SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 112. BERHASIL MENYELAMATKAN


__ADS_3

"Aku harus cepat menolong emak, aku tidak ingin hal buruk menimpa emak, aku belum membahagiakanmu Mak! Jangan tinggalkan aku!" teriak Zero sambil berlari secepatnya masuk kedalam kepulan asap.


Zero tidak mempedulikan dirinya, dia terus mencari Mak Salmah ke seluruh ruangan hingga akhirnya dia menemukan Mak dan Kiara pingsan. Tangan dan kaki mereka diikat tali hingga tidak bisa bergerak serta di kunci di dalam kamarnya.


Dengan kekuatan supernya, dalam hitungan detik, Zero berhasil mengangkat tubuh Mak Salmah, menggendong dan membawanya berlari keluar dari pintu belakang dan merebahkan beliau di bawah sebuah pohon yang letaknya tidak terlalu jauh dari dapur.


Setelah itu Zero pun kembali berlari, masuk ke kamarnya, mengangkat tubuh Kiara, menggendong dan membawanya ke tempat dia merebahkan Mak Salmah.


Di rasanya aman meninggalkan emak dan Kiara di sana, Zero segera kembali ke dalam rumah untuk mencari Bu Ambar dan Bu Riana, tapi mereka tidak ditemukan dimanapun.


Zero mengulang kembali pencariannya, di tengah api yang berkobar, tetap saja hasilnya sama.


Sementara para warga tidak berani masuk ke dalam rumah karena api yang semakin membesar, mereka berusaha memadamkan api dengan air dari sumur warga terdekat tapi tetap saja sia-sia.


Bang Togar dan Bang Beni yang baru saja tiba, mencoba masuk ke dalam ruang tamu tapi segera di tarik oleh warga.


Mereka mengatakan, jangan sampai keduanya juga jadi korban karena menyelamatkan yang tidak mungkin untuk di selamatkan.


Bang Togar dan Bang Beni menangis sambil memanggil-manggil Mak Salmah dan Kiara, tapi karena banyaknya warga yang menghalangi mereka, membuat keduanya tidak berdaya, hanya bisa memandang rumah itu semakin habis terbakar.


Zeya, Nayla dan Royan yang baru saja tiba sangat terkejut. Zeya menangis dan menjerit, memanggil Mak Salmah, Kiara, Mama Ambar dan juga Bu Riana, sedangkan Royan bersimpuh di tanah, dia menangis, memandang rumah itu tanpa bisa berbuat apa-apa begitu pula dengan Nayla yang ikut menangis dan selalu berada di samping Royan, dia tidak bisa berkata apapun, selain mengelus punggung calon suaminya, memberi kekuatan dan berkata agar tetap bersabar, mereka harus ikhlas dengan apa yang sudah terjadi.


Para warga yang berkumpul di sana ikut menangis, mereka menyesal karena tidak bisa menyelamatkan satu orangpun.


Si jago merah telah melahap semuanya. Rumah Zero yang bahannya banyak terbuat dari kayu, sekarang habis, tinggal puing-puing yang satu persatu runtuh, jatuh ke tanah dan menjadi abu.


Zeya pingsan, Royan dan Nayla masih bersimpuh. Harapan Royan ingin bertemu sang mama, yang puluhan tahun dia rindukan, musnah ikut terbakar bersama jasad dan reruntuhan rumah Zero.


Togar, Beni, dengan di bantu warga membawa Zeya ke rumah tetangga. Sementara Royan masih tetap bersimpuh di sana.


Royan mengibaskan sebuah tangan yang menyentuh pundaknya, dia mengira itu adalah salah satu warga yang hendak mengajaknya pergi dari tempat itu.


Namun saat dia mendengar orang itu bersuara, diapun menoleh, sambil tergugu Royan berkata, "Kita terlambat Ro, orang tua kita sudah menjadi abu," ucap Royan sambil menangis dan memeluk Zero.


"Bangun yuk Kak! mereka selamat, aku tadi sempat memeriksa semua ruangan sebelum api berkobar menjadi besar, tapi aku tidak menemukan Mama kakak dan Bu Riana di dalam. Yang aku temukan hanya emak dan Kiara dengan kaki dan tangan terikat serta terkunci di dalam kamarku," ucap Zero.

__ADS_1


Royan membulatkan mata, memandang Zero tidak percaya, lalu dia mengguncang-guncang pundak Zero sambil berkata, "Kamu tidak bohong 'kan Ro, mereka benar selamat!" seru Royan.


"Selamat dari kebakaran iya Kak, tapi kita harus bertanya kepada emak dan Kak Kiara apa sebenarnya yang terjadi dan menanyakan keberadaan Bu Ambar serta Bu Riana, kenapa mereka tidak ada di dalam rumah," jawab Zero.


"Jadi Emak dan Kiara sekarang ada di mana Ro? Ayo kita temui mereka, aku ingin bertanya tentang mamaku," ucap Royan yang sudah tidak sabar.


"Dek...maafkan kami!" ucap Togar dan Beni hampir bersamaan.


"Kami tidak becus Dek, kami terlambat dan gagal menyelamatkan mereka. Warga menarik dan menghalangi kami saat mau masuk ke dalam rumah. Maafkan kami Dek, kami bersedia menerima hukuman apapun, kami rela sekalipun yang kamu meminta adalah nyawa kami," ucap Bang Togar dan Bang Beni sambil bersimpuh di hadapan Zero.


"Bangun Bang, semua selamat kok, kalau barang-barang dan rumah aku tidak peduli, yang penting tidak ada korban jiwa," ucap Zero.


"Maksudmu, emak dan yang lainnya selamat Dek?" tanya bang Togar.


