SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 138. MEMBELI MOBIL


__ADS_3

Sesuai rencana, Zero langsung pergi ke pasar untuk melihat toko Ahmad yang baru hari ini di buka.


Melihat kedatangan Zero Ahmad dan ibunya sangat senang, lalu mereka mempersilakan Zero masuk.


"Sini Kak, duduk di dalam saja agar tidak terganggu oleh para pembeli," ajak Ahmad.


"Bagaimana keadaan tanganmu Mad? Apa ada keluhan?" tanya Zero.


"Nggak kok Kak, nyaman-nyaman saja," ucap Ahmad sembari menggerakkan tangannya.


"Syukurlah Dek, bagaimana penjualan hari pertama ini Mad?"


"Lumayan Kak, masih banyak yang belum tahu 'kan. Asal tekun dan selalu berdoa pasti nanti banyak juga yang beli," ucap Ahmad.


Saat Zero berbincang-bincang dengan Ahmad, ibu datang membawa minuman dan cemilan.


"Silahkan diminum dan dimakan cemilannya Dek?" ucap Ibu Ahmad.


"Terimakasih Bu," ucap Zero.


"Ibu yang sangat berterimakasih sama kamu, berkat kamu kami bisa begini. Oh ya, Dek Zero dari mana?"


"Dari kampus Bu, jadi sekalian singgah kemari dan ada urusan di sekitar tempat ini. Ini sedang menunggu Bang togar, paling sebentar lagi juga sampai," ucap


Zero.


Saat Zero asyik ngobrol dengan Ahmad tentang tangan palsunya, bang Togar pun sampai.


"Masuk Bang!" ucap Ahmad.


"Semoga lancar ya Mad, usaha kamu dan selamat atas tangan barunya, abang jadi teringat banyak salah sama kamu," ucap bang Togar malu.


"Itu sudah masa lalu Bang dan jangan kita ingat-ingat lagi, yang penting untuk kedepannya kita harus terus berusaha untuk jadi orang baik," ucap Ahmad.


"Iya Mad."


"Oh ya Dek...apa kita berangkat sekarang saja, takutnya keburu sore," ucap Bang Togar.


"Boleh Bang! Ayo kita pamit sama ibu dulu," ajak Zero.

__ADS_1


Mereka pun pamit kepada Ahmad dan ibunya. Setelah itu Zero dan Bang Togar langsung menuju ke dealer mobil Honda. Zero ingin membeli mobil yang nilai belinya tidak terlalu mahal yang penting bisa dia pakai untuk transportasi kesana kemari, guna urusan kampus dan juga pekerjaan.


Setelah melihat dan menimbang-nimbang akhirnya pilihan Zero jatuh pada mobil HR-V warna merah maroon.



Generasi kedua SUV Honda ini tampil sangat berbeda dengan mengusung konsep “Exceptionally Impressive” yang dikembangkan sebagai SUV unik dan memukau untuk mendukung gaya hidup konsumennya melalui desain dan teknologi yang canggih.


Sesuai namanya, ubahan pada All New HR-V dilakukan secara total, baik eksterior, interior, hingga fitur yang disematkan. Bahkan fitur Honda Sensin juga sudah disematkan pada semua varian.



Zero segera mentransfer melalui ponselnya senilai


Rp.343.000.000,- ke nomor rekening yang telah diberikan oleh pihak dealer.


Surat menyurat, bukti pembelian cash sudah pihak dealer berikan kepada Zero dan unit akan segera mereka kirimkan besok ke alamat rumah Zero yang baru.


Kini sisa uang di rekening Zero tinggal Rp.1.008.618.900.000 - Rp.343.000.000,- \= Rp.1.008.275.900.000,- jumlah ini akan dia gunakan untuk membuka usaha serta membantu teman-teman sekolahnya yang ingin kuliah tapi tidak memiliki biaya.


Urusan pembelian mobil selesai, Zero mengajak Bang Togar untuk pulang karena Zero harus mempersiapkan kepindahan ke rumah barunya.


"Bang, kita singgah dulu ke tempat yang ada mesin ATM nya ya, aku ingin mengambil uang untuk keperluan kepindahan besok pagi dan untuk mengirim para wanita itu pulang ke rumahnya masing-masing."


"Baik Bos!" ucap Togar.


Togar melajukan motor ke tempat yang ada fasilitas mesin ATM, lalu Zero mengambil uang senilai 20 juta karena batas pengambilan harian kartu yang dia miliki hanya senilai itu.


