
Satria pamit, dia berjanji akan memberitahu Zero jika tiba saatnya Alena beserta papa dan mamanya akan berangkat ke Padang.
Zero tak bisa membohongi perasaannya sendiri, ada terselip kesedihan di relung hatinya terdalam karena rencana kepergian Alena.
Hanya doa yang bisa Zero selipkan untuk Alena, dia berharap Alena akan segera menemukan kebahagiaannya lagi di tempatnya yang baru.
Setelah Zero membersihkan diri, dia berniat untuk tidur, rasanya hari ini sangat melelahkan baginya. Bukan lelah tenaga melainkan lelah pikiran.
Tapi sebelum tidur, dia ingin menelepon Zeya karena sejak pagi tadi mereka belum ada berkomunikasi lagi.
Zero mengambil ponsel dari dalam tasnya,, lalu dia mulai menggulir mencari kontak Zeya.
Zero berulang-ulang menelepon Zeya tapi tidak ada jawaban hingga berpuluh kali hasilnya tetap sama.
Perasaan khawatir mulai menyelinap di hati Zero, nggak pernah-pernahnya Zeya seperti ini.
Biasanya malah Zeya lah yang sering menghubungi Zero. Dalam hatinya Zero bertanya-tanya apa mungkin Alena sedang marah atau ada sesuatu yang terjadi saat dia pergi ke rumah penyekapan mamanya.
Karena penasaran, Zero mengulang panggilannya kembali dan hasilnya tetap sama. Saking penasarannya, dia tidak peduli jika harus membangunkan Royan dengan suara dering ponselnya.
Begitu tersambung, Zero langsung bertanya, "Hallo Kak, maaf mengganggu kak Royan malam-malam begini," ucap Zero.
"Ya Dek nggak apa-apa kok, Kakak juga belum tidur karena kak Nayla sedang mempersiapkan keperluan untuk keberangkatan kami besok," ucap Royan.
"Jadi besok berangkat bulan madunya ya Kak, maaf kak karena seharian banyak pekerjaan jadi tidak sempat kesana. Jam berapa berangkatnya Kak?" tanya Zero.
"Paling sekitar jam sembilan Ro pesawatnya berangkat. Kami titip Abah, Mama dan Bu Riana ya Ro?"
"Oh boleh Kak, biar besok pagi aku minta tolong saja kepada Bang Beni untuk menjemput mereka dan mengantarnya ke rumah Puri Indah. Biar ramai di sana Kak, para orang tua pada ngumpul," ucap Zero.
"Terimakasih ya Ro. Oh ya, tadi apa yang mau kamu tanyakan Ro, kok malah ngobrol masalah kami?" tanya Royan.
"Tentang Zeya Kak, apa Zeya menginap di rumah Kakak?" tanya Zero.
"Lho, bukannya menginap di rumahmu Ro?" tanya Royan balik.
Hati Zero semakin was-was mendengar pertanyaan balik dari Royan.
"Nggak ada Kak dan sejak pagi tidak ada menghubungiku, akupun belum sempat untuk menghubunginya," ucap Zero lagi.
"Kamu sudah coba telephone ponselnya Ro?" tanya Royan.
"Sudah Kak, tapi tidak di angkat, padahal aktif. Aku jadi cemas lho Kak, takut terjadi sesuatu dengannya." ucap Zero.
"Memangnya dia jadi berangkat ke rumah penyekapan mama yang kemaren kamu bilang Ro?"
"Jadi Kak, tadi pagi dia berangkat dan bareng denganku tapi kami menggunakan mobil masing-masing sebab tujuan kami beda jalur. Aku harus berangkat ke kampus dan dia langsung ke arah pelabuhan," ucap Zero.
__ADS_1
"Coba kamu telepon anak buahku yang berjaga-jaga di sana, barangkali dia menginap di sana karena suatu hal Ro," ucap Royan.
"Oh iya, aku sampai lupa Kak. Sebentar aku matikan dulu ya Kak, aku akan coba telepon mereka," ucap Zero.
"Jangan lupa kabari aku ya Ro, aku kok jadi khawatir," pinta Mahen.
"Iya Kak."
Zero mencari beberapa nomor kontak anak buah Royan yang dia perintahkan untuk menjaga mama Shena di sana. Lalu Zero segera menelepon mereka, tapi malah tidak ada yang aktif satupun.
Berulangkali Zero telepon satu-persatu, tapi satu orangpun tidak ada yang mengangkat, hal ini membuat Zero semakin cemas.
Kemudian Zero menelepon Royan kembali untuk memberitahu jika tidak ada satupun yang bisa di hubungi.
Royan ikut panik, lalu dia memutuskan untuk mengajak Zero ke tempat itu.
"Kak, sebaiknya aku saja yang kesana bersama Bang Togar, bang Beni dan bersama beberapa orang anak buah kakak, besok kakak kan harus berangkat pagi, jadi kak Royan istirahat saja malam ini," ucap Zero.
"Tidak Ro, aku tidak bisa hanya diam menunggu, sementara adikku entah dimana rimbanya. Biarlah kami tunda keberangkatan, yang penting bisa menemukan Zeya," ucap Royan.
"Ya sudah kak, aku akan menghubungi Bang Beni dan Bang Togar agar bersiap, kakak dan anak buah langsung saja berangkat kesana, jika susah alamatnya gunakan saja maps ya kak, pokonya di ujung dekat pelabuhan, itulah markas lama mereka," ucap Zero.
"Baik Ro, kami segera bersiap, nanti jika sudah dekat dengan lokasi kita saling kontak ya," ucap Royan.
"Iya Kak."
Kemudian Zero memutuskan panggilan teleponnya, lalu dia menelepon Bang Togar serta Bang Beni. Untung saja keduanya belum tidur jadi panggilan dari Zero cepat mereka angkat.