Bang Togar, Bang Beni dan warga yang mendengar perkataan Zero merasa tidak percaya, apalagi Zeya yang baru sadar dari pingsan dan kebetulan berlari keluar mencari Royan dan mendengar ucapan Zero.


"Benar itu Kak! Semua selamat?" tanya Zeya.


Zero pun mengangguk, Zeya spontan memeluknya sambil menangis. Zero tidak berani membalas pelukan Zeya, dia hanya berkata, "Sudah jangan peluk aku terus, nanti jika aku khilaf bagaimana?" ucap Zero menggoda Zeya sambil tersenyum.


Zeya pun malu dan langsung melepaskan pelukannya, lalu dia memeluk Royan kakaknya sambil berkata, "Kak...Mama Ambar masih hidup! mereka selamat Kak."


"Lho... Mama Ambar dan Bu Riana tidak ada dalam kebakaran itu Kak?" tanya Zeya kepada Zero.


"Iya, mereka tidak ada Zey, aku sudah mencari Bu Ambar dan Bu Riana ke semua ruangan, tapi tidak aku temukan mereka."


"Kalau begitu, pasti ini kerjaan seseorang Kak! mungkin saja kerjaan mamaku. Mama yang menyebabkan terjadinya kebakaran," ucap Zeya sedih.


"Kamu nggak boleh asal tuduh tanpa adanya bukti Zey! Itu mama mu lho, tidak baik menuduh sembarangan."


"Siapa lagi kak, orang yang mempunyai kepentingan dengan mama Ambar selain mamaku. Anak buah mama pasti telah menemukan tempat ini dan akhirnya mereka bergerak saat kita lengah," ucap Zeya lagi.


"Mungkin saja tebakanmu benar Dek, sekarang mamaku dan Bu Riana pasti ada di tangan Mama Shena. Ya sudah untuk memastikannya ayo kita temui dulu emak Zero dan Kiara," ucap Royan.


Kemudian Zero, mengajak Royan, Zeya dan warga menuju ke belakang rumah di mana dia membawa Mak Salmah dan Kiara tadi.

__ADS_1


Sesampainya di sana, mereka melihat emak dan Kiara sudah sadar, hanya kaki dan tangan mereka masih terikat tali karena tadi Zero terburu-buru jadi belum sempat membukanya.


Zero dan Royan membuka ikatan tersebut, lalu mendudukkan emak serta Kiara hingga bersandar ke tubuh Zero dan juga Royan, sedangkan salah satu warga bergegas mengambil air minum lalu memberikannya kepada emak dan Kiara.


Setelah emak sadar sepenuhnya dan merasa tenang, barulah Zero bertanya, "Mak... sebenarnya apa yang terjadi?"


"Emak pikir, kami sudah meninggal Ro, rasanya sulit di percaya jika kami bisa selamat, itu rumah kita saja sudah rata dengan tanah. Siapa yang menyelamatkan kami Ro? emak mau mengucapkan terimakasih," ucap Mak Salmah.


"Zero Mak, yang menyelamatkan kalian," ucap para warga.


"Maaf Mak, tadi kami tidak ada yang berani masuk, apinya sangat besar, syukurnya Zero datang tepat waktu, emak sangat beruntung punya anak pemberani seperti Zero," ucap Pak Lurah mewakili yang lain.


"Jadi Mak, Bu Ambar dan Bu Riana kemana? Aku tidak menemukan mereka di dalam?" tanya Zero.


"Mereka di bawa pergi oleh seorang wanita dan anak buahnya, kalau emak nggak salah dengar, mereka memanggilnya dengan sebutan nyonya Shena," ucap Mak Salmah.


"Iya Dek, namanya Nyonya Shena. Kami di ikat oleh anak buahnya dan wanita kejam itu memerintahkan agar membakar kami hidup-hidup biar tidak ada saksi mata katanya," timpal Kiara.


"Mamaku memang kejam Kak, aku malu punya mama seperti itu. Maafkan aku Mak, Kak...gara-gara aku kalian celaka," ucap Zeya sambil tertunduk dan mengepalkan tangannya.


"Aku janji Mak, Kak...aku akan menuntut keadilan untuk kalian dan juga Mama Ambar. Mamaku harus di serahkan ke pihak yang berwajib, beliau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan jahatnya selama ini," ucap Zeya sambil berbalik hendak pergi dari tempat itu.


Selamat malam sahabat semua, mampir juga yuk ke karya sahabatku, jangan lupa beri dukungannya juga ya di sana. tinggal besok lho promo karya berakhir, terimakasih 🙏


Maaf jika tidak berkenan di hati para sobat semua🙏


Judul : Halaman Terakhir Kisah Shabira


Napen : Smiling27


BLURB KARYA :


Setelah menyelesaikan halaman terakhir novelnya, Livia langsung mendapatkan banyak sekali hujatan dari para pembacanya. Hujatan itu mengakibatkan dirinya terseret masuk ke dalam dunia novelnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, Livia tersadar kini sudah masuk ke dalam raga Shabira Lawrence, tokoh utama yang telah ia buat menderita selama hidupnya.


Tantangan demi tantangan akan Livia hadapi kedepannya, jika tetap ingin melanjutkan kehidupan Shabira yang seharusnya mati di akhir ceritanya. Livia tahu betul bahwa semua orang selalu tidak berpihak pada Shabira, bahkan anggota keluarganya sendiri. Akankah Livia tetap melanjutkan hidupnya sebagai Shabira? Atau ia akan tetap mengakhiri halaman terakhir kisah Shabira dengan cara bunuh diri, sesuai alur cerita yang sudah ia tulis?

__ADS_1


Ayo ikuti kisahnya!



__ADS_2