
"Kak Nay...kamu kenapa? hallo, hallo...Kak! Ayo jawab, beritahu aku kakak kenapa kok menangis," tanya Zero dibalik teleponnya.
"Ayah Dek, ayah pingsan dipukul orang yang tidak kami kenal," ucap Nayla.
"Kakak dan abah sedang dimana ini?" tanya Zero.
"Nggak tahu Dek, kami diculik dan saat ini disekap di sebuah rumah yang jauh dari keramaian," ucap Nayla.
"Kakak tenang ya, jaga abah. Kami akan menolong Kakak," ucap Zero.
"Iya Dek, tolong sampaikan ke Kak Royan ya," pinta Nayla.
Terdengar suara tertawa seorang laki-laki lagi di sana, lalu dia berkata, "Percuma kamu minta tolong! Nggak ada yang bisa menolongmu, Royanmu sekarang pasti sudah mampus."
"Hallo...hallo, Kak Nay...siapa itu Kak?" tanya Zero, tapi sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa Kak? Kenapa dengan kak Nayla dan abah? Aku dengar dia menangis dan minta tolong, apa mereka diculik Kak?" tanya Zeya khawatir.
"Iya, gawat Zey. Sekarang kita ke rumah sakit dulu, nanti...jika sudah ada darah yang cocok dengan Kak Royan, kalian lanjut saja jaga Kak Royan biar aku yang akan mencoba menyelamatkan Kak Nayla," ucap Zero, yang berinisiatif membagi tugas demi menyelamatkan keduanya.
"Iya Kak, kenapa musibah datangnya beruntun. Entah siapa dibalik ini semua, apa mungkin mama atau saingan bisnis kak Royan," ucap Zeya lagi.
"Royan, Royan kenapa? anakku Royan mana? aku mau anakku!" ucap mama Ambar yang meronta ingin membuka pintu mobil.
Memang tadi mama Ambar tidak diberitahu tentang musibah yang menimpa Royan, jadi saat Zero dan Zeya menyebut-nyebut nama Royan, beliau pun dengar dan sekarang gelisah serta meronta-ronta minta turun dari mobil untuk mencari putranya.
"Tenang Nya, tenang...Den Royan tidak apa-apa, ini kita akan kesana untuk menemuinya," rayu Bu Riana.
"Iya Bu, tenang ya...Nak Royan tidak apa-apa kok," ucap emak menimpali.
"Mama Ambar menangis, dia mendekap bantal kecil yang ada di mobil sambil berkata, "Jangan ambil putraku! Jangan sakiti dia, dia tidak bersalah. Kau ambil semua milikku asal biarkan aku bersama putraku," ucap Mama Ambar sambil menangis pilu.
Bu Riana mendekap majikannya untuk menenangkan sambil berkata, "Nya...Den Royan baik-baik saja Nya, Nyonnya jangan cemas ya."
Zeya terus melajukan mobilnya dengan kencang, hingga dalam waktu kurang dari satu jam mereka pun sudah sampai di rumah sakit.
Zeya menghubungi anak buah Royan bahwa mereka sudah sampai dan agar secepatnya menghubungi dokter bahwa mereka siap untuk di tes darah untuk mendapatkan darah yang cocok buat Royan.
Tanpa menunggu lagi, anak buah Royan langsung menghubungi dokter, lalu dokter meminta suster untuk mempersiapkan semuanya.
Saat semua tiba di sana, yang pertama sekali minta diperiksa adalah Zeya. Karena dia merasa yakin darahnya akan cocok dengan Royan, kakaknya.
Tapi dia juga meminta dokter untuk memeriksa Mama Ambar sebagai cadangan sebagai antisipasi mana tau hasil tes darah yang dilakukan Zeya tidak berhasil atau tidak cocok.
Sebelum itu, dokter memberitahu, mereka harus memenuhi syarat sebagai pendonor.
Donor darah adalah orang yang memberikan darah secara sukarela untuk maksud dan tujuan transfusi darah bagi orang lain yang membutuhkan.
Semua orang dapat menjadi pendonor darah jika memenuhi persyaratan yang berlaku sebagai berikut :
Sehat jasmani dan rohani
Usia 17 sampai dengan 65 tahun.
__ADS_1
Berat badan minimal 45 kg.
