
Zero, emak, Zeya dan Kiara sudah bersiap, mereka akan mengantarkan Zero dulu ke sekolah baru lanjut pergi ke mall untuk shopping sedangkan Royan hendak ke kantor lalu meninjau pembangunan di perkampungan pemulung.
Tapi sebelum Royan pergi dia telah memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan di rumahnya agar Mama Shena dan anggotanya tidak akan bisa masuk untuk menculik mama Ambar kembali.
Mama Ambar dan Bu Riana tetap di dalam kamar selama semua pergi dan semua kebutuhan mereka disiapkan oleh para pengawal.
Royan sebelum ke kantor, pergi menemui dokter jiwa untuk mengkonsultasikan masalah kesehatan mamanya dan Dokter pun bersedia datang ke rumah untuk melakukan perawatan.
Setelah mengkonfirmasi kapan Dokter akan ke rumah, Royan langsung menuju ke perusahaan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Zero kini sudah tiba di sekolah, sedangkan Zeya, emak dan Kiara langsung ke Mall. Saat Zero hendak masuk ke ruangan kepala sekolah, dia melihat Alena juga baru saja tiba di sana.
Ternyata Alena diantar oleh Satria yang lebih dulu masuk ke ruangan kepala sekolah. Satria menemui Tantenya karena ada pesan dari sang Papa untuk mendahulukan Alena sebab mereka akan berangkat siang ini keluar kota, untuk menjenguk Ayah Alena yang sedang tertimpa musibah.
Motor yang di kendarai ayah Alena di serempet mobil saat hendak menemui teman bisnisnya hingga beliau terluka parah dan sekarang dirawat di rumah sakit.
Zero yang berpapasan dengan Alena merasa heran melihat mata Alena sembab seperti habis menangis.
Alena saat ini berharap Zero tidak akan menegurnya, makanya sejak tadi, dia sengaja menundukkan wajah.
Ternyata Zero tidak bisa mengabaikannya begitu saja, dengan suara lembut Zero pun bertanya, "Kamu kenapa Al? Sepertinya habis menangis, memangnya ada masalah apa?" tanya Zero.
Alena masih diam, Satria yang baru keluar dari ruang kepala sekolah mendengar pertanyaan Zero langsung menjawab, "Ayahnya tertimpa musibah dan sekarang di rawat di rumah sakit yang ada di luar kota," ucap Satria.
"Jadi bagaimana keadaan beliau Sat?" tanya Zero lagi.
"Parah, kami saat ini juga masih menunggu kabar dari pihak rumah sakit. Seseorang memang telah menolong beliau dan sedang mengusahakan yang terbaik untuk perawatannya," ucap Satria lagi.
"Jadi...kamu akan berangkat kesana Al?"
Alena hanya mengangguk, dia tidak sanggup untuk menjawab karena takut kembali menangis.
"Inilah...aku baru minta kepada kepala sekolah agar Alena di dahulukan urusannya, sebab siang nanti kami sekeluarga akan berangkat kesana," ucap Satria.
__ADS_1
Zero sedikit heran kenapa Satria mengatakan kami sekeluarga, sementara setahu dia Alena tidak memiliki siapa-siapa di kota ini.
Tapi kemudian Zero menepis rasa penasarannya dan dia berkata, "Aku turut prihatin ya Al, semoga Ayah kamu cepat sembuh."
"Iya Kak, terimakasih,," ucap Alena.
"Masuklah Al, kamu selesaikan dulu urusanmu, kepala sekolah sudah setuju untuk mendahulukanmu," ucap Satria.
Alena pun masuk ke dalam ruangan untuk menemui guru yang mengurusi tentang ijazah mereka, lalu Satria mengajak Zero untuk duduk di luar sambil menunggu giliran Zero tiba.
Baru saja mereka duduk, tiba-tiba Vano datang, menarik kerah baju Satria dan memukulnya. Ketika dia hendak melayangkan pukulannya lagi, Zero berhasil menghalanginya.
Satria yang bingung, tidak tahu ada permasalahan apa lalu
berkata, "Apa-apaan kamu! Memangnya siapa kamu? Datang-datang mau main pukul saja!" ucap Satria.
