SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 105. BERHASIL KABUR DARI RUMAH SAKIT JIWA


__ADS_3

Kembali Zero merampas senjata dari seorang pengawal lagi, sembari membekuk pengawal itu hingga terjungkal ke lantai dan berteriak kesakitan.


Pengawal yang satunya marah lalu mengambil senjata dan menodongkan ke sembarang arah sesuai arah pistol dan senjata yang Zero mainkan.


"hai...tunjukkan wujudmu! jangan kamu pikir aku takut dengan hantu ya! Jangan coba-coba mempermainkan ku!" ucap salah satu pengawal yang saat ini emosinya sedang meningkat.


Zero sengaja menjauh dari pintu menuju keluar rumah sakit, agar para pengawal fokus mengejarnya dan sejenak melupakan tugas yang Shena perintahkan.


Setelah kesepuluh pengawal itu mengikuti senjata yang melayang di udara hingga sampai di luar, Zero pun kembali beraksi.


Dengan kekuatan dan kecepatan gerakannya dia menendang, memukul, menghajar lima pengawal sekaligus hingga bergelimpangan ke tanah. Zero tidak ingin membuang-buang waktu, dia kembali menghajar mereka hingga pingsan.


Sementara yang lima orang lagi menembakkan senjatanya membabi-buta ke arah senjata yang di pegang oleh Zero, tapi hingga peluru mereka habis, sasaran yang mereka tuju tidak juga kena.


Zero merampas semua senjata mereka, lalu memukulkan ke arah lima orang pengawal tersebut. Mereka kocar-kacir dan hendak melarikan diri, tapi Zero tidak memberi ampun.


Keributan itu di lihat banyak orang tapi tidak ada yang berani ikut campur, bahkan banyak yang ketakutan karena melihat para pengawal tersebut bertarung dengan sesuatu tanpa wujud.


Hanya security yang mau tidak mau ikut turun tangan dan menelephone pihak kepolisian untuk mengamankan lokasi.


Zero setelah berhasil membuat sepuluh orang itu terluka dan pingsang, segera kembali ke ruangan Bu Ambar.


Kesempatan ini di pergunakan oleh Zero untuk membawa kabur Bu Ambar dan Bu Riana. Dengan memakai kursi roda dan menyamarkan Bu Ambar serta Bu Riana, Zero dan Zeya membawa mereka pergi dari tempat itu secepatnya.


Awalnya Bu Ambar histeris, tapi Bu Riana berusaha menenangkannya dengan mengatakan bahwa mereka akan bebas dan akan bertemu Royan.


Bu Ambar pun menurut, di balik wajah sendunya itu tersimpan kesedihan yang tidak terlukiskan lagi.


Saat Zeya sudah menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit, sekilas dia melihat mamanya bersama asisten pribadi almarhum Papanya tergopoh-gopoh berjalan ke arah pintu masuk.


"Selamat kita Kak, kita akan membawa mereka kemana ya kak?" tanya Zeya.


"Kerumahku saja, di rumah 'kan ada emak dan kak Kiara, jadi untuk sementara mereka bisa membantu merawat Bu Ambar," ucap Zero.


"Jika Bu Ambar mengamuk, apa kita bisa menghentikannya? Kakak lihat lah di wajahnya seperti ada kemarahan dan terlihat kadang sangat menyedihkan," ucap Zeya.


"Pasti bisa, paling nggak kita harus sanggup menjaga beliau sampai Kak Royan sampai," jawab Zero.

__ADS_1


"Mudah-mudahan kak Royan bisa segera sampai, jika kita panggil dokter jiwa nanti malah menimbulkan kecurigaan, hingga Mama bisa menemukan keberadaan mereka." ucap Zeya lagi.


Zeya kembali fokus menyetir, sementara Bu Riana terus menghibur Bu Ambar, agar beliau bisa tenang selama di perjalanan.


Kini mereka sudah memasuki area perkampungan pemulung, lalu Zero meminta Zeya memperlambat laju mobilnya karena dia melihat di depan gang ada sebuah mobil hendak keluar.



Shena yang melihat polisi, security, para pengunjung dan bahkan pasien yang sedang bermain di luar bersama suster pada berkerumun, merasa heran.



Kemudian diapun mendekat dan merasa terkejut saat melihat kesepuluh pengawalnya tergeletak di tanah dengan muka lebam, berdarah dan tidak sadarkan diri.



"Dasar para pengawal tidak berguna!" ucapnya sambil meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke ruangan Bu Ambar.




Mereka sudah tiba di depan pintu ruang rawat Ambar, eh... tiba-tiba seorang perawat berlari sambil berkata, "Maaf Bu, kamar itu telah kosong, mereka telah kabur dari rumah sakit."



"Bodoh! Bagaimana kalian bisa lengah, bukankah kalian berjanji akan menjaga sampai aku kembali. Ayo! cari mereka sampai dapat! Jika tidak, aku tidak akan segan lagi menyingkirkan kalian yang bertugas hari ini." perintah Shena.



Perawat itupun berlari menghampiri teman-temannya, lalu mereka berpencar, berharap bisa menemukan jejak Bu Ambar.



"Pasti ada yang menolong mereka, jika tidak mana mungkin perempuan tua itu bisa berjalan sendiri," ucap Shena.


__ADS_1


"Ayo kita keruangan dokter dulu, dia harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya," ajak Shena yang sangat marah.



Shena mengamuk di ruangan dokter, dia berkata kasar hingga membuat dokter hanya bisa menghela nafas.



Setelah puas marah, Shena segera meminta dokter, bagaimana pun caranya harus bisa memberi alasan kepada polisi bahwa kesepuluh pengawalnya tidak bersalah hingga mereka bisa terbebas dari jeratan hukum.



Kiara yang melihat Zero dan Zeya datang bersama dua orang wanita tua yang tidak di kenalnya segera memanggil emak. Emak pun bergegas ke depan, beliau juga penasaran ingin tahu, siapa wanita yang datang bersama Zero.


"Mak, perkenalkan ini Bu Ambar, mamanya Kak Royan dan yang ini Bu Riana, mereka saat ini sedang dalam masalah, jadi aku mohon boleh ya Mak, untuk sementara mereka tinggal di sini sampai Kak Royan, kakaknya Zeya kembali dari luar negeri. Saat ini Kak Royan sedang dalam perjalanan pulang, paling besok sampai tanah air."


"Iya Ro, nggak jadi masalah buat emak, Kiara antar kedua ibu ini kekamar Emak biar bisa beristirahat, nanti kita tidur di kamar Zero, biar Zero tidur di ruang tamu."


"Baik Mak, ayo Bu!" ajak Kiara.


"Pergilah istirahat Bu, tapi harap maklum dengan kondisi rumah kami," pinta Emak.


Setelah mengangguk keduanya pun pergi ke kamar emak diantar oleh Kiara, sedangkan Zero duduk bersama emak dan Zeya di ruang tamu.


Zero menjelaskan semuanya tanpa ada yang dia tutup-tutupi. Emak pun paham, lalu meminta keduanya untuk membersihkan diri sambil menunggu Mak dan Kiara yang akan menyiapkan makanan.


Sampai disini dulu ya sobat, dan hari ini aku rekomendasikan karya sahabatku Kak MinNami yang memiliki blurb karya sebagai berikut :


Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.


Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.


Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?


Mampir yuk sobat dan jangan lupa ya beri dukungannya juga di sana. Terimakasih πŸ™


__ADS_1


__ADS_2