
Shena masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan oleh pelayan tadi, lalu dia menghubungi seseorang agar menyelinap masuk ke lantai atas. Dia terpaksa meminta bantuan dari anak buahnya untuk membuka paksa kamar dan ruang kerja Royan.
Setelah mendapat kode dari penyelinap, Shena bergegas ke arah balkon, ternyata anak buahnya sudah ada di sana. Kemudian Shena menunjukkan dimana letak ruang kerja dan kamar Royan.
Penyelinap itupun segera beraksi, dengan keahliannya dia berhasil membuka ruang kerja Royan. Melihat ruangan itu terbuka Shena pun segera masuk untuk mencari apa yang dia inginkan.
Shena membuka satu persatu laci meja kerja, tapi dia kesal karena dah mendapatkan apapun di sana. Laci tersebut kosong, tidak tertinggal satu berkas pun.
Kemudian Shena membuka lemari arsip, dia mengobrak-abrik arsip-arsip tersebut hingga mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan tersenyum licik, Shena memasukkan berkas yang dia dapatkan ke dalam tasnya.
Setelah itu Shena mencari kotak brankas yang biasa Royan simpan di lemari khusus. Saat menemukan brankas tersebut, Shena tersenyum dia senang usahanya kali ini untuk menyingkirkan Royan dari hidup dan dari bisnis peninggalan suaminya pastilah berhasil.
Dia berusaha membuka brankas tersebut, tapi tetap tidak berhasil karena tidak tahu kodenya.
Kemudian Shena meminta bantuan anak buahnya untuk membuka brankas tersebut dengan memberikan kode tanggal lahir Royan dan juga tanggal lahir Zeya karena menurutnya pasti Royan menggunakan kode dengan tanggal lahir orang-orang yang dia sayangi.
Namun hal itu tetap saja tidak berhasil, Shena teringat dengan Nayla, lalu dia mencari foto di galeri ponselnya saat Royan merayakan ulangtahun Nayla. Setelah mendapatkannya, diapun meminta anak buahnya untuk memasukkan kode dengan tanggal lahir gadis itu atau perpaduan antara tanggal kelahiran Royan dan Nayla.
Ternyata cara ini berhasil tapi Shena kembali kecewa, brankas itu telah kosong. Shena menggebrak meja untuk melampiaskan kekesalan hatinya, lalu dia membentak anak buahnya agar segera membuka kamar Royan.
__ADS_1
Pemuda itupun mengikuti perintah dari Shena untuk segera membuka kamar Royan. Shena memeriksa setiap sudut kamar dan juga lemari tapi dia tidak menemukan apapun di sana selain pakaian dan foto-foto kebersamaan Royan dengan Nayla.
"Bulset...ternyata susah sekali untuk menyingkirkan mu," ucap Shena kesal.
Kemudian diapun berkata lagi, "Sudahlah... kamu boleh pergi! Percuma saja apa yang kita lakukan, tidak ada apapun di sini, Royan terlalu cerdik dan licik. Pasti dia telah menyimpan barang-barang pentingnya di tempat yang aman, sebelum dia pergi."
Orang suruhan Shena itupun pergi, lalu Shena kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sementara Zeya terus melajukan mobilnya, menembus malam menuju ke pabrik pengolahan tehnya. Di sana, Zeya memiliki ruangan pribadi yang tidak seorangpun diizinkan masuk saat dirinya tidak berada di tempat.
Menjelang pagi Zeya tiba di sana, security pun merasa heran, kenapa Bosnya kali ini datang terlalu pagi. Lalu Zeya menjelaskan bahwa kedatangannya kali ini tidak untuk menginap makanya dia datang lebih awal dari biasanya.
Security itupun paham, lalu dia membukakan pintu masuk menuju pabrik dan menutupnya kembali sambil menunggu kedatangan para pekerja.
Zeya menyimpan tas yang berisi barang berharga Royan di ruangan khusus dan memasukkan ke dalam brankasnya. Setelah itu dia memutuskan untuk berkeliling melihat-melihat kondisi pabriknya.
Para pekerja yang baru saja datang merasa heran dan sungkan saat melihat Bos mereka sudah ada di dalam pabrik sedang melihat-lihat mesin produksi.
"Kalian jangan sungkan! Aku hanya melintas dekat sini tadi, makanya sekalian mampir, sebentar lagi juga aku akan pergi. Oh ya Bapak-Bapak dan Ibu apa ada keluhan tentang proses produksi kita?" tanya Zeya.
__ADS_1
"Nggak ada Non, semua aman, hanya terkendala masalah pemutikan daun karena musim penghujan."
"Baguslah jika begitu Pak, kalau masalah musim penghujan kita sabar saja, itu juga rezeki 'kan membuat kebun kita subur," ucap Zeya sambil tertawa kecil.
"Kami lanjut bekerja ya Non!"
"Silahkan, saya juga mau berkeliling kebun sebentar sebelum pulang. Jika ada keluhan, jangan sungkan, utarakan saja lewat wakil saya di sini, beliau pasti akan menyampaikan semuanya kepada saya."
"Baik Non," ucap para pekerja berbarengan.
"Saya permisi ya Pak, Bu..." ucap Zeya.
Para pekerja pun mengangguk, mereka senang mempunyai bos yang ramah dan baik, nggak seperti pemilik yang sebelumnya.
Walaupun Zeya masih sangat muda, tapi para karyawan pabrik maupun karyawan yang ada di kebun sangat menghormatinya.
Zeya berkeliling kebun di dampingi oleh wakilnya dan beberapa orang pekerja. Dia menanyakan banyak hal tentang pucuk-pucuk daun yang berkualitas dan hama yang biasa menyerang daun muda.
Setelah mendapatkan berbagai penjelasan, Zeya pun pamit, dia berjanji akan mengeluarkan bonus untuk para pekerja pada awal bulan depan karena pemasaran produk teh miliknya dua bulan ini sudah masuk pasar internasional.
__ADS_1
Para pekerja yang mendengar hal itu bersorak gembira, mereka salut dengan kepemimpinan Zeya, yang mampu membuat terobosan-terobosan baru hingga teh yang mereka hasilkan bisa terkenal bukan hanya di dalam negeri tapi juga sampai ke mancanegara.