SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 137. KECURIGAAN ROYAN


__ADS_3

"Nay keluar dulu ya Kak, mau melihat keadaan abah," ucap Nayla sambil mencium kening Royan.


"Tolong panggilkan Zero ya Nay, ada yang ingin aku bicarakan dengan dia," pinta Royan.


"Baiklah Kak, nanti Nay sampaikan kepada Zero.


Nayla pun meninggalkan ruang rawat Royan, lalu dia menghampiri Zero dan Zeya serta menyampaikan pesan Royan. Zeya yang mendengar permintaan sang kakak segera menimpali, "Kak Royan nggak asyik, malah Kak Zero duluan yang diminta masuk daripada aku adiknya," ucap Zeya pura-pura ngambek.


"Ya, sudah kamu duluan sana," ucap Zero.


"Nggak ah...aku mau keruangan abah aja sama Kak Nayla. Ayo Kak!" ajak Zeya sambil menggandeng tangan Nayla.


Zero pun masuk ke ruangan Royan dan berkata, "Bagaimana keadaan Kak Royan?"


"Nggak apa-apa kok Ro, sebentar lagi juga sembuh. Terimakasih ya Ro, sudah menolong Nayla dan abah."


"Sama-sama Kak, kira-kira siapa ya, yang mencelakai Kakak dan yang menculik Kak Nay serta abah. Terus...siapa pula yang melakukan usaha ilegal itu? Kak Royan pernah melanglang buana di dunia kejahatan, setidaknya pasti tahu siapa-siapa orangnya."


"Setahuku sudah nggak ada Ro, tapi aku curiga mama Shena, karena klien luar negeri 'kan selalu beliau yang mengatur sejak dulu. Bisa jadi mereka yang menjalankan usaha itu."


"Nanti aku coba bantu selidiki Kak, oh ya kak, proyek pembangunan yang di awasi oleh Bang Togar dan Bang Beni bagaimana Kak, kemaren aku tidak bisa hadir di sana," tanya Zero.


"Semua lancar Ro, sesuai yang kita inginkan. Oh ya, lokasi bekas rumah emak bagaimana Ro, apa mau kita bangun rumah lagi?" tanya Royan.


"Jangan rumah Kak, tapi bangun saja mushollah, jadi para warga yang ingin sholat berjamaah nggak perlu pergi ke kampung sebelah lagi. Biar jadi ladang pahala bagi beliau, karena tanah yang dibeli dengan hasil jerih payahnya, berguna bagi orang banyak."


Baiklah Ro, kamu infokan saja kepada Frengky biar dia yang atur pembangunannya sekalian.


"Aku dengar dari Pak lurah, pembangunan sekolah juga akan segera dimulai. Kemaren sedang proses pembersihan lahan. Dan sekolah akan di gratiskan, donatur yang akan membiayai semua."


"Syukurlah Kak, semoga segera terealisasi, supaya kebodohan di kampungku segera berakhir dan anak-anak bisa bersekolah dengan tenang tanpa harus was-was tentang biaya," ucap Zero.


"Iya Ro, sangat mulia hati donatur tersebut, aku jadi ingin mengenalnya, kamu bisa mempertemukan kami Ro?" tanya Royan.


"Maaf Kak, itu amanah dia, selamanya, dia tidak mau orang lain tahu," ucap Zero.


"Sekarang aku mau minta tolong sama kamu Ro, tolong atur anak buahku agar melakukan penjagaan ketat di rumah maupun di sini. Aku tidak mau terjadi hal buruk terhadap mama dan Nayla selagi aku di sini dan tidak bisa untuk menjaga mereka."

__ADS_1


"Iya Kak, Kak Royan tenang saja. Aku pasti akan membantu menjaga mereka. Aku permisi dulu ya Kak, karena hari ini mau ke kampus, untuk memastikan kapan tes ujian masuk akan diadakan."


"Baiklah Ro, sampaikan salam dan ucapan terimakasih ku kepada emak dan yang lain, mereka jangan khawatirkan aku lagi, Inshaallah sebentar lagi aku pasti sembuh."


Zero pun meninggalkan tempat itu dan menuju ke ruang rawat abah. Dia mengucap salam ketika masuk hingga membuat abah menoleh ke arahnya.


Abah yang sudah mulai sehat, tersenyum dan menjawab salamnya lalu meminta Zero untuk masuk.


"Kesini Nak, duduk dekat abah. Terimakasih ya sudah menyelamatkan kami, abah tidak tahu lagi bagaimana nasib kami dan yang lain jika kamu sampai terlambat datang kemaren."


"Iya Bah sama-sama. Zey...kamu di sini saja ya jaga Kak Royan dan temani juga Kak Nay. Aku mau ke kampus mastikan kapan ujian di mulai dan pulangnya sekaligus singgah ke tempat Ahmad, hari ini mereka sudah mulai jualan."


"Baiklah Kak, Kak Zero naik apa?"


"Naik ojek online saja, nanti pulangnya, aku sudah minta tolong Bang Togar agar menyusulku di toko Ahmad karena aku akan mengajaknya ke dealer untuk melihat-lihat."


"Nah...kalau ini aku setuju banget Kak, Kak Zero harus memiliki kenderaan sendiri u


untuk memudahkan Kakak yang kesana kemari, terutama untuk menjemputku," canda Zeya.


Zero pun pamit kepada ketiganya, lalu dia memesan ojek online. Sambil menunggu ojek datang, Zero pun menelepon Ahmad.


"Hallo Kak," terdengar suara Seto menyapa.


"Bagaimana kabar kalian Dek?" tanya Zero.


"Kami semua sehat Kak. Oh ya kak, sore ini ayah ada urusan ke kota, jadi kami ikut, rencananya besok sebelum pulang kami singgah ke rumah Kakak ya," ucap Seto.


"Silahkan Dek dengan senang hati. Tapi Kakak tidak tinggal di perkampungan pemulung lagi ya Dek, karena rumah di sana habis terbakar," ucap Zero.


"Jadi...tidak ada korban 'kan Kak, Kakak dan emak baik-baik saja?" tanya Seto khawatir.


"Alhamdulillah, kami selamat Dek hanya barang-barang semua habis. Kabari saja kalau sudah disini ya, nanti biar aku share alamat rumah yang baru," ucap Zero.


"Iya Kak, syukurlah semua selamat. Sudah dulu ya Kak, aku mau ke sekolah, ada kegiatan ekstrakurikuler," ucap Seto.


"Hati-hati di jalan ya," ucap Zero.

__ADS_1


Ternyata ojek online yang di pesan oleh Zero sudah tiba, lalu diapun berangkat ke kampus.


Kampus POLMED adalah tujuan Zero. Dia berencana akan mengambil jurusan Teknik elektro.


Sesampainya di kampus Zero langsung menuju ke bagian kemahasiswaan, untuk mendapatkan informasi, tak di duga di sana dia bertemu dengan Satria.


Satria adalah salah satu mahasiswa yang aktif di segala bidang, hingga dia di perbantukan untuk mengurusi penerimaan mahasiswa baru.


"Lho...kamu mau mendaftar di sini Ro?" tanya Satria.


"Iya Sat! Kamu kuliah disini juga?" tanya balik Zero.


"Iya, masih semester lima," jawab Satria.


"Bagaimana keadaan ayah Alena? Apa beliau sudah sembuh?" tanya Zero.


"Ayah Alena meninggal ketika kami sampai dan di kebumikan di sana. Maaf jika kami tidak mengabari kalian, saat itu Alena tidak sadarkan diri jadi kami semua panik, jadi fokus untuk menghiburnya," ucap Satria sedih.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, aku turut berdukacita Sat, jadi bagaimana keadaan Alena sekarang?" tanya Zero lagi.


"Alena selalu murung sejak ayahnya meninggal, keceriaannya hilang, dia lebih senang mengurung diri di kamar ketimbang keluar rumah. Hal itu membuat kami khawatir dan sedih," ucap Satria lagi.


"Dia rencananya mau kuliah di mana Sat?" tanya Zero.


"Aku bilang daftar disini saja, ambil tehnik sipil, biar aku bisa bantu jagain dia, tapi belum ada jawaban. Dia kehilangan semangat Ro," ucap Satria.


Sejenak Satria terdiam lalu dia berkata lagi, "Aku mohon Ro, kalau kamu punya waktu, jenguklah dia, siapa tahu semangatnya bisa kembali dengan kedatanganmu," pinta Satria.


"Begini Sat, aku akan hubungi Vano dulu, kalau besok kalian ada di rumah, aku dan Vano akan kesana. Kami akan berusaha menghiburnya."


"Terimakasih ya Ro, kami sangat berharap dia mau kuliah, dengan menyibukkan diri pasti dia bisa melupakan kesedihannya," ucap Satria lagi.


"Oh ya, ada yang mau kamu urus di sini?" tanya Satria.


"Hanya mau cari info saja kapan ujian masuk akan dilaksanakan," ucap Zero.


"Ini ada brosur, kebetulan aku membantu mengurusi pendaftaran mahasiswa baru. Jika perlu apa-apa kamu hubungi saja nomorku. Kamu sudah simpan nomorku 'kan?" tanya Satria.

__ADS_1


"Sudah... terimakasih ya Sat, kalau gitu aku pulang dulu. Insyaallah secepatnya aku akan menemui Alena," ucap Zero.


Satria pun mengangguk, dia sangat berharap, Zero betulan datang ke rumahnya besok, untuk menjenguk Alena.


__ADS_2