SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 156. BINGUNG DENGAN PERASAAN SENDIRI


__ADS_3

Zero dengan mudah berhasil mengerjakan soal-soal ujian yang di berikan oleh pengawas, seperti biasa dialah orang pertama yang selesai dengan waktu sangat singkat.


Sistem telah membuat daya pikir Zero menjadi genius hingga pengawas pun heran, saat melihat dan memeriksa, lembar jawabannya mata para pengawas membulat.


Ujian pun selesai, tapi sebelum pulang, Zero menunggu Alena, barangkali dia masih membutuhkan tumpangan.


Alena keluar dari ruangan ujian, lalu di luar Zero melambaikan tangan kepadanya. Alena mendekat tanpa bicara apapun.


"Bagaimana ujian kamu Al? Apa kamu bisa menyelesaikannya?" tanya Zero.


"Bisa Kak," jawab Alena singkat. Dia hanya bicara seperlunya saja, selanjutnya selalu membisu.


Melihat Alena diam lagi, Zero mencoba memancing pembicaraan lagi, "Aku bersyukur, soal ujiannya tadi sangat mudah, jadi bisa aku menyelesaikannya dengan cepat. Mudah-mudahan kita semua bisa lulus dan di terima di sini ya Al?"


Alena tidak menjawab apapun, dia hanya mengangguk. Kemudian Zero bertanya lagi, "Satria mana ya Al?" tanya Zero.


"Barangkali masih ada pekerjaan dengan teman-temannya Kak," ucap Alena.


"Coba kita cari dulu yuk," ajak Zero.


Merekapun mencari Satria dengan keliling fakultasnya dan ternyata benar, Satria lagi fokus membahas sesuatu dengan teman-temannya.


Melihat Zero dan Alena di depan pintu, Satria pun menghampiri mereka, "Maaf Al, aku belum bisa pulang, masih banyak yang harus di kerjakan."


Sejenak Satria berpikir mungkin minta tolong ke Zero lebih baik daripada membiarkan Alena pulang sendiri.


Kemudian Satria berkata,"Ro, aku bisa minta tolong untuk antarkan Alena pulang? Aku nanti nyusul, aku pulang naik angkot saja, sambil mengambil mobil di bengkel," pinta Satria.


"Baiklah Sat, aku akan antar Alena pulang," ucap Zero.


"Terimakasih ya Ro," ucap Satria.


Kemudian, Zero mengajak Alena pulang, dia meminta bang Beni untuk mengantarnya ke rumah Alena.


Alena heran kenapa Zero bisa mempunyai mobil berikut sopir, padahal dia tahu bagaimana kondisi kehidupannya selama ini.


Tapi Alena bukanlah tipe orang yang ingin ikut campur atau terlalu kepo dengan masalah orang lain. Jadi dia cukup memendam pertanyaan itu di dalam hatinya.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Suasana hening, hanya suara mesin kenderaan saja yang terdengar dan alunan musik sendu yang di putar oleh Bang Beni.

__ADS_1


Bang Beni yang kurang nyaman dengan suasana seperti itu lalu mencoba memecah dengan pertanyaan, tentang arah rumah Alena.


Lalu keduanya sama menjawab dan terdiam, sebelum menyelesaikan ucapan masing-masing. Akhirnya Alena melanjutkan ucapannya dengan menyebut nama lengkap daerah tempat dia tinggal.


Tapi kemudian dia berkata lagi, "Pak, Saya turun di sini saja ya," pinta Alena.


"Lho memangnya kamu mau kemana Al, rumah kamu 'kan masih jauh, biar kami antar," ucap Zero.


"Nggak apa-apa Kak, di sini saja, aku akan singgah ke swalayan dulu, untuk membeli sesuatu," alasan Alena.


"Oh...ya sudah kalau begitu, biar kami tunggu di parkiran ya, kamu silahkan belanja," ucap Zero.


"Nggak usah Kak, 'kan tidak terlalu jauh lagi, aku bisa naik angkot nanti," ucap Alena lagi.


"Ya sudah kalau begitu. Bang Ben, tolong berhenti di depan swalayan sana ya!" pinta Zero.


"Oke Bos," ucap Beni.


Alena pun mengucapkan terimakasih, sebelum dia turun. Setelah itu, Zero pun segera meminta Bang Beni untuk melanjutkan perjalanan.


Zero terus melihat kebelakang, dia ingin memastikan bahwa Alena benar masuk ke dalam swalayan.


Zero meminta Bang Beni untuk berhenti, dan membalikkan arah mobilnya untuk mengikuti Alena secara diam-diam dari kejauhan, hingga melihat Alena masuk ke dalam rumah.


