SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 78. SEPERTI MIMPI


__ADS_3

Zero senang melihat keluarga Seto yang telah bersatu, tanpa dia sadari, titik air bening pun ikut menetes dari kedua sudut matanya.


"Ayo kita semua masuk! dan lanjutkan ceritanya di dalam," pinta Ibu seto yang telah melepaskan pelukannya.


Zero mempersilakan Pak Pradipta untuk masuk terlebih dahulu, lalu dia mengotak-atik ponselnya, mentransfer uang ke rekening Pak Pradipta senilai 50 juta, sebagai ucapan terimakasih karena telah melakukan tugasnya.


Setelah transaksi pentransferan berhasil, barulah Zero mengambil uang dari dalam karung, memasukkan ke dalam tas lalu menyusul mereka ke dalam rumah.


Pak Arya yang melihat Zero di ambang pintu segera memintanya untuk masuk.


"Silahkan masuk Dek!" ucap Pak Arya.


"Terimakasih Pak," balas Zero.


"Saya sangat berterimakasih, berkat jasa kalian, kami bisa berkumpul kembali," ucap Pak Arya lagi.


"Ini memang sudah tugas saya sebagai pengacara, untuk membela klien, tapi yang paling berjasa adalah Dek Zero karena dia telah berhasil membuat Tuan Royan mencabut perkara sebelum sidang di mulai. Jadi kerja saya tidak berarti apapun," terang Pradipta.

__ADS_1


"Bapak juga berjasa kok, walau kali ini mungkin lebih ringan," timpal Zero.


"Oh ya Pak, sekali lagi, selaku wakil keluarga ini, aku mengucapkan banyak terimakasih karena kesediaan bapak telah membantu mereka. Dan aku telah mentransfer sejumlah uang ke rekening Bapak barusan, kami berharap jika suatu saat kami membutuhkan bantuan lagi, kami akan segera menghubungi Bapak," ucap Zero.


"Yang kemaren saja sudah sangat berlebih Dek, jadi seharusnya tidak perlu ditambah," ucap Pak Pradipta.


"Nggak apa-apa Pak, aku hanya menjalankan amanah," ucap Zero lagi.


"Baiklah Dek, saya terima, tapi akan kami sumbangkan kembali yang separohnya kepada panti asuhan terdekat dari sini, sebagai sedekahnya hamba Allah. Kalau begitu saya permisi dulu, karena masih ada pekerjaan lain yang harus segera saya selesaikan. Pak Arya, selamat ya, sudah berkumpul kembali bersama keluarga," ucap Pengacara Pradipta sambil mengulurkan tangan.


"Belum tahu Dek, jika berdagang membutuhkan biaya yang cukup banyak, kemungkinan, saya akan mencari pekerjaan saja," jawab Pak Arya.


"Begini Pak, donatur sekaligus orang yang membantu mengeluarkan Bapak dari sel, ingin memberikan kesempatan. Ini ada dana 1M, silahkan Bapak kelola sebagai modal usaha. Semua terserah Bapak, dia hanya memantau dan melihat perkembangan usaha itu nanti melalui balik layar dan juga dari laporan yang aku berikan," ucap Zero sembari mengeluarkan uang tersebut dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.


Pak Arya sekeluarga terpaku melihat uang yang begitu banyak, mereka serasa bermimpi, apalagi Seto yang memang masih kanak-kanak. Seto memegang dan mengelus lembaran uang tersebut sambil berkata, "Wow...banyak banget Kak! Apa ini asli dan ini bukan mimpi 'kan Kak?"


Adik mencubit lengan Seto dan Seto pun mengaduh lalu berkata, "Kenapa kamu mencubit Kakak Dek? Sakit tahu!"

__ADS_1


Adik tertawa sambil berkata, "Berarti Kakak tidak sedang bermimpi, buktinya Kakak marah sama aku."


Semua yang di sana ikut tertawa melihat keduanya.


"Sudah! Kalian jangan bercanda lagi, siapin makanan buat Kak Zero, sebentar lagi kerabat dan tetangga juga pada datang 'kan untuk mendoa," perintah ayah kepada Seto dan adik.


"Iya Yah," jawab keduanya sambil berlalu ke dapur diikuti oleh ibu.


Kini tinggal Zero dan Pak Arya di sana, lalu Pak Arya melanjutkan obrolannya dengan Zero.


"Baiklah Dek, Bapak akan melakukan yang terbaik dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah orang misterius itu berikan. Tolong sampaikan ucapan terimakasih kami sekeluarga dan kami berharap mudah-mudahan suatu saat bisa bertemu dengan malaikat penolong kami itu," ucap Pak Arya.


"Iya Pak, nanti akan aku sampaikan. Yang terpenting sekarang, bagaimana usaha kita agar masyarakat di lingkungan sekitar kita ini bisa mempunyai pendapatan dan taraf hidup yang lebih baik dari sebelumnya."


"Betul! Bapak juga berencana akan mempekerjakan masyarakat sini, terutama para tetangga."


Pak Arya dan Zero terus mengobrol sampai Ibu Seto datang, mempersilakan Zero untuk menikmati hidangan yang telah mereka sajikan di ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2