
"Siapa tadi Bang? tanya Togar kepada Beni, saat Beni sudah menyimpan ponselnya.
"Royan, aku harus pergi sekarang Gar, aku akan menemui Royan, aku akan menukar diriku dengan mereka," ucap Beni.
"Tunggu Bang! Aku ikut, aku ambil kunci dulu," ucap Togar, sambil berjalan masuk untuk mengambil kunci motor.
"Jangan, kamu tetap di sini saja, jaga mereka, aku takut mereka malah nanti datang kesini menangkap yang lain," ucap Beni lagi.
"Tapi Bang!"
"Biar aku saja, jika mereka setuju membebaskan anak istriku, aku minta tolong bantu mereka untuk pergi dari sini."
"Baiklah, tapi Abang harus hati-hati, mereka sangat licik, apalagi Royan yang kita tahu sangat kejam."
Beni pun mengangguk, lalu dia bersiap pergi ke tempat yang telah disepakati dengan Royan.
Togar tidak bisa tinggal diam, dia lalu menelephone Zero untuk memberitahukan tentang Beni yang pergi menemui Royan.
__ADS_1
Zero mendengar ponselnya berdering, lalu dia mengeluarkannya dari dalam tas, ternyata panggilan dari Togar. Zero pun segera mengangkatnya.
"Hallo Bang, ada apa Abang menelephone?" tanya Zero.
"Bang Beni Dek, dia pergi menemui Royan, tadi Royan menelephonenya. Royan meminta Bang Beni menemuinya di Villa Indah Permai, itu tadi yang aku dengar," ucap Togar.
"Oke Bang, terimakasih infonya. Abang di rumah saja, jangan ada yang keluar rumah sebelum kami kembali. Aku akan menyusul Bang Beni, Abang jangan khawatir."
"Iya Dek," jawab Togar.
Zero yang sudah lebih dulu tahu di mana istri Beni di sekap, memang sedang menuju ke tempat yang di sebutkan oleh Togar
Setelah mengenakan Rompi, Zero berjalan masuk ke dalam Villa, melenggang, melewati penjagaan yang ketat.
Di sana berkumpul orang-orangnya Royan yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang bermain catur, ada yang lagi ngobrol dan juga beberapa orang sedang asyik menikmati minumannya.
Zero terus masuk ke dalam, di sana dia melihat dua orang anak buah Royan sedang berbicara pelan hampir seperti orang berbisik. Rasa penasaran membuat Zero ingin tahu apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
Ternyata mereka sedang membicarakan Royan, yang menurut mereka sekarang lemah, lebih menggunakan hati dan perasaannya ketimbang logika.
Zero semakin penasaran, dia pun mendekat mendengarkan semua pembicaraan kedua orang tersebut.
Dia masih belum yakin, apa benar Royan yang mereka bicarakan adalah Royan yang di kenal kejam dan tidak memberi ampun kepada setiap musuhnya.
Zero masih mendengarkan obrolan keduanya hingga dia mendengar bahwa Royan sendiri yang mengobati luka pada wajah istrinya Beni.
Untuk membuktikan omongan kedua orang itu, Zero akan membuktikan sendiri dengan mencari istri dan putra Beni ke dalam kamar dimana mereka di sekap.
Zero mulai memasuki satu persatu kamar, hingga di kamar terakhir, dia melihat seorang wanita paruh baya sedang makan bersama putranya.
Hidangan yang mereka makan sangat lezat, tidak layaknya seperti makanan yang diberikan kepada tawanan.
Putra Beni makan dengan lahap sambil bicara kepada ibunya, "Mak, ternyata Bos Royan itu baik ya, tidak seperti yang aku bayangkan selama ini. Tadi dia menghukum anak buahnya yang telah memukul Mak, hingga mengalami cidera yang sama seperti yang dia lakukan terhadap Mak tadi pagi. Dan sekarang Bos Royan malah memberi kita makan dengan makanan yang sangat lezat. Kalau begini aku mau Mak, di tahan oleh Bos Royan terus, daripada di luaran pun hidup kita terancam, kadang makan kadang tidak, sementara Bapak tidak ada tanggungjawabnya terhadap kita. Mungkin sekarang Bapak senang tinggal sendiri, bebas tanpa memberi kita nafkah, tanpa harus mendengar omelan Mak setiap hari."
'Oh...ternyata benar yang kedua orang tadi bilang. Royan telah berubah, Royan menjadi orang baik. Mudah-mudahan ini bukan jebakannya untuk Beni.'
__ADS_1
Setelah melihat kondisi keluarga Beni baik-baik saja, Zero pun keluar dari kamar itu, dia ingin mencari dan melihat rupa Royan sebenarnya.