SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 158. MENDAPATKAN SOLUSI TERBAIK


__ADS_3

Satria mengantar Alena ke kamarnya, agar dia bisa beristirahat, dia tahu sejak Alena kehilangan kedua orangtuanya, pikirannya jadi labil, dia sering melamun dan menjadi tertutup dalam setiap masalahnya.


Sementara di ruang tamu, orangtua satria mencoba bertanya kepada Zero, apa sebenarnya yang dihadapi oleh Alena hingga dia memilih untuk pergi. Apa memang karena kesalahan mereka atau ada hal lain.


Zero diam, walau bagaimanapun dia harus mengatakan kebenarannya, agar keluarga Satria bisa membantu mencarikannya solusi.


Kemudian Zero mulai menceritakan awal mula dia mengenal Alena hingga akhirnya saling jatuh cinta, dan kesalahpahaman mulai terjadi sejak kehadiran Vano.


Tapi menurut Zero, mungkin ini memang takdir yang tidak berkenan mempersatukan dia dengan Alena, hingga hubungan merekapun berakhir.


Kemudian takdir pula yang mempertemukan Zero dengan Zeya, hingga mereka saling jatuh cinta.


"Jadi maksud Nak Zero, Alena pergi salah satu alasannya karena tidak bisa melupakan Nak Zero?" tanya Mama Satria.


"Ya Ma, aku sudah tahu itu sejak lama, Alena banyak bercerita tentang Zero, makanya waktu dia terus mengurung diri di kamar setelah kepergian ayahnya, aku langsung menghubungi Zero, karena aku tahu hanya dia yang bisa membuat Alena bahagia," ucap Satria yang baru saja muncul dari balik pintu tengah rumahnya.


"Makanya itu Sat, aku bingung, aku tahu dia sedang stres karena kehilangan orangtuanya ditambah lagi dengan masalah kami, pikirannya saat ini sedang kacau, itu makanya dia memilih untuk meninggalkan kota ini, pergi jauh demi menghindariku," ucap Zero sambil mendesah.


"Oh, masalah cinta toh," ucap Papa Satri yang mencoba memahami apa sebenarnya yang terjadi dengan putrinya.


"Iya Pa, jadi bagaimana solusinya ya Pa?" tanya Mama Satria.


"Iya Om, tolong bantu Saya, karena saya seminggu ini berjanji untuk mencarikan solusi agar dia mau bertahan tinggal di kota ini," ucap Zero.


"Solusinya terpulang ke kamu Dek? Apa kamu masih mencintainya atau tidak. Jika kamu tidak lagi mencintainya, biarkan dia pergi, mungkin itu yang terbaik buatnya. Tapi, jika memang kamu masih memiliki cinta untuknya, cegahlah dan kembali rajut cinta kalian," ucap Papa dengan gamblang dan terlihat mudah.


Itu yang saya tidak bisa Om, jujur perasaan saya mungkin masih ada untuk Alena, karena dia memang cinta pertama saya, tapi saya tidak mungkin menghianati Zeya, gadis baik yang selama ini telah menjadi kekasih saya.


"Untuk membiarkan dia pergi juga saya tidak tega, dengan jiwanya yang sedang labil, saya nggak yakin Om, Alena bisa hidup sendiri baik-baik saja di luaran sana," ucap Zero lagi.


"Siapa bilang saya akan membiarkan dia hidup sendirian di luar sana? Kebetulan bulan depan saya akan di pindah tugaskan lagi ke Padang, jadi membawa Alena ikut kami pindah, mungkin itu yang terbaik," ucap Papa Satria.

__ADS_1


"Oh jadi Papa dipindahtugaskan lagi Pa? kenapa mama baru tahu?" tanya mama Satria.


"Ya, karena Papa juga baru diberitahu Ma, ini surat tugasnya," ucap papa Satria.


"Jadi akan pindah semua ke Padang Om?" tanya Zero.


"Paling kami bertiga? Kalau Satria biarlah di sini dulu untuk menyelesaikan kuliahnya," jawab Papa Satria.


"Itu mungkin jalan terbaiknya Pa, untuk melupakan kesedihannya dan sekaligus melupakan kamu Ro," ucap Satria.


