SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 91. MALU DENGAN PERILAKU MAMA SHENA


__ADS_3

"Pergi kamu! Ngapain musti kamu yang membersihkan kamar ini, untuk apa mereka dibayar! Toh selama ini rumah kosong, mereka enak-enakan hanya makan tidur saja. Biar hari ini mereka ada pekerjaan," ucap Shena.


"Nggak apa-apa Ma," ucap Zeya yang terus saja membersihkan kamar itu.


Shena yang masih kesal, keluar meninggalkan kamarnya, dia turun sambil menelephone seseorang dan janjian bertemu di sebuah cafe.


Zeya yang mendengar percakapan Mamanya di telephone sepintas lalu mendengar suara seorang laki-laki, dipanggil sayang oleh sang Mama merasa heran.


Kemudian Zeya meninggalkan pekerjaannya dan mengendap-ngendap mengikuti sang Mama agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Shena pergi mengendarai mobilnya dengan kencang menuju cafe tempat dia janjian dengan seseorang, sedangkan Zeya yang merasa penasaran pun mengikutinya dan melajukan mobil dengan jarak yang tidak begitu jauh dari sang Mama.


Melihat mobil sang Mama memasuki halaman sebuah cafe, Zeya pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sedikit jauh dari cafe tersebut.


Zeya bingung bagaimana cara masuk ke sana agar sang Mama tidak curiga. Dia melihat seorang ibu mengenakan topi dan masker, jadi membuat dirinya terinspirasi.


Penjual masker banyak di sekitar sana tapi penjual topi tidak kelihatan, kemudian Zeya mengejar ibu tersebut dan meminta tolong agar mau memberikan topinya dengan ganti rugi harga topi lima kali lipat.


Tadinya ibu tersebut keberatan, tapi karena Zeya terus memohon, akhirnya beliau setuju. Zeya senang, dia berharap dengan cara ini bisa mengintai sang Mama.


Zeya mengenakan topi tersebut, membeli masker dan mengenakannya, lalu berjalan masuk ke cafe di mana Mamanya sedang menunggu seseorang.


'Aku harus hati-hati, jangan sampai mama curiga, sebaiknya aku mengambil tempat duduk di belakang mama saja, agar aku nanti bisa melihat siapa laki-laki yang akan ditemui oleh mama,' batin Zeya sambil berjalan memutar dari pintu lain cafe tersebut.


Kini Zeya telah duduk beberapa meter jaraknya dari sang mama, dia melihat mamanya kembali menelephone, tapi tidak lama setelah itu masuklah seorang lelaki paruh baya yang membuat Zeya terkejut.


"Dia...bukankah itu Pak Hendra! bekas asisten pribadi almarhum Papa yang dipekerjakan dan di percaya oleh Kak Royan untuk mengendalikan bisnis ekspor beras," monolog Zeya.

__ADS_1


Zeya berusaha memasang telinganya tapi hanya terdengar sayup-sayup percakapan mereka. Sepertinya Pak Hendra menghianati Royan dan ada hubungan khusus dengan Shena.


Pak Hendra terlihat oleh Zeya tanpa segan memegang tangan, lalu sebelum pergi sempat mencium pipi mamanya.


Dia celingukan kesana kemari, seperti takut ada yang melihat, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.


Zeya masih menunggu, karena mamanya masih santai duduk sambil menikmati jus dan makanannya.


Ketika pelayan datang mengantar makanan ke meja Zeya, sejenak dia lengah, Shena sudah beranjak pergi dengan tergesa-gesa bersama seorang wanita tua yang baru saja tiba di sana.


Zeya bermaksud menikmati makanannya, tapi dia terkejut saat melihat kursi tempat Mamanya tadi duduk sudah kosong.


Lalu dia membatalkan niat untuk makan, terburu-buru mengambil uang dua lembar ratusan dari dalam tas serta memberikan kepada pelayan yang belum jauh meninggalkan mejanya.


Zeya pun berpesan agar pelayan tersebut memakan makanan yang belum sedikitpun disentuh serta mengambil saja kembalian uang itu untuknya.


