
"Hallo Yang, hallo...kamu dengar 'kan semua yang aku ucapkan. Aku berangkat sekarang ya, kamu di rumah 'kan?"
"Maaf Kak, percuma Kakak kesini, aku tetap tidak bisa menemuimu, hampir dua tahun kita pacaran, sikapmu tidak pernah berubah. Kakak tetap saja arogan dan terlalu posesif, sikapmu itu telah menyakiti kami. Okelah sebelum ini kakak menyakitiku, aku masih bisa memaafkan, aku menuruti semua kemauan Kakak, tapi kali ini sudah sangat fatal Kak! Kakak telah menyakiti orang yang paling berarti dalam hidupku, Abah...nyawaku Kak. Seandainya gara-gara perbuatan Kakak saat lalu, Abah sampai meninggal, seumur hidup... aku akan membencimu. Sekarang Abah sudah mulai pulih, kami telah memaafkan perbuatanmu, tapi sekali lagi maaf, aku tidak bisa meneruskan rencana pernikahan kita. Carilah wanita lain, yang bisa selalu menuruti kemauan Kakak dan kudoakan semoga Kakak hidup bahagia. Oh ya Kak, ucapanku untuk yang terakhir kali, semua barang pemberian Kakak, sudah aku mintai tolong seseorang untuk mengembalikannya, termasuk mobil. Mungkin besok pagi, semua barang itu, sudah ada di halaman rumah Kakak. Mengenai uang, yang pernah Kakak kasi ke aku dan Abah, sudah aku transfer balik ke rekening Kakak, silahkan Kakak Cek. Terimakasih atas semua perhatian dan kasih sayang yang telah Kakak berikan selama ini, hanya ini yang tidak bisa aku kembalikan Kak. Selamat tinggal Kak, semoga kebaikan akan menyertai hidup Kakak," ucap Nayla sambil menutup ponselnya sembari menangis.
Kali ini Nayla sudah bertekad, memutuskan hubungan dengan Royan adalah pilihan terbaiknya, walaupun dia tahu mungkin nyawa taruhannya jika Royan tidak bisa menerima keputusan ini.
Royan histeris, dia marah dan kecewa. Royan melempar ponselnya hingga hancur berantakan, dia mengamuk, melempar semua barang yang ada di dekatnya.
Belum puas dengan itu semua, Royan menembakkan pelurunya ke sembarang arah hingga peluru yang ada di dalam senjatanya itu habis.
Tubuh Royan luruh ke lantai sambil menangis, dia tidak pernah selemah ini dalam masalah apapun.
Sejak usia Royan 20 an tahun, dia telah malang melintang di dunia kekerasan, dunia mafia, hingga sekarang usianya menginjak 37 tahun, Royan belum pernah dikecewakan, belum pernah ditolak dan dibantah secara langsung oleh satu orang pun, termasuk wanita. Hari ini, Royan...si pembunuh berdarah dingin, bisa menangis gara-gara wanita yang bernama Nayla.
__ADS_1
Ingatan Royan kembali pada beberapa tahun silam, saat dia berusia 6 tahun, dia ditinggal pergi oleh sang Mama, karena mamanya tidak tahan lagi hidup bersama dengan Papanya yang keras dan tidak mau meninggalkan dunia hitam.
Mama Royan ingin membawanya pergi tapi sang Papa menolak keras, karena Royan adalah anak satu-satunya yang akan menjadi pewarisnya.
Diapun akhirnya dipisahkan secara paksa oleh sang Papa hingga Mama Royan harus pergi sendiri meninggalkan rumah itu tanpa membawa apapun.
Royan menangis sejadi-jadinya saat itu dan ingin ikut dengan sang Mama, tapi karena keegoisan Papanya dan juga karena hasutan seorang wanita simpanan sang Papa, akhirnya membuat Royan tidak bisa berbuat apa-apa.
Didikan keras dari sang Papa dan pergaulan di lingkungan dunia kejahatan, akhirnya membuat Royan kecil yang baik menjadi Royan yang kejam.
Saat usianya 12 tahun, Royan sudah diajarkan untuk menggunakan senjata, tim ahli didatangkan oleh sang Papa untuk memberi pengajaran kepada Royan.
Ambisi sang Papa telah membentuk Royan menjadi jiwa yang tegas, berani, kejam dan lebih hebat daripada pencapaian yang telah sang Papa dapatkan selama ini.
__ADS_1
Dan memang, sekarang usaha keras Papanya telah terbukti, keinginan beliau terwujud, Royan berhasil menguasai dunia bisnis sekaligus dunia mafia, 17 tahun telah membuatnya jaya, tidak mendapatkan tanding dari lawan bisnisnya.
Namun pertemuan yang tidak sengaja dengan Nayla, gadis cantik, baik dan lembut yang telah mengingatkan Royan akan sosok sang Mama, perlahan membuat Royan kembali memilliki hati.
Kini Royan bisa kembali menangis, setelah berpuluh tahun lalu air matanya kering, saat dia putuskan untuk menutup hati dan memutuskan untuk terjun di dunia kejahatan menggantikan sang Papa, ketika Papanya terkena stroke dan akhirnya meninggal.
Royan terus menangis, sambil memegangi kedua lututnya, dari mulutnya keluar ucapan yang terdengar seperti rintihan pilu seorang anak kecil.
"Mama...Ma, kenapa kau tidak pernah datang mencariku, Ma? Dimanakah dirimu Ma? Kenapa aku tidak pernah menemukanmu. Aku rindu, aku ingin berada dalam pelukanmu Ma, sekali saja, seperti dulu. Kenapa Tuhan tidak adil padaku Ma? Dia menjauhkan orang-orang yang aku cintai," ucap Royan lirih.
Sejak Royan memiliki kekuasaan, dia terus berusaha mencari keberadaan sang Mama dengan membayar seseorang, tapi hingga sekarang dia tidak menemukan jejak Mamanya.
Bahkan harapan terakhir Royan adalah menemukan makam sang Mama, jika memang beliau sudah meninggal.
__ADS_1