
Royan sudah diikat tangan dan kakinya lalu dia dihajar oleh kedua orang asing yang merupakan relasi bisnisnya dulu. Tapi Royan tidak terlalu mengenal mereka sebab Shena lah yang selalu bernegosiasi dengan keduanya.
Tubuh Royan ambruk ke lantai, wajahnya bengkak dan mulutnya berdarah. Lalu Shena berteriak, "Cukup untuk penyiksaan kita hari ini, aku tidak ingin dia mati terlalu cepat dan terlalu mudah. Masih ada yang harus aku lakukan terhadap ibunya sebelum dia mati!" teriak Shena kepada kedua orang asing tersebut.
"Pengawal! Bawa dia ke ruangan sebelah, dekat ruangan putriku di kurung. Jangan sampai lepas dan biarkan tangan serta kakinya tetap dalam keadaan terikat! Aku tidak ingin dia memperdaya kalian hingga bisa lari dari tempat ini!"
Lalu kedua pengawal itu melaksanakan apa yang telah di perintahkan oleh Shena. Sementara anak buah Royan yang berkhianat sekarang sedang menyiksa keempat anak buah Royan yang tadi tertangkap.
Empat lawan lima, dengan kaki dan tangan terikat, jelas bukan tandingan mereka. Mereka hanya pasrah dengan siksaan tersebut. Tapi mereka tetap dengan prinsip, biar mati, tapi mati terhormat daripada seperti temannya itu yang mengkhianati Bos Royan mereka.
"Kalian memang bodoh, Bos seperti itu masih saja kalian bela, percuma! pengorbanan kalian akan sia-sia. Anak-anak kalian akan jadi yatim, istri kalian akan jadi janda sementara Royan akan mati di tangan Nyonya Shena, jadi siapa yang akan menyantuni keluarga kalian hah! yang ada hanya keluarga kalian semua akan menjadi gelandangan," teriak sang pengkhianat diikuti oleh tawa keempat temannya.
"Diam mulutmu pengkhianat! Biar kami mati dan keluarga kami jadi gelandangan, tapi kami masih terhormat daripada kamu jadi kacung wanita ular itu yang suatu saat pasti juga akan disingkirkan," ucap salah satu anak buah Royan yang memilih mati lebih baik ketimbang berkhianat.
"Siksa lagi mereka, jangan beri mereka makanan dan minuman sebelum ada perintah dariku!" ucap lagi pengkhianat tersebut sambil meninggalkan ruangan dimana keempat anak buah Royan di sekap.
Zero yang belum tahu jika Royan dan yang lain tertangkap masih saja berkeliling villa tersebut, dia semakin bingung karena setiap dia memilih jalan akan balik lagi ke jalan awal dia datang tadi.
"Memang siapa sih perancang Villa ini, buat bingung orang saja," monolog Zero.
"Daripada aku keliling disitu-situ saja, lebih baik aku pakai rompiku biar bisa cepat menemukan Zeya. Kasihan Kak Royan dan Kak Nayla jika kami terlalu lama di sini. Kalau bisa hari ini juga membawa Zeya kembali lusa mereka bisa segera berangkat bulan madu," ucapnya lagi sambil mengeluarkan Rompi dari dalam tasnya.
__ADS_1
Kini Zero lebih bebas bergerak, dia sesuka hati jalan kesana kemari tanpa harus takut ada musuh yang akan melihatnya.
Tapi ternyata Zero salah, salah satu orang asing yang bersama Shena memiliki kemampuan supranatural, bisa melihat alam lain.
Saat Zero bertemu dengan mereka yang hendak keluar dari ruangan, orang asing tersebut memandang Zero sambil berkata, "Siapa kamu! Kenapa kamu bisa berada di sini, siapa yang memerintahkanmu untuk ikut campur dan datang ke villa kami!" teriak orang asing tersebut.
Shena dan satu temannya heran lalu berkata, "Siapa yang kamu lihat Frans, dan sedang apa dia di sini? Apa dia juga salah satu dari penyusup itu?" tanya Shena.
Mungkin, kalau tidak ngapain juga dia celingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu. Sebentar Nyonya Shena, aku akan membereskannya terlebih dahulu," ucap orang asing tersebut.
Zero tidak gentar walau orang itu bersenjata, lalu dia bersiap untuk melawan orang tersebut.
"Ayo, aku tantangi kamu, kita berkelahi tanpa senjata, aku ingin tahu sampai di mana kamu bisa melawan ku!" Tantang orang asing tersebut.
Saat Frans terdesak, dia buru-buru menarik senjata dari temannya dan menembakkan ke arah Zero. Zero sempat kaget dan tidak menduga jika lawannya licik, peluru hampir menembus dadanya jika dia tidak segera mengerahkan dengan penuh kekuatan supernya.
Peluru nyasar dan hanya mengenai lengan dan menggores kulit Zero saja. Darah mengucur ke lantai hingga membuat Shena dan temannya percaya jika Frans memang sedang bertarung melawan seseorang yang tidak tampak oleh mata mereka.
Zero marah, lalu dia menghajar dan menendang Frans dengan kekuatan penuh, lalu dengan sekali tendang di bagian dadanya, Frans pun terjungkal ke lantai sambil mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Tidak berselang lama, Frans sudah tak bernyawa.
Shena dan temannya kaget, lalu dia berteriak, "Siapa kamu sebenarnya, keluarlah dan tunjukkan wujudmu! Jangan seperti pengecut beraninya bertarung tanpa wujud!"
__ADS_1
"Pengawal siapkan semua persenjataan, perketat penjagaan semua tahanan termasuk putriku!" perintah Shena.
Semua pengawal yang mendengar teriakan Shena segera menjalankan perintahnya. Mereka sangat setia terhadap Shena karena dia berani bayar mahal dan berjanji akan memakmurkan keluarga mereka bila ada yang tewas dalam tugas.
Zhero bisa saja menghabisi Shena tapi dia masih mempertimbangkan karena Shena adalah mama dari Zeya.
Dari teriakan Shena tadi, Zhero jadi tahu jika Royan dan keempat anak buahnya sudah tertangkap dan saat ini ikut di sekap. Yang menjadi tanda tanya bagi Zero kenapa cuma empat, kemana satu orang lagi temannya itu, apa dia tewas atau masih bersembunyi agar tidak tertangkap.
Mama Shena masih waspada dan dia mengancam jika tidak menunjukkan wujudnya juga dia akan menyiksa Royan dan yang lain.
Zero tidak peduli dengan ancaman Shena, dia akan menyelamatkan semua orang yang Shena sekap. Bila Zeya mengizinkan dia juga akan memberikan pelajaran untuk wanita dan ibu yang tidak tahu diri ini.
Zero dengan santai meninggalkan tempat itu, dia bermaksud mencari di mana mereka menyekap Zeya, Royan dan yang lainnya.
Melihat tidak ada J
jawaban sama sekali dari lawan, Shena merasa kesal lalu berkata, "Ayo kita lihat tawanan, apa mereka masih aman atau tidak, aku tidak mau orang tanpa wujud ini mencampuri urusanku!" perintah Shena sambil meninggalkan tempat tersebut.
Lalu dia kembali berteriak, " Pengawal! Kalian bereskan itu mayat Frans dan buang ke laut saja karena kita tidak memiliki alat-alat untuk menguburkannya."
Setelah kepergian Shena, pengawal pun segera melaksanakan tugasnya, mengangkat tubuh Frans dan bersama-sama membuangnya ke laut.
__ADS_1
Zero terus saja mencari hingga dia melihat sebuah ruangan kaca yang tadi malam sempat dia lihat melalui pusaran sistem. Diapun berhenti di depannya sambil berkata, "Ini pasti ruangan tempat Zeyandi sekap, aku harus masuk sekarang untuk mengetahui apakah Zeya ada di dalam sana atau tidak," monolog Zero.