Vino yang masih diliputi kemarahan, lalu berkata, "Kamu apakan Alena hah! Cepat katakan! Tadi aku lihat Alena turun dari mobilmu sambil menangis, sementara sudah beberapa hari ini aku mencari Alena dan bolak-balik ke rumahnya tapi dia tidak ada, rupanya dia sama kamu dan sekarang kau buat dia nangis, kamu memaksa dia kan! Ayo katakan dimana dia!" bentak Vino sambil hendak memukul Satria kembali.
Vino akhirnya tenang, lalu Zero menyuruhnya duduk dan meminta Satria untuk menjelaskan semuanya.
Satria menjelaskan tentang hubungannya dengan Alena dan kenapa keluarga Satria meminta Alena untuk tinggal dirumahnya.
"Jadi...kalian keluarga dan Alena sekarang adalah adik angkatmu," ucap Vano menyimpulkan cerita Satria.
"Iya kamu benar."
"Maaf... maafkan aku ya. Aku kira Alena hilang dari rumahnya dan kamu yang telah menculik dia. Karena aku setiap hari mencari dia dan tidak menemukannya di manapun. Setahu ku Alena juga tidak memiliki keluarga di sini," ucap Vano.
"Oke, nggak apa-apa. Terimakasih kau telah mengkhawatirkan adikku," ucap Satria.
Kemudian Zero gantian berkata, "Kemaren, pas kita ketemu di cafe, aku pikir dia..." Zero ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Kekasihku," ucap Satria sambil tertawa.
__ADS_1
"Kalian semua salah sangka, kami temenan sejak orok jadi nggak ada rasa canggung lagi, apalagi kami keluarga. Ya gitu deh...yang melihat kami, semua mengira, kami itu pasangan kekasih," ucap Satria lagi sambil tersenyum. Dia tahu kedua pria dihadapannya ini sangat mengkhawatirkan Alena.
"Oh ya Sat, tapi kenapa dia tadi menangis?" tanya Vano.
"Ayahnya kecelakaan Van di luar kota, aku juga baru tahu dari Satria," ucap Zero menimpali.
"Inilah makanya aku ikut datang kesini. Kepala sekolah 'kan Tanteku, jadi aku tadi menemui beliau agar mendahulukan urusan Alena, karena siang ini, aku dan orangtuaku akan menemani dia untuk menjenguk ayahnya," ucap Satria.
"Aku jadi malu sama kamu Sat, tadi main pukul saja. Sekali lagi maafkan aku ya," ucap Vano sambil mengatupkan kedua tangannya.
Kesalahpahaman itu berakhir jadi persahabatan, Zero, Vino dan Satria mengobrol banyak hal sambil menunggu Alena menyelesaikan urusannya.
"Setelah ini kalian berdua mau mendaftar kuliah dimana?" tanya Satria.
"Aku mau coba ikut tes di universitas negeri yang ada di kota ini saja Sat," ucap Zero.
"Kalau aku, ingin coba ikut tes ITB Sat, sebab orangtuaku akan pindah ke Bandung," ucap Vano.
"Wah...bakal nggak ketemu lagi kita Van," ucap Zero.
"Bisa sih, pas liburan aku main kesini. Jujur...sekarang aku tenang meninggalkan kota ini, Alena sudah tidak sendirian, ada kalian berdua yang bisa menjaganya," ucap Vano.
Walaupun Alena tidak bisa memberikan cintanya untukku, aku tetap tidak pernah membencinya. Aku tidak bisa membiarkan dia sedih, aku ingin melihat dia bahagia," ucap Vano lagi.
"Terimakasih Van, kalau kamu memahaminya. Aku mengenal Alena, kalau dia sudah mencintai seseorang, dia akan sulit untuk jatuh cinta lagi ke orang lain."
"Tapi, aku berharap suatu saat dia akan menemukan cintanya dan orang itu juga akan mencintai dia sepenuh hati," ucap Satria.
Saat Satria menyelesaikan ucapannya, Alena pun muncul di belakang mereka.
"Kak...ayo kita pulang, urusanku sudah selesai," ucap Alena.
Kemudian Satria dan Alena pun pamit kepada Zero dan Vano. Zero dan Vano turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga Alena dan mereka mendoakan, semoga Ayah Alena segera di beri kesembuhan.
__ADS_1