Di sana Zero meminta Bang Beni untuk menghentikan mobil dan diapun memperhatikan rumah itu untuk beberapa saat.


Bang Beni yang melihat Zero merenung di sana, lalu bertanya, "Kenapa Bos?"


"Ntahlah Bang, dia sangat berubah, sejak kedua orang tuanya meninggal," jawab Zero.


"Dia bukan gadis yang aku kenal dulu Bang, sekarang tidak ada lagi keceriaan dan kebahagiaan di matanya," ucap Zero.


"Bos, sepertinya Anda peduli dan sangat memperhatikan gadis itu, memangnya dia siapa Bos?" tanya Beni.


"Teman Bang," jawab Zero singkat.


"Teman spesial?"


Zero menggeleng. Kemudian Bang Beni pun berkata, "Jika menurut pandanganku ya Bos, aku melihat ada kecemasan, kekecewaan dan kesedihan di raut wajahnya, dan aku melihat Bos memiliki perhatian khusus terhadapnya, maaf jika aku lancang Bos!" ucap Beni.

__ADS_1


Zero terdiam, lalu menanggapi ucapan Bang Beni, "Dia dulu adalah orang yang aku cintai Bang. Aku sedih melihat perubahan sikapnya dan seperti yang Abang lihat barusan, bahkan terhadapku dia seperti ingin cepat-cepat menjauh begitu Juga dengan orang lain," ucap Zero sambil menghela nafas.


"Iya Bos, tadi pagi saat aku menjemputnya di tempat mobil mereka mogok, sepatah katapun tidak terdengar dia berbicara. Gadis itu murung sepanjang perjalanan," cerita Beni.


Lantas, pemuda yang tadi pagi bersamanya siapa Bos?" tanya Beni lagi.


"Kakak angkat, sekaligus teman masa kecilnya," jawab Zero.


"Bos nampaknya masih peduli dan memiliki perhatian lebih untuk gadis itu. Itu menurut penglihatanku ya Bos. Apa Bos masih mencintainya?"


Zero hanya mendesah, pertanyaan demi pertanyaan berputar-putar dalam benaknya. Apa benar yang dikatakan Beni, tapi dia sekarang sudah memiliki Zeya dan Zero yakin juga mencintainya. Atau mungkin perasaannya terhadap Alena hanya sebatas teman yang masih peduli akan kondisinya sekarang


Melihat Zero tidak menjawab sepatah katapun, Bang Beni lalu bertanya, "Kenapa diam Bos? Apa benar yang aku katakan atau Bos masih ragu, ragu dengan perasaan Bos sendiri?" tanya Beni.


"Ntahlah Bang, aku juga bingung dengan perasaanku. Tapi Bang, aku mencintai Zeya, aku yakin itu," ucap Zero.


"Kalau menurut pandanganku beda Bos," ucap Beni sejenak terdiam.


"Maksud Abang?"


"Bos dan Non Zeya memang dekat, tapi aku lihat keakraban hubungan Bos dengan Non, lebih cenderung seperti kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Beda dengan yang kulihat barusan, mataku susah tua Bos tapi tak mungkin salah lihat."


Zero tidak bisa berkata apapun lagi, dia cuma mendesah, memang dia merasakan ada sesuatu yang berat di dalam hatinya. Zero tidak bisa pungkiri, jika ada perasaan sedih, cemas dan tak rela dari dasar hatinya melihat Alena seperti itu.


Beni membiarkan Bosnya merenung memikirkan apa yang baru dia katakan. Melihat Zero menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, diapun kembali pokus dengan stir dan arah tujuan mereka.


Dalam matanya yang terpejam, ternyata kelebihan yang diberikan oleh sistem dalam hal menerawang, saat ini sedang bekerja. Di sana Zero melihat, Alena sedang meringkuk di dalam kamarnya, menangis sedih, meratapi ketidak beruntungannya.


Terdengar suara gadis itu sangat lirih di sela isak tangisnya, diapun berkata bahwa mengapa semua orang yang dia cintai harus pergi meninggalkannya.


Ibu dan ayahnya pergi, sedangkan dia juga kehilangan cinta yang tidak akan mungkin dia dapatkan lagi.


Alena di sana mengatakan bahwa akan membawa cintanya sampai mati.


Zero juga melihat, Alena mengemasi pakaian serta memasukkannya ke dalam tas, terus dia menulis pesan dalam secarik kertas yang samar terlihat oleh Zero dan tak terbaca isinya.


Zero tersentak, lalu berkata, "Bang, tolong putar balik. Cepat ya Bang!"


Apakah yang akan Zero lakukan? Dan mau kemanakah Alena? Serta apakah isi surat Alena itu? ikuti terus ya, ceritanya. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2