Setelah itu Zero menyerahkan uang tersebut kepada Togar agar Togar bisa mengatur pengeluaran guna kepindahan dan mengirim para wanita itu pulang. Zero percaya Togar bisa menjaga amanahnya.


"Oh ya Bang, mengenai biaya keperluan pribadi Abang dan Bang Beni, besok akan aku berikan berikut modal agar Kak Kiara dan istri kalian bisa segera memulai usaha yang sempat tertunda," ucap Zero.


"Satu hal lagi, jerih payah Abang berdua yang telah bekerja di proyek Kak Royan akan di berikan pada awal bulan. Semoga Abang berdua tetap semangat ya untuk mengawasi pekerjaan di sana," ucap Zero lagi.


"Dek Zero tidak usah pikirkan tentang hal itu, uang saku yang Dek Zero berikan kepada kami saja sudah cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga," ucap Togar.


"Itu beda Bang, yang aku berikan karena abang telah membantuku, sementara gaji yang diberikan oleh Kak Royan nanti itu hasil kerja Abang berdua di proyek beliau."


"Terimakasih kalau begitu ya Dek, bersyukur kami telah mengenal mu Dek, kami bisa hidup lebih baik dan menjadi orang baik pula," ucap Togar.

__ADS_1


"Abang pandai nyetir mobil 'kan?" tanya Zero.


"Bisa tapi kurang mahir, Bang Beni lebih mahir Dek, dia dulu sempat punya mobil sendiri," ucap Togar.


"Oh...kalau gitu, aku belajar nyetirnya sama Bang Beni saja, daripada harus kursus di tempat lain, 'kan lebih baik uangnya bisa untuk kebutuhan keluarga Bang Beni," ucap Zero.


"Iya Bos, nanti aku sampaikan kepada Bang Beni," ucap Togar.


"Oh ya Bang, aku lupa...aku ingin bertemu teman, sebaiknya aku turun di sini saja, Abang langsung pulang saja ya, nanti aku pulang biar naik ojek online," ucap Zero.


"Baiklah Bos, aku turunkan Bos di dekat cafe depan ya," ucap Togar.


"Boleh Bang," jawab Zero.


Setelah bang Togar pergi, Zero segera menghubungi Vano, untung saja dia sedang ada di rumah, kemudian Zero meminta Vano untuk menemuinya di cafe Reza tempat dia di turunkan Togar.


Vano bergegas mengambil motor, dia tidak ingin beresiko terjebak macet pada jam sore begini bila menggunakan mobil.


Mendengar ada hal penting yang ingin Zero sampaikan membuat Vano penasaran. Perasaannya menjadi tidak enak, dia menduga pasti ada hubungannya dengan Alena.


Vano pun segera mengendarai motornya dengan kencang menuju tempat yang telah Zero sebutkan. Zero menunggu kedatangan Vano sambil memesan segelas jus dan cemilan.


Sekitar setengah jam, Vano baru sampai di tempat itu, matanya celingukan mencari keberadaan Zero diantara ramainya pengunjung.


Zero melambaikan tangan, agar Vano bisa melihatnya dan ternyata caranya berhasil. Vano melihat Zero lalu menghampirinya.


Sebelum mereka membuka pembicaraan, Vano memesan minuman terlebih dahulu dan dia juga memesan makanan karena tadi siang dia belum sempat makan.


Sedangkan Zero hanya meminta tambahan buah saja untuk melengkapi cemilannya.


Setelah Vano selesai makan, barulah Zero menceritakan pertemuannya dengan Satria dan menceritakan tentang Alena yang sekarang telah menjadi anak yatim piatu.


"Apa! Jadi ayahnya meninggal? Kapan dan kenapa kita tidak diberitahu?" tanya Vano.


"Hari itu juga ayahnya meninggal dan Alena pingsan jadi membuat keluarga Satria bingung hingga tidak mengabari kita," ucap Zero.


"Jadi bagaimana keadaan Alena sekarang Ro?"


"Kata Satria, dia sekarang lebih sering mengurung diri di kamar dan Satria minta tolong kepada kita agar menghiburnya, supaya semangatnya kembali dan Alena mau melanjutkan pendidikannya," ucap Zero lagi.

__ADS_1


Vano sedih, kenapa nasib gadis yang dia cintai begitu malang. Dalam hal ini yang bisa membantunya adalah Zero. Namun diapun bersedia ikut bersama Zero ke rumah Satria untuk menemui Alena.


__ADS_2