SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 116. MALAM MENAKUTKAN BAGI ZEYA


__ADS_3

"Kamu tunggu di sini ya Zey, aku masuk dulu, jika ada aba-aba dariku baru kamu keluar, berarti aku butuh bantuanmu secepatnya," ucap Zero.


"Siap Kak! tapi hati-hati ya Kak. Lihat itu, penjagaannya sangat ketat, mereka hilir mudik, berarti mama lebih waspada kali ini," ucap Zeya.


"Iya, kamu benar. Aku pergi dulu ya!"


Setelah mendapatkan anggukan dari Zeya, Zero pun berjalan mengendap-ngendap di antara pepohonan yang ada di sekitar rumah tempat Bu Ambar dan Bu Riana di sekap.


Zero tidak ingin menimbulkan kecurigaan para penjaga yang siap kapan saja menembakkan senjatanya, makanya sebisa mungkin dia meredam suara langkah kakinya.


Walaupun Zero memiliki banyak keistimewaan tapi dia tidak mau selalu mengandalkan rompi dan kekuatan super yang sistema berikan itu untuk menyelesaikan setiap masalah.


Dia harus terus berlatih, baik dari segi trik, kekuatan fisik maupun mental, karena tidak ada yang tahu sampai kapan sistem akan ada dan menjadi keberuntungannya.


Zero mengambil beberapa batu kecil yang ada di dekat kakinya lalu dia melemparkan ke beberapa arah yang berlawanan dari tempatnya dan tempat Zeya saat ini bersembunyi untuk mengalihkan perhatian para penjaga.


Mendengar suara benda jatuh, para pengawal pun saling pandang lalu berpencar mencari asal suara. Kesempatan ini Zero pergunakan untuk segera menyingkirkan tiga orang penjaga yang masih berdiri di tempatnya.


Zero mendekat, Dia akan menyingkirkan satu persatu penjaga yang bertahan di pintu masuk.


Kembali Zero mengalihkan perhatian ketiga orang itu dengan melempar batu ke arah dimana teman mereka tadi pergi.


Tapi usahanya tidak berhasil karena satu orang dari ketiganya berkata, apapun yang terjadi, mereka bertiga tidak boleh pergi meninggalkan pintu masuk, sesuai dengan perintah nyonya atau resikonya mereka akan ditembak di tempat jika sampai ada penyusup masuk.


Ketiganya tidak bergeming dari tempatnya, malah mereka semakin waspada. Zero yang melihat hal itu kembali berpikir, akal apalagi yang akan dia gunakan untuk menyingkirkan mereka secepatnya sebelum teman-temannya kembali.


"Aku tidak punya pilihan lain, aku harus pergunakan poin kekuatanku," ucap Zero.


Zero keluar dari tempat persembunyiannya dengan berlari bagai angin, lalu dia menghantam satu pengawal dengan tasnya, menendangnya hingga terjungkal dan terkapar.

__ADS_1


Kedua pengawal yang lain terkejut, mereka tidak menyangka akan ada serangan tiba-tiba. Lalu mereka mengarahkan senjatanya ke Zero siap untuk menarik pelatuknya.


Belum sempat pelatuk di tarik, Zero secepat kilat menyambar kedua senjata tersebut dan segera mematahkannya seperti mematahkan sebuah ranting kayu kecil.


Kedua pengawal itu terbengong, tanpa membuang-buang kesempatan, Zero menerjang keduanya, menumbuk perut mereka dan menghantam tengkuknya dengan kekuatan penuh, hingga tak ayal lagi keduanya pun akhirnya terkapar menyusul temannya.


Zero menarik tubuh ketiganya ke dalam semak-semak, lalu dia membuka paksa pintu dan masuk ke dalam rumah itu.


Sesampainya di dalam dia melihat sekeliling, ternyata ada sebuah kamar yang sedang di jaga oleh dua orang pengawal.


Salah satu pengawal itu memergoki Zero, lalu dia berteriak mengatakan bahwa ada penyusup masuk. Para pengawal lain yang ada di dalam rumah itupun berdatangan.


Mereka mengepung Zero, tanpa belas ampun, beramai-ramai menghajarnya. Satu banding tujuh, jelas tidak sepadan, Zero terjungkal, kedua sudut mulutnya mengeluarkan darah, perut dan dadanya juga sakit.