"Mungkin Sat, sekarang aku lega, Alena tidak bakal hidup sendiri di luar sana dan dia akan tetap bersama keluarga kalian," ucap Zero.


"Ya sudah jika begini solusinya Om, Tante. Sekarang aku permisi dulu, terimakasih ya Om, Tante, telah menyayangi Alena dengan sedemikian perhatiannya. Saya minta maaf karena telah merepotkan Om dan Tante," ucap Zero.


Kemudian Zero pun pamit kepada Satria. Satria memeluk Zero sambil berkata, sebenarnya aku ingin kau Ro yang suatu saat menjadi adik iparku, tapi biarlah takdir yang bicara. Kalian masih berjodoh atau tidak," ucap Satria.


Zero hanya diam, memang hanya takdir yang akan mempersatukan atau tidak setiap pasangan.


Satria menyiapkan motornya, karena menurut dia, saat sore begini lebih enak pakai motor ketimbang mobil yang hanya akan menimbulkan kemacetan.


"Dalam perjalanan, Satria kembali berkata, aku berharap sekali kalian berjodoh Ro, karena aku sangat mengenal Alena, walaupun dia pergi jauh, hatinya hanya tetap tertinggal di sini untukmu," ucap Satria.


"Dia harus bisa melupakan aku Sat, masih banyak pria baik dan gagah di luaran sana yang bisa mencintai dan membahagiakannya," ucap Zero.


Satria dan Zero sama terdiam, lalu Zero memberitahu jika mereka tidak lagi tinggal di rumah Kak Royan melainkan sudah pindah ke kompleks Puri Indah.


Satria pun mengantarnya ke Puri Indah dan sesampainya di sana, Zero meminta Satria untuk masuk, untuk berkenalan dengan Emak dan juga Kiara.


Satria tercengang melihat rumah Zero yang begitu besar dan mewah serta melihat mobil baru belum ada plat terparkir di halaman rumahnya.


"Wow, ternyata rumahmu sangat besar ya Ro, dan kamu juga sudah memiliki mobil," ucap Satria.

__ADS_1


"Hanya titipan Sat, semua harta di dunia ini bukan milik kita tapi semata hanya titipan," ucap Zero bijak.


"Ya, kamu benar Ro, mati pun yang kita bawa hanya lah kain kafan dan amal ibadah," timpal Satria.


"Sebentar ya Sat, aku panggil emak dan kakakku dulu," ucap Zero.


"Silahkan Ro!"


Zero bergegas ke kamar emak, ternyata emak tidak ada, lalu Zero menuju halaman belakang dan ternyata emak sedang santai di sana bersama Kiara.


"Kamu sudah pulang Ro? tadi Beni pamit pulang dulu, katanya mau mandi dan nanti malam dia janji akan kembali lagi ke sini," ucap Mak Salmah.


"Oh, ya sudah nggak apa-apa Mak, lagipula sudah tidak ada tugas hari ini untuk Bang Beni," ucap Zero.


"Mak, Kak, ada tamu di luar yang mengantarku pulang, dia ingin kenal Emak dan Kakak. Ayo Mak, Kak, temui dia," ajak Zero.


"Sebentar Ro, biar Kakak buatin minum dulu," ucap Kiara.


"Nggak usah Kak, sudah dibuatkan oleh Bibi."


"Oh, syukurlah. Ayo Mak, kita temui tamunya," ajak Kiara.


Melihat Zero datang bersama emak dan juga kakaknya, Satria bangkit dari duduknya, lalu menyalam tangan mereka dengan sopan.


"Kenalkan Sat, ini emakku, emak terbaik dan ini Kakakku yang paling pandai memasak," ucap Zero sambil tertawa mencandai emak dan Kiara.


"Jangan dengarkan omongan Zero Nak, dia memang paling pandai menggoda emak dan juga kakaknya," ucap Mak Salmah.


"Nggak apa-apa lah Mak, siapa lagi yang memuji emak dan Kakak kalau bukan anak dan adik sendiri," ucap Satria lagi.


Mereka pun ngobrol panjang lebar dengan Satria. Satria sangat senang dengan keramah tamahan keluarga Zero, hingga dia berjