
[Ting!]
[[Misi istimewa : π Menolong wanita tua yang terkena gangguan mental (Stres) akibat tekanan di masa lalu.
Hadiah : π Penambahan saldo ke rekening senilai 1 Triliun + penambahan masing-masing 5 poin untuk setiap level.
Dana : π Cek senilai 10M (habiskan dalam 2 hari untuk kegiatan amal, sumbangkan ke panti jompo, panti asuhan dan rumah sakit jiwa)
Hukuman : π Jika gagal menjalankan misi, saldo dan poin minus (Bersiap di kejar-kejar debt kolektor)
π Sistem tidak berfungsi alias ponsel rusak.
π Jika dana tidak dihabiskan dalam waktu yang ditentukan, saldo pemilik akan berkurang senilai dana + denda 10% dari jumlah dana.
CATATAN :
π Jika menolak misi, bakal terpisah dari orang-orang yang dicintai.
"Jangan dong sistem, yang aku cintai adalah emak, aku belum siap jika harus berpisah dengan beliau. Dan Zeya, masa...baru jadian, sudah harus pisah! Walaupun aku belum 100% cinta, tapi aku benar mulai sayang lho, sama dia. Dia gadis hebat yang pernah aku kenal, berlebih tapi tetap sederhana dan tidak sombong," gumam Zero.
"Hadiahnya juga sangat besar, begitu istimewakah wanita itu? Sampai sistem mengatakan jika ini adalah misi istimewa?" monolog Zero lagi.
\[Ting!\]
\[\[Waktu untuk berpikir tinggal 10 detik, terima misi : Ya/Tidak\]\]
"Ya, aku terima!" ucap Zero dengan lantang, hingga membuat sopir angkot pun menoleh ke belakang.
Beliau heran, kenapa Zero berbicara sendiri dengan begitu keras.
Sejenak Zero terdiam, lalu tersenyum ke arah Pak sopir. Kemudian dia kembali bermonolog, "Tapi! Dimana ya...wanita tua stres itu berada? Dan apa ciri-cirinya? Bukankah orang stres banyak! Apalagi di rumah sakit jiwa. Ah...pusing dah! Terserah sistem deh, yang penting tidak ada batasan waktu untuk aku mengerjakan misi ini. Atau aku samperin saja dan tolong setiap wanita tua stres yang aku temui."
"Dek...kenapa saya perhatikan sedari tadi kamu ngomong sendirian? dan saya dengar kamu bilang stres-stres gitu, bukan kamu yang stres 'kan Dek?" tanya supir angkot.
__ADS_1
"Hampir Pak!" canda Zero sambil tertawa.
"Sayang Dek, jika kamu sampai stres, masa ganteng-ganteng dan masih muda, ikutan stres. Nanti ada cewek yang patah harapan Dek!"
"Hooh, nggak mau Pak, malah kepingin menolong mereka," ucap Zero sambil matanya jelalatan melihat keluar dari jendela mobil.
"Memangnya adik mau turun dimana?"
"Persimpangan depan Pak, yang dekat pabrik tekstil."
"Sebentar lagi juga sampai Dek, paling sekitar 100m dari sini" ucap pak sopir.
"Iya Pak."
"Iya Dek," ucap Pak sopir.
Zero pun turun, lalu membayar ongkos dengan uang lembaran seratus ribuan.
Saat pak Sopir hendak mengembalikan kembalian uang itu, Zero pun berkata, "Buat Bapak saja sisanya! Terimakasih ya Pak, semoga penumpang semaki banyak!" ucap Zero.
Zero melihat ke sekeliling, dia mencari tempat yang pas untuk Kiara berdagang, di sini tempat yang sesuai jika ingin membuka restoran kecil-kecilan dulu sebagai perintis.
Selain lingkungan pabrik, daerah itu juga tidak terlalu jauh dari pasar. Bahkan sopir-sopir angkot sering mangkal di sekitar sini.
__ADS_1
Kemudian Zero mendatangi sebuah kedai kelontong dan bertanya, apakah ada rumah ataupun warung yang di sewakan di sekitar sana.
Pemilik kedai pun menunjukkan ada beberapa tempat yang di sewakan disekitar situ.
Zero memilih tempat yang strategis yaitu di seberang pabrik, pas Zero hendak menemui pemiliknya, para karyawan pun keluar hendak pulang.
Ternyata jumlah mereka ratusan orang, belum di tambah lagi oleh karyawan perkantoran yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari sana.
Jika bisa bekerja sama dengan pihak pabrik maupun kantor-kantor di sekitar dalam menyediakan makan siang, maka dipastikan orderan nasi bungkus perhari hampir ribuan bungkus keluar.
Saat ini yang terpenting menemui pemilik rumah dulu, jika sudah deal, besok... barulah Zero akan menemui pihak pabrik dan kantor lainnya.
Selain itu Kiara dan yang lain bisa juga menerima orderan via online untuk sekitaran tempat tersebut dengan menggunakan jasa antar.
Untuk sementara Bang Togar, Bang Beni juga putranya bisa menjadi pengantar makanan sebelum mendapatkan kurir khusus.
"Bu...Apakah benar ibu pemilik rumah di seberang pabrik?" tanya Zero.
"Iya benar, ada apa Dek?"
"Kakak saya mau ngontrak rumah ibu," ucap Zero.
"Oh silahkan Dek, baru seminggu rumah itu kosong, yang nyewa terakhir pulang ke daerah asalnya karena ibunya sakit keras."
__ADS_1
Zero pun menanyakan berapa sewa yang harus dia bayar pertahun, setelah cocok, Zero segera memberikan panjar untuk sewa dalam waktu tiga tahun kedepan.