisa lanjut ke perguruan tinggi sangat besar.
Zero menyimak semua percakapan teman-temannya lalu dia meminta nomor kontak mereka yang belum ada di ponselnya.
Dia berencana ingin membantu teman-temannya yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Saat ini yang ingin Zero bantu adalah mereka yang memiliki semangat belajar tapi tidak memiliki dana untuk melanjutkan pendidikan.
Setelah rencana ini nanti terealisasi barulah Zero akan membantu mereka yang membutuhkan pekerjaan.
Sekarang nomor kontak semua temannya sudah tersimpan, tinggal memilih siapa yang perlu Zero prioritaskan terlebih dahulu, itulah yang akan dia hubungi via WhatsApp pribadi.
__ADS_1
"Teman-teman aku permisi dulu ya, mudah-mudahan kita bisa tetap bertemu, walau kita sudah selesai dari sekolah ini. Aku sudah shave nomor kalian dan kita akan buat group chatt supaya silaturahmi kita bisa terus berlanjut. Salam sukses untuk kita semua," ucap Zero sambil tos bersama teman-temannya.
Setelah berpamitan Zero segera meninggalkan sekolah Nusantara untuk menyusul emak dan yang lain.
Kali ini Zero memilih naik ojek online biar cepat sampai di mall. Dalam perjalanan Zero berpikir dia harus segera membeli kendaraan untuk dirinya, karena itu akan sangat dia butuhkan untuk bolak balik kampus, lokasi proyek dan rumah.
Nanti sepulang dari mall, Zero akan hitung budget dulu, apakah sisa uangnya akan cukup untuk mendirikan usaha, untuk biaya kuliahnya bersama teman-teman yang akan dia bantu dan jika bersisa barulah dia akan membeli kenderaan.
"Mas kita sudah sampai!" ucap Abang ojol.
"Oh ya Bang, maaf...aku sedang tidak fokus, banyak masalah yang dipikir," ucap Zero.
Zero pun memberikan uang lebih kepada Abang ojol hingga membuat si Abang terbengong, merasa tidak percaya. Hari ini nasib baik sedang berpihak kepadanya, rezeki yang datang berlipat ganda, 10 kali lipat dari hari biasa.
Setelah saling mengucapkan terimakasih, keduanya pun pergi ke tujuan masing-masing. Zero masuk ke dalam mall dan Abang ojol pulang ke rumahnya untuk memberikan rezeki yang dia dapatkan kepada anak istrinya.
"Mak, itu Zero sudah sampai," ucap Kiara.
"Bagaimana Mak, apa semua yang dibutuhkan sudah di beli?" tanya Zero.
"Sudah Ro, tinggal kebutuhan yang berat dan besar seperti tempat tidur, kursi dan lemari. Harganya terlalu mahal di sini Ro, nggak seperti di kampung. Apa sebaiknya kita beli di sana saja ya? Sayang uangnya," ucap Mak Salmah.
Zeya dan Zero tersenyum lalu Zero berkata, "Mak, sebenarnya sama saja, ada rupa, ya... ada harga. Emak tenang saja, ayo kita lihat-lihat dulu, mana yang mau kita beli," ucap Zero.
Mereka pun melihat-lihat lalu menentukan pilihan, mana tempat tidur dan lemari untuk Emak, untuk Kiara dan juga untuk Zero sendiri. Setelah itu barulah ke bagian sofa, disini yang diminta memilih adalah Zeya, jadi tergantung seleranya.
Setelah semua di bayar, Zeya segera mengajak Zero ke toko yang menjual pakaian pria karena satu pun belum mereka beli untuknya.
"Ayo kak, sekarang giliran kakak yang memilih," ucap Zeya.
__ADS_1
"Waduh...disini pakaian berkelas semua ya Zey dan harganya lumayan mahal," ucap Zero sambil membolak-balik harga baju ukurannya.
"Nggak apa-apa lah Kak, jangan kakak pikirkan orang lain terus sementara diri kakak terabaikan," ucap Zeya sambil memilihkan pakaian buat Zero.
"Sudah semua 'kan Mak?" tanya Zero.
"Sudah Ro, sekarang tinggal berpikir bagaimana kita membawa pulang semua barang yang telah kita beli," ucap Mak Salmah.
"Sebentar Mak," ucap Zeya sambil berjalan menemui kepala bagian pemasaran yang ada di mall tersebut.
Zeya meminta tolong agar pihak mall mengusahakan kenderaan untuk mengantarkan barang-barang yang mereka beli ke alamat yang Zeya berikan.
Mereka setuju dan Zeya pun membayar ongkos pengantaran. Lalu Zeya berkata kepada Mak Salmah, "Sudah Mak, semua sudah aman dan barang akan sampai lebih dulu ke rumah."
"Memangnya ada orang di rumah baru kita Ro?"
"Ada Mak, Zeya telah mencarikan dua orang yang akan membantu mengurus rumah dan memasak, jadi Mak cukup istirahat di rumah karena tidak mungkin rumah sebesar itu Mak akan mengurus sendiri. Aku tidak mau Mak sakit karena kelelahan mengurus rumah," ucap Zero.
"Saat ini Mak seperti sedang bermimpi Ro! mimpi kejatuhan bulan. Mak tidak pernah membayangkan hidup kita bisa berubah seperti ini."
"Pesan Mak sama kamu dan kalian juga, jangan sombong walau kita saat ini sedang di atas, karena hidup ini seperti roda yang setiap saat berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Jadi intinya kita harus tetap bersyukur."
"Iya Mak, kami akan ingat pesan Mak. Terimakasih sudah mengingatkan kami," ucap Zero, Zeya dan juga Kiara.
"Sekarang ayo kita makan! Aku lapar mak," ucap Zero sambil memegangi perutnya.
"Ayo lah, Mak juga lapar."
"Iya, ayo...aku juga lapar," ucap Zeya.
__ADS_1
"Aku nggak Zey! Rasanya perut ini kenyang dan pingin cepat pulang untuk mencoba semua yang sudah kita beli," canda Kiara, hingga membuat semua tertawa.