
"Anak nakal! Kenapa kamu menguping hah! Bagaimana coba jika dulu Papa tahu. Kamu 'kan tahu, bagaimana kerasnya sikap Papa, kamu bakal dihukum berat," ucap Royan sambil mengelus rambut adiknya.
"Aku tahu semua lho Kak. Aku juga tahu, bagaimana Mamaku dulu membohongi Papa, membuat surat keterangan palsu yang menyatakan bahwa Mama hamil agar dinikahi dan menghasut, supaya Papa mengusir Mama Kak Roy dari rumah. Mamaku jahat ya Kak, jahat sama kita semua. Aku benci dan malu punya Mama seperti itu, kenapa aku tidak dilahirkan dari rahim Mama Kak Roy saja. Mungkin dengan begitu, Papa pasti masih hidup sekarang."
"Kamu dengar dari siapa hah! Tidak boleh begitu Dek! walau bagaimanapun Tante Shena itu tetap Mamamu, jadi harus tetap kamu hargai."
"Kalau dia merasa sebagai seorang Mama, dimana dia Kak! Saat aku menangis minta gendong, saat aku lapar minta makan, saat aku sakit, saat aku memanggil dan ingin dipeluk olehnya seperti anak-anak lain?" ucap Zeya sambil terisak-isak dipelukan Royan.
"Dia bukan Mamaku Kak, aku tidak punya Mama, aku hanya punya Kak Roy, Kakak yang selalu menyayangi dan mengerti aku," ucap Zeya lagi sambil terus menangis dan membenamkan kepalanya dipelukan Royan.
"Sudahlah Dek, jangan menangis lagi, nanti Kakak ikut menangis, nasib kita sama 'kan Dek. Sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Mama."
"Tapi Mama Kakak pergi karena terpaksa, bukan karena tidak sayang dengan Kakak."
"Sudahlah, yang penting Kakak sayang sama Zeya sampai kapanpun. Oh ya, tadi kamu 'kan mau kasi kabar gembira buat Kakak, kenapa malah sekarang bersedih?" tanya Royan, yang mengingatkan adiknya sambil mengusap air mata di pipi Zeya.
__ADS_1
"Ayo senyum dan katakan sekarang, berita baik apa yang kamu bawa? Kakak jadi penasaran," ucap Royan sambil menarik kedua pipi adiknya agar tersenyum.
Zeya pun tersenyum, tapi dia kembali ingat bahwa sang kakak belum berjanji, dengan tersenyum manis Zeya pun mengacungkan jari kelingkingnya.
Royan yang tahu maksud dari Zeya, segera menautkan kelingkingnya ke jari kelingking Zeya sambil berkata, "Kakak berjanji, demi yang memberi kehidupan, demi Mama dan demi kamu, sejak hari ini dan selamanya, Kakak tidak akan lagi menjalankan bisnis ilegal. Kakak akan memperbaiki hidup, agar pantas untuk mengejar cinta Nayla lagi."
"Zeya yang mendengar janji dari sang Kakak pun bersorak kegirangan, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan memperdengarkan kepada Royan."
"Apa-apaan ini Dek, kenapa kamu merekamnya?"
"Ini sebagai bukti Kak, jika Kakak nanti ingkar janji."
Royan hanya bisa menggeleng, melihat tingkah dan ulah adik kecilnya itu.
Ternyata pembicaraan mereka juga dilihat dan didengar oleh Zero yang berdiri tidak jauh dari keduanya. Zero tersenyum melihat ulah gadis manja di depannya itu.
__ADS_1
Zero tidak menyadari jika di dalam hatinya, dia mengagumi gadis itu. Gadis yang sangat cantik, menggemaskan, manja, sekaligus mandiri dan yang utama baik hati.
Zeya memandang ke tempat Zero berdiri, dia merasa, seperti ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka, tapi Zeya tidak melihat siapa pun ada di sana, hanya ada dia dan Royan saja.
Sementara Franky saja, tadi beranjak pergi saat melihat dirinya datang menghampiri sang Kakak.
"Ada apa Dek? Kenapa kamu memandang ke arah sana?" tanya Royan heran.
"Aku merasa ada seseorang di sini Kak, yang memperhatikan kita," ucap Zeya yang matanya masih celingukan mencari-cari untuk membuktikan instingnya.
Royan tahu kelebihan tentang insting dari adiknya, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu, biarlah, siapapun yang mendengar pembicaraan antara dirinya dan Zeya, toh memang dia ingin berubah, sesuai janjinya kepada Zeya.
"Sudah, kamu jangan coba-coba untuk mengalihkan perhatian Kakak. Ayo cepat! Kakak 'kan sudah berjanji, kini giliranmu Dek, apa kabar gembiranya?"
"Hehehe...iya Kak. Kakak ingat saja," ucap Zeya sambil menyeringai.
__ADS_1
"Aku sudah menemukan keberadaan Kak Nayla Kak? dan aku sudah bicara banyak dengannya."
"Apa! Dimana Kak Nayla sekarang Dek, ayo cepat beritahu Kakak, biar kakak langsung menemuinya untuk meminta maaf," ucap Royan dengan menggoyang-goyangkan pundak sang adik karena dia tidak sabar lagi ingin segera menemui Nayla.