SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 169. MENGUNGKAP KEBENARAN


__ADS_3

Saat tidur bersama Mak Salmah, Bu Riana jadi punya kesempatan untuk berbincang tentang masalah kemaren yang sempat mereka bahas dan tertunda.


Tapi sebelum itu, Bu Riana menemani Nyonya Ambar dulu sampai beliau tertidur, setelah itu barulah Bu Riana mendekati Mak Salmah.


"Mak...maaf, apa saya mengganggu? Sebenarnya apa yang ingin Mak ucapkan dan sampaikan kepadaku kemaren? Aku jadi penasaran Mak?" tanya Bu Riana.


"Apakah Bu Ambar sudah benar-benar tertidur Bu?" tanya Mak Salmah.


"Sudah Mak, mungkin karena lelah dari kemaren selalu memikirkan keadaan Den Royan, makanya beliau hari ini cepat tidur." ucap Bu Riana.


"Oh begitu ya Bu. Ayo Bu, ikut saya! Sebaiknya kita ngobrol di sana, agar tidak mengganggu tidurnya Bu Ambar," ajak Mak Salmah sembari menunjuk sofa yang terletak di dekat lemari pakaiannya.


Bu Riana pun mengikuti Emak, mereka duduk di sofa, lalu emak memulai pembicaraan.


"Mengenai putramu Bu dan liontin peninggalan keluarga kalian?"


"Iya, memangnya kenapa Mak?" tanya Bu Riana semakin penasaran.


"Tunggu sebentar ya Bu, ada yang ingin aku tunjukkan pada Ibu," ucap Mak Salmah sambil berjalan menuju ke lemari pakaiannya.


Mak Salmah mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari pakaiannya itu, lalu beliau kembali duduk di hadapan Bu Riana dan menyerahkan kotak tersebut sambil berkata, "Bukalah Bu!" pinta Mak Salmah.


"Apa ini Mak?" tanya Bu Riana yang bingung, kenapa emak memberinya sebuah kotak perhiasan yang terbuat dari kayu berukir.


"Bukalah Bu!" pinta emak sekali lagi.


Bu Riana pun membuka kotak kecil itu, beliau sangat terkejut begitu melihat isinya. Tangan Bu Riana gemetar dan tanpa beliau sadari air mata sudah mengambang di kedua kelopak matanya.


Bu Riana pun mengeluarkan isinya, untuk memastikan keaslian kalung beserta liontin tersebut, lalu dia membuka liontin itu dan ternyata di dalamnya terdapat huruf Z seperti yang almarhum suaminya ceritakan.


Bu Riana menangis, dia tidak bisa lagi menahan air matanya yang turun meluncur di pipi tuanya itu. Beliau menggenggam dan mencium liontin itu sambil berkata terbata-bata, "Darimana Mak dapatkan kalung ini?"


"Apa benar itu kalung peninggalan keluarga besar suami Bu Riana?" tanya Mak Salmah.

__ADS_1


"Iya Mak, benar kalung ini yang dipakaikan oleh suamiku kepada bayi kami, sebelum dia diculik, ini kalung keberuntungan di keluarga besar mereka Mak! Makanya dipakaikan oleh suamiku kepada Bayi kami," ucap Bu Riana lagi.


"Mak, tolong dimana bayiku sekarang? tolong ceritakan dari mana Emak mendapatkan kalung beserta liontin itu Mak?" mohon Bu Riana sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


Emak sesaat terdiam, mungkin sudah tiba saatnya beliau harus jujur, mengatakan tentang masa lalu Zero kepada ibu kandungnya.


Beliau takut tidak akan ada kesempatan hidup lagi untuk bisa mengungkapkan semuanya saat dirinya terbaring di ruang operasi.


"Aku menemukannya diantara onggokan sampah bersama tubuh putramu Bu," ucap Emak.


"Jadi saat ini putraku ada di mana Mak?" tanya Bu Riana tidak sabar lagi.


"Dia ada di rumah ini, dia putraku," ucap Mak Salmah.


"Apa Mak, berarti dia...?"


"Iya, Zero adalah putramu yang hilang sekitar tujuh belas tahun yang lalu.


