
"Sekarang sudah saatnya kamu pulang! 'kan sudah kenal dengan keluargaku, nanti kamu dicariin tuh sama Kak Royan, lagi pula hari pun sudah hampir senja. Ini... pesanlah taksi online, aku 'kan tidak tahu alamat rumahmu? tapi kamu download dulu ya, aplikasinya, tadi belum sempat ku download karena ponselku baru selesai di cas" ucap Zero sambil menyerahkan ponsel kepada Zeya.
Zeya tersenyum, ini kesempatan emas baginya untuk mendapatkan nomor ponsel Zero.
Sebelum dia mendownload aplikasi, Zeya memasukkan nomor kontaknya di sana dengan nama calon istri, lalu melakukan panggilan keluar ke nomornya agar nomor kontak Zero tersimpan di ponsel Zeya yang saat ini ada di balkon Villa milik Royan.
Setelah selesai Zeya pun mendownload aplikasi lalu memesan taksi online tujuan Villa. Kemudian Zeya mengembalikan ponsel itu kepada Zero.
Tidak lama menunggu, taksi online pun tiba, lalu Zeya pamit kepada emak dan semua yang ada di sana. Emak pun meminta Zeya agar sering main kesana.
Zeya meninggalkan rumah Mak Salmah sambil melambaikan tangan, dia tersenyum manis saat tatapannya bertemu pandang dengan tatapan mata Zero seakan dia ingin pamit secara pribadi lewat tatapan matanya.
Zero masih saja cuek, lalu dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan mengajak emak masuk.
"Mudah-mudahan, Nak Zeya nggak kapok main kemari. Emak senang dengan gadis itu, sudah cantik, ramah dan sepertinya gadis yang sangat baik, Ya 'kan Ro?"
Zero menanggapi ucapan emak hanya dengan berdehem, lalu dia pamit untuk mandi dan bersiap melaksanakan kewajibannya. Nanti malam Zero harus pokus belajar karena besok ujian akhir sudah di mulai.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, Zero pun belajar hingga jam sepuluh malam. Setelah itu dia memutuskan hendak tidur.
Namun saat matanya mulai terpejam, terdengarlah suara deringan dari ponselnya.
Zero mengambil ponsel dari balik bantal, lalu melihat siapa yang sedang memanggilnya. Diapun terkejut ketika melihat sebuah kontak dengan nama calon istri tertera di sana.
'Pasti ini ulah, gadis sableng itu!' batin Zero sambil menyimpan kembali ponselnya di balik bantal tanpa menerima panggilan tersebut.
Ponsel Zero terus berdering, hingga membuatnya kesal, lalu dia mengambil kembali dan segera mengecilkan volumenya.
"Aman!" monolog Zero.
Kemudian Zero memejamkan mata tapi entah mengapa pikirannya malah melayang-layang, terbayang saat-saat bersama Zeya.
Zero tersenyum sendiri ketika dia ingat gadis itu duduk di pangkuannya hingga membuatnya tidak berani bergerak dan dia ingat bagaimana wajah Zeya ketika memergoki Zero saat membuka rompi serta terbayang saat gadis itu tidur di punggungnya karena kelelahan.
__ADS_1
'Ah...ada apa ini, kenapa aku tidak bisa tidur dan malah teringat gadis itu. Ini nggak benar, mana mungkin aku menyukai gadis sableng seperti dia, lagipula aku tidak sebanding dengannya dan mana mungkin Kak Royan membiarkan kami dekat,' batin Royan.
"Aku harus tidur sekarang, takutnya besok kesiangan, bisa gawat terlambat ikut ujian," monolog Zero.
Dia kembali memejamkan mata tapi pikirannya kembali teringat pada panggilan Zeya, lalu dia mengambil ponselnya dan melihat di sana puluhan panggilan tak terjawab.
Ketika Zero hendak menyimpannya kembali dan berpikir besok pagi baru dia akan telephone balik, eh...ponselnya kembali berdering.
Zero tersenyum dan yakin bahwa itu dari Zeya, tapi ternyata bukan. Ada perasaan kecewa di dasar hatinya, mulut Zero menolak kedekatan gadis itu, tapi malah hatinya berharap. Mulut dan hati Zero saat ini tidak bisa sinkron.
Melihat panggilan itu dari ibunya Seto, lalu Zero pun mengangkatnya. Terdengar di sana suara Seto sedang mengucap salam dan Zero pun membalas ucapan tersebut.
"Ada apa Dek? Apa ibu sakit, kok kamu telephone Kakak malam-malam begini?"
"Tidak Kak, kami semua sehat. Hanya ingin memberitahu kabar gembira, ayah akan segera di bebaskan Kak, tuntutan terhadap ayah sudah ditarik," ucap Seto dengan nada sangat senang.
"Oh iya Dek, Kakak sudah tahu sejak siang, tapi karena repot, Kakak jadi lupa kasi kabar ke kamu. Kita patut bersyukur Dek, Kak Royan telah membatalkan tuntutannya. Selamat ya, kalian akan segera berkumpul dengan Ayah."
"Terimakasih banyak ya Kak, semua ini berkat usaha Kakak. Oh ya, Ibu dan adik juga titip salam dan berterimakasih sama Kakak, ibu mengundang Kakak kerumah pada saat hari kebebasan ayah nanti. Kami akan buat syukuran kecil-kecilan Kak untuk menyambut kepulangan ayah."
"Sudah dulu ya Kak, aku mau tidur, besok sekolah, takut bangun kesiangan."
"Oke Dek, selamat istirahat, mimpi yang indah ya!" ucap Zero lalu menutup ponselnya ketika sudah tidak terdengar lagi suara Seto di sana.
'Syukurlah, ternyata Kak Royan menepati janji dan aku tidak menyangka jika Kak Royan melakukan semuanya secepat ini," batin Zero.
Saat Zero kembali memejamkan mata, kembali ponselnya berdering, dia berpikir mungkin Seto lagi, ada yang lupa dia sampaikan kepada Zero.
Namun Zero salah, ada panggilan dari nomor tidak di kenal. Zero segera mengangkatnya, dia takut ada kabar penting dan ternyata di sana suara seorang pria yang seperti di kenalnya.
"Hallo Dek, maaf mengganggu kamu malam-malam."
"Ini siapa ya?" tanya Zero.
__ADS_1
"Ini aku Dek, Royan."
"Oh...Kak Royan. Ada apa Kak?"
"Besok siang bisa kita ketemuan Dek! Aku tunggu kamu di restoran garuda dekat pasar, ada yang ingin kubicarakan, sekaligus kita makan siang di sana."
"Baiklah Kak! Besok sepulang ujian, aku langsung ke sana."
"Oh...kamu ujian besok?"
"Iya Kak, ujian kelulusan."
"Selamat ujian ya, mudah-mudahan nanti lulus dengan nilai terbaik. Rencananya setelah lulus mau kuliah atau bekerja Dek?"
"Insyaallah... Keduanya Kak," jawab Zero.
"Bagus! Kakak dukung kamu, jika butuh bantuan jangan segan-segan ya, insyaallah... Kakak akan bantu."
"Terimakasih Kak."
"Ya sudah, selamat istirahat ya! Tapi jangan tutup dulu, ini ada yang nungguin kamu," ucap Royan sambil menyerahkan ponselnya kepada sang adik yang sudah tidak sabar sejak tadi.
"Hallo Kak," sapa Zeya.
"Hemm... ternyata kamu."
"Memang siapa yang Kak Zero harap nungguin Kakak selain aku?" tanya Zeya serius.
"Tidak ada," jawab Zero singkat.
"Kak Zero gitu ya! Telephone dariku nggak Kakak angkat, sedangkan dari Kak Royan langsung Kakak angkat. Apa Kakak nggak rindu sama aku? calon istrimu ini?" tanya Zeya dengan manja dan tanpa malu-malu, padahal sang Kakak masih duduk di sana, di meja kerjanya.
"Jadi kemaren, kamu yang masukin ya, nomor kontakmu ke dalam ponselku? Sok pede amat, pakai nama calon istri? Memangnya kamu yakin aku mau menjadikanmu calon istriku," ucap Zero tetap dengan nada dingin.
__ADS_1
"Yakin! Suatu saat, Kakak pasti akan menjadi suamiku. Aku pasti bisa mendapatkan cinta Kakak dan keluarga," ucap Zeya dengan penuh keyakinan hingga membuat Zero terdiam.
Royan yang mendengar percakapan adiknya pun hanya menggelengkan kepala. Dia mengenal betul sifat Zeya, yang memang tidak mudah menyerah, sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.