Togar dan Beni sudah bersiap, dengan diantar para istri sampai depan teras, keduanya melajukan motor dengan kecepatan sangat kencang seperti hendak terbang.
Kebetulan suasana yang sangat sepi mendukung untuk mereka melakukan hal itu.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit, mereka sudah sampai di rumah Zero. Penjaga kompleks yang memang sudah kenal Bang Beni dan Bang Togar segera mempersilahkan mereka masuk melewati gerbang penjagaan.
Zero sudah bersiap, lalu dia membangunkan emak dan Kiara kalau dia akan mencari Zeya bersama Royan.
Emak dan Kiara terkejut, memang sedari pagi mereka tidak ada berkontakan dengan Zeya.
Lalu Zero yang melihat Bang Beni dan Bang Togar sudah datang, segera meminta Bang Beni untuk mengeluarkan mobil dari garasi serta menyimpan motor mereka di sana.
Zero, Bang Beni dan Bang Togar pun pamit kepada emak dan Kiara, lalu Beni melajukan mobil, melesat ke jalan raya menuju ke tempat penyekapan tersebut.
Royan juga pamit kepada Nayla, Abah serta Mamanya, dia mohon agar mereka mendoakan supaya Zeya segera di temukan.
Lalu Royan berpesan kepada Nayla, jika Zeya belum juga mereka temukan maka keberangkatan akan mereka tunda.
Nayla setuju, karena keselamatan Zeya lebih utama ketimbang perjalanan bulan madu mereka.
__ADS_1
Royan bersama keenam anak buahnya pun berangkat, sementara empat orang pengawal tetap berjaga-jaga di rumah demi menjaga keselamatan keluarga Royan.
Zero sudah menelepon Royan bahwa mereka hampir sampai di pertengan rute. Royan pun segera menambah kecepatan mobilnya, hingga diatas rata-rata.
Kini ketiga mobil sudah hampir sampai di lokasi, suasana malam ini sangatlah sepi, gelap, tidak ada penerangan bulan maupun bintang sama sekali diatas sana.
Royan dan Zero serta anak buah Royan hanya mengandalkan cahaya dari lampu sorot mobil yang mereka kendarai masing-masing.
Ketika sampai di lokasi tidak terlihat satu orang pun di sana, hanya kesunyian dan kegelapan yang ada.
Zero dan Royan yang sudah tidak sabar langsung turun dan berlari ke arah rumah yang tampak gelap gulita.
Mereka lalu mendobrak pintu yang ternyata tidak terkunci, di dalam sangatlah gelap, Royan dan yang lain menggunakan cahaya pada santer ponsel mereka masing-masing untuk melihat situasi di sana.
Zero mendekati kerangkeng dan ternyata semua pengawal Royan yang dia tugaskan untuk menjaga rumah itu, terkapar tak bernyawa di dalam sana, dengan banyak luka tusukan dan goresan.
Zero, Royan dan yang lain menutup hidung mereka karena bau anyir darah, mereka terus mencari di semua sudut ruangan tapi tidak terlihat ada tanda tanda kehidupan di sana.
"Bagaimana ini Kak? Siapa yang telah melakukan hal ini? Kemana Mama Shena dan Zeya, mereka tidak ada di sini Kak!" seru Zero.
Entahlah Ro, pasti ada banyak penyusup yang masuk kesini dan mungkin telah membawa mereka keluar dari tempat ini. Mudah-mudahan saja tidak terjadi hal yang buruk terhadap Zeya," ucap Royan yang berusaha untuk tenang.
"Kalian semua! Cari terus kesekeliling rumah ini!" teriak Zero.
Kemudian Zero mengajak Royan untuk masuk ke terowongan rahasia yang pernah Zero masuki.
Namun sudah sampai keujung terowongan yang tembus ke bibir pantai, mereka tetap tidak menemukan apapun di sana.
Hanya suara ombak yang bersahut sahutan dan suara binatang malam yang ada.
"Itu ada banyak kapal di sana Ro, apa mungkin Zeya berada di dalam salah satunya!" seru Royan.
Mungkin saja Kak, ayo coba kita periksa satu persatu Kak, siapa tahu memang Zeya ada di sana.
"Baiklah Ro, ayo kalian semua, berpencar! kita harus menemukan adikku secepatnya!" perintah Royan kepada para anak buahnya.
Satu persatu kapal sudah mereka periksa berulang-ulang tapi jejak Zeya tak di temukan di sana. Mereka terus mencari hingga fajar pun menyingsing di ufuk timur.
Hari sudah terang benderang tapi mereka tidak menemukan apapun di sana. Tapi tiba-tiba anak buah Royan menjerit, bahwa mereka menemukan sebuah ponsel.
Zero dan Royan bergegas kesana dan melihat ponsel temuan mereka.
"Ini ponsel Zeya Kak!" seru Zero sambil membolak balik ponsel di tangannya.
Kemudian dia berkata lagi, "Ponsel ini aktif, lihatlah Kak! Itu banyak panggilan tak terjawab dari ku. Berarti Zeya sengaja meninggalkan ponsel ini sebagai jejak untuk kita," ucap Zero.
"Mudah-mudahan saja Ro, kita bisa menemukan petunjuk dari dalam ponsel ini," ucap Royan.
__ADS_1
Mereka pun mengotak-atik ponsel tersebut berharap bisa menemukan sesuatu di dalam sana.
Apakah mereka akan menemukan petunjuk tentang keberadaan Zeya? Silahkan ikuti terus ceritaku ya para sobat dan jangan lupa tinggalkan jejak serta dukungan kalian. Terimakasih πβ₯οΈ