"Sekarang Bu Riana sudah tahu kalau Zero itu anak kandung Ibu, tapi aku mohon Bu, kita cari waktu yang tepat untuk mengatakan kebenaran ini kepada Zero. Kita tidak ingin dia shok karena rahasia ini," ucap Mak Salmah.


"Baiklah Mak, aku juga tidak ingin memaksa, mengetahui putraku masih hidup, sehat dan gagah saja aku sudah bersyukur Mak. Sekali lagi terimakasih Mak, telah merawat dan mendidik putraku hingga tumbuh menjadi pemuda yang sangat baik," ucap Bu Riana lagi.


"Sama-sama Bu. Sekarang, ayo kita tidur, jangan sampai besok bangun kesiangan," ajak Mak Salmah.


Akhirnya mereka pun tidur dan bangun saat panggilan subuh berkumandang begitu juga dengan yang lain.


Setelah menjalankan ibadah,


Pelayan dengan di bantu oleh Emak, Bu Riana, Kiara, Nayla dan juga Zeya telah mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.


Karena kursi makan jumlahnya terbatas, maka mereka memutuskan untuk makan sambil duduk bersama dilantai dengan beralaskan tikar.


Suasana yang ramai jadi seperti sedang ada syukuran. Ya bisa di bilang pagi ini acara syukuran sederhana untuk menyambut kepulangan Zeya dan juga syukuran untuk keselamatan semua yang berhasil pulang, sekaligus mendoakan yang telah gugur dalam tugasnya.

__ADS_1


Royan merasakan moment kekeluargaan yang begitu kental saat berada di rumah Zero, hingga dia ingin membentuk keluarga yang seperti ini kelak bersama dengan anak cucunya.


Setelah selesai sarapan dan berbincang, semuanya pamit pulang, termasuk Bang Beni.


Royan sekeluarga mengucapkan terimakasih kepada emak dan kepada yang lain karena telah bersedia menampung mereka semua.


Sebenarnya Bu Riana juga masih ingin di sini, beliau ingin memeluk Zero dan mengatakan bahwa dialah ibu kandungnya, tapi Bu Riana sadar, hari ini belum waktunya untuk dia mengungkapkan kebenaran tersebut.


Saat berjabat tangan dengan Zero, rasanya Bu Riana tidak ingin melepaskan tangan putranya, tapi dia harus segera pergi karena Royan dan Bu Ambar sudah menunggunya di dalam mobil.


Mereka melambaikan tangan kepada Mak Salmah, lalu menghilang di bawa pergi oleh kenderaannya masing-masing.


Kini keadaan rumah Zero lengang kembali, hanya tinggal Zero, Zeya, Kiara dan Emak serta beberapa orang pelayan.


Zeya sementara akan tinggal di rumah Zero sampai Royan kembali dari berbulan madu. Dia tidak ingin sampai mama Shena menyekapnya lagi, jika nekat tinggal sendirian di rumah Royan.


Zero yang melihat Zeya masih saja berdiri di sana lalu menarik lengan Zeya sambil berkata, "Ayo, kita masuk! Ngapain bengong di sini Zey," ajak Zero.


Iya Kak," ucap Zeya.


"Oh ya Zey, sebentar lagi aku ada rencana mau keluar, kamu mau ikut atau di rumah saja Zey? Aku akan pergi meninjau proyek di perkampungan pemulung yang katanya hampir selesai," ucap Zero.


"Aku di rumah saja ya kak, bersama emak dan kak Kiara, mau istirahat, karena penyekapan kemaren rasanya badan ini staminanya belum fit."


"Apa perlu aku panggilkan Dokter?"


"Nggak usah Kak, istirahat yang cukup dan makan teratur, mungkin bisa segera pulih. Kemaren karena aku nggak mau makan, semua yang mereka sajikan, makanya tubuhku melemah."


Nanti aku akan minta tolong ke Kak Kiara untuk masakin kamu sup daging, biar tenaga kamu bisa cepat pulih," ucap Zero.


"Terimakasih Kak, sudah mengkhawatirkan aku."


Zero dan Zeya pun kembali ke dalam. Zero bersiap untuk pergi, tapi sebelumnya dia menemui Kiara dulu untuk meminta tolong memasakkan sup dan menemani Zeya selama Zero keluar rumah.

__ADS_1


__ADS_2