Tekanan darah :
sistole 100 - 170
diastole 70 - 100
Kadar haemoglobin 12,5g% s/d 17,0g%
Interval donor minimal 12 minggu atau 3 bulan sejak donor darah sebelumnya (maksimal 5 kali dalam 2 tahun)
Dan Dokter menyarankan agar jangan menyumbangkan darah karena alasan :
Menderita kanker
Menderita tekanan dara tinggi (hipertensi)
Menderita kencing manis (diabetes militus)
Memiliki kecenderungan perdarahan abnormal atau kelainan darah lainnya.
Menderita epilepsi dan sering kejang
__ADS_1
Menderita atau pernah menderita Hepatitis B atau C.
Mengidap sifilis
Ketergantungan Narkoba.
Kecanduan Minuman Beralkohol
Mengidap atau beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS
Zeya memenuhi hampir semua syarat, hanya usianya saja yang masih 16 tahun, tapi itu masih bisa di tolerir karena kondisi darurat.
Sementara mama Ambar juga di nyatakan sehat, hanya sedikit gangguan mental saja.
Setelah beberapa tes dilakukan, sekarang tinggal menunggu hasil dari laboratorium.
Dokter keluar dari laboratorium, dan beliau memanggil perwakilan keluarga untuk mendapatkan penjelasan dari Dokter.
Zero segera maju untuk menjadi wakil keluarga, karena Zeya dan Mama Ambar masih beristirahat setelah proses tes darah.
"Jadi bagaimana Dok? apa hasilnya? apa ada yang cocok diantara mereka berdua," tanya Zero tidak sabar.
"Begini Dek, menurut hasil pemeriksaan, yang ada kecocokan adalah Bu Ambar, mereka sama memiiki golongan darah B negatif, sedangkan Dek Zeya golongan darahnya A."
"Oh mungkin Zeya ikut golongan darah Ayahnya atau juga mama kandungnya Dok, karena mereka satu ayah beda ibu," ucap Zero.
"Oh...mungkin saja Dek," timpal Dokter.
"Ayo sekarang juga kita lakukan transfusi darah ya Dek, karena kondisi Royan yang tidak bisa menunggu lagi. Tapi harus ada yang membantu menjaga Bu Ambar, yang bisa menenangkannya selama proses transfusi berlangsung," ucap Dokter.
"Iya Dok, biar Bu Riana saja, karena selama ini beliau yang selalu bisa menenangkan Bu Ambar," ucap Zero.
"Silahkan ajak Bu Riana ke ruangan dekat ruangan transfusi ya Dek, agar berganti pakaian dengan pakaian yang telah pihak rumah sakit sediakan dan mensterilkan anggota tubuhnya dengan disinfektan," ucap Dokter lagi.
"Baik Dok," ucap Zero sambil meninggalkan ruangan.
Zero segera menemui Bu Riana dan menyampaikan apa yang diminta Dokter, lalu setelah Bu Riana pergi untuk berganti pakaian, Zero pun segera menemui Zeya dan menceritakan semua yang telah Dokter tadi sampaikan.
Zeya kecewa karena ternyata darahnya tidak sama dengan Royan, tapi dia bersyukur mama Ambar memiliki golongan darah yang sama.
"Zey...selama proses transfusi, aku minta kamu, emak dan Kiara menjaga dan waspada di sini ya, aku akan mencoba melacak keberadaan Kak Nayla. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi dengan Kak Royan, tolong segera hubungi aku," ucap Zero.
"Baiklah Kak, pergilah...tapi kakak harus hati-hati, aku akan meminta pengawal Kak Royan untuk membantu kakak dan sebagian lagi harus tetap berjaga-jaga di sini," ucap Zeya lagi.
"Oke Zey...aku berangkat dulu, aku akan pamit dulu sama emak dan Kak Kiara."
Setelah itu Zero menemui emak dan Kiara lalu dia meminta mereka agar tetap mendampingi Zeya selama di rumah sakit.
Zero beralasan kepada emak, ada pekerjaan penting yang tidak bisa di tunda dan harus sekarang juga dilaksanakan.
__ADS_1
Emak pun mengizinkan Zero pergi dan memintanya untuk berhati-hati.
Zero segera meninggalkan rumah sakit tapi sebelum itu dia telah menerawang untuk mendapatkan petunjuk, dimana sebenarnya Nayla dan abah saat ini di sekap oleh si penculik.