Setelah itu Zeya pun berlari keluar, dia melihat mobil sang Mama sudah meninggalkan parkiran.


Saat di lampu merah, Zeya terpaksa berhenti karena ada polisi lalu lintas sedang bertugas di sana, akhirnya Zeya kecewa, dia kehilangan jejak Mama Shena.


Zeya pun memutuskan untuk pulang ke rumah almarhum Papanya, dia ingin menunggu mama Shena kembali. Zeya akan terus menyelidiki mama Shena yang menurutnya bertindak mencurigakan.


Sesampainya di rumah, Zeya menelephone Royan, dia menanyakan tentang Pak Hendra. Royan merasa heran kenapa tiba-tiba adiknya membicarakan tentang usaha beras yang ditangani oleh Hendra, padahal selama ini dia tidak pernah peduli tentang urusan perusahaan peninggalan papanya itu.


"Memangnya ada apa Dek? kok kamu bertanya tentang Pak Hendra?" tanya Royan.


"Aneh saja Kak, tadi aku melihat mama janjian bertemu dengan beliau di sebuah cafe, tapi aku tidak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan dan mama tidak tahu jika aku mengikutinya."

__ADS_1


"Mungkin hanya kebetulan saja mereka bertemu di sana Dek! Kamu jangan prasangka buruk dulu terhadap mama."


"Aku serius Kak! Pasti ada hal buruk yang mereka rencanakan dan tadi Pak Hendra juga memegang tangan serta mencium mama, padahal beliau 'kan masih punya istri. Lagian mama dari dulu nggak pernah berubah sukanya selalu sama suami orang."


"Hush...nggak baik ngomongi mama sendiri seperti itu dek! Pamali."


"Kan memang kenyataan Kak, dulu menghancurkan keluarga Kakak. Setelah Papa struk, mengganggu suami temannya dan ketika Om tersebut bangkrut ditinggal kabur keluar negeri, nah, sekarang dengan Pak Hendra. Mungkin saja di luar negeri juga banyak pria bule beristri yang di goda oleh mama," ucap Zeya kesal sekaligus malu dengan perangai sang mama.


"Sudahlah Dek, itu urusan mama dan mama yang akan menanggung konsekuensinya, yang penting kita sudah mengingatkan."


"Iya sih Kak! Tapi aku malu punya mama seperti itu yang kerjanya hanya merusak rumah tangga orang dan menguras hartanya. Oh ya Kak, aku akan terus menyelidiki apa sebenarnya yang mama rencanakan, aku tidak mau Mama akan menusuk kakak dari belakang dengan merayu Pak Hendra."


"Ya sudah, kamu selidiki tapi hati-hati jangan sampai ketahuan mama, nanti mama semakin membencimu. Bagaimanapun, beliau tetap orang tua kita."


"Aku tutup dulu telephonenya ya Kak, mau lihat keluar, sepertinya ada tamu yang datang."


"Ya, Kakak juga mau menemui dokter, hari ini hasil pemeriksaan laboratorium Abah keluar. Dokter di sini ingin tahu lebih detail tentang penyakitnya Abah."


Setelah menutup ponselnya, Zeya segera turun, di sana dia melihat beberapa orang preman menanyakan tentang mamanya.


"Maaf...ada keperluan apa ya mencari mama saya?"


"Kami mau menagih janji, dia masih punya hutang lama dengan kami. Kami tahu dia baru pulang dari luar negeri."


"Memangnya mamaku hutang apa dengan kalian?"


"Sampaikan saja, Bonar dan kawan-kawan datang mencarinya. Jika dia tidak menemui kami, kami akan datang lagi kesini, mengambil ganti hak kami!"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Bonar dan kawan-kawannya pun pergi. Zeya bingung, apa sebenarnya yang dilakukan sang mama hingga bisa berhubungan dengan para preman itu.


Zeya kembali ke kamarnya, dia menelephone mama Shena, tapi ponsel mamanya tidak aktif, lalu dia menelephone Zero, memberitahu bahwa besok pagi dia ingin bertemu, ada yang ingin Zeya ceritakan dan meminta pendapat Zero.


__ADS_2