Belum sempat dia berdiri tegak, mereka kembali menghantamnya hingga dia terkapar, tertelungkup di lantai hampir pingsan.


Dia melihat badan Zero diinjak oleh salah satu pengawal, hingga terdengar suara erangan dari mulut Zero.


Zeya menjerit, hingga membuat tujuh orang pengawal tersebut terkejut. Salah satu diantara mereka memberi perintah untuk menangkap Zeya.


Apakah daya tenaga seorang wanita, Zeya berhasil di tangkap, lalu dia diikat dikursi.


Pengawal-pengawal tersebut masih belum puas, mereka kembali menyiksa Zero hingga pingsan. Hal itu membuat Zeya histeris, dia menangis tapi tidak dihiraukan oleh para pengawal itu.


Kemudian mereka mengganggu Zeya, mencolek bibir dan wajahnya, bahkan salah satu dari mereka meminta yang lain untuk segera membuka pakaian Zeya.


Zeya berteriak, memaki, tapi malah menjadi bahan tertawaan bagi ke tujuh orang itu. Mereka tidak tahu jika gadis itu adalah putri dari bosnya.


Melihat Zeya yang melawan, bahkan meludahi salah satu wajah pengawal, membuat mereka murka.

__ADS_1


"Kamu berani melawan kami ya! baiklah manis, untuk hukumannya malam ini kamu harus memuaskan kami bertujuh dulu, baru setelah itu kamu harus melayani teman-teman kami yang masih ada diluar," ucap salah satu pengawal.


"Pengawal satu lagi berteriak, "Buka bajunya dan kita akan berpesta. Kamu! ambil minuman di kamar sebelah! malam ini kita semua akan bersenang-senang dengan gadis ini," ucap bos pengawal kepada salah satu anak buahnya.


Pengawal itupun segera pergi ke kamar yang di maksud, sedangkan dua teman lainnya, mulai membelai wajah Zeya sambil menarik paksa baju atasan Zeya hingga lengannya robek.


"Lepaskan aku! Lepaskan! kalian belum tahu siapa aku, hah!" bentak Zeya.


"Kami tahu Nona, kamu adalah wanita kami dan yang akan menghangatkan ranjang kami malam ini," ucap salah satu pengawal sambil meringis mesum hingga membuat Zeya jijik.


"Aku anak bos kalian! Jika mamaku tahu kalian memperlakukan aku seperti ini, akan ditebas batang leher kalian!" bentak Zeya.


"Ih...takut," ejek salah satu pengawal.


Minuman keras pun sudah tersaji di meja, mereka minum sambil tertawa-tawa dan mulai menarik-narik baju Zeya lagi, hingga beberapa kancing bagian depannya pun copot. Zeya berusaha menutupi belahan dadanya itu dengan kedua tangannya.


Zeya marah, dia menangis dan berteriak, "Dasar kalian bajingan! lepaskan aku! Kak Zero bangun kak!" ucap Zeya dengan lantang.


Semakin Zeya melawan, mereka semakin senang. Jeritan Zeya tidak mereka pedulikan, bagi mereka itu terdengar seperti erangan seorang gadis, yang membangkitkan birahi mereka.


"Sekarang giliranku dulu, cepat masukkan dia ke kamar itu! Pokoknya jangan ada yang mengganggu sebelum aku keluar!" ucap bos pengawal.


Zeya meronta, tangisnya pecah, malam ini adalah malam yang paling menakutkan baginya. Dalam bayangannya dia harus melayani begitu banyak pria, mungkin lebih baik dia memilih mati saja.


Saat melewati tubuh Zero, Zeya kembali berteriak, "Kak Zero bangun! Bangun Kak! hiks...hiks...hiks, tolong aku...tolong kak, tolong lepaskan aku dari bajingan-bajingan ini, hiks...hiks...hiks.


Sayup-sayup Zero mendengar suara teriakan Zeya yang minta tolong, tangan Zero mulai bergerak dan perlahan matanya pun mulai terbuka.


Sementara Zeya sudah di bawa paksa untuk masuk kedalam kamar, lalu bos pengawal itupun mengunci pintu, sedangkan yang lain di luar menunggu giliran.

__ADS_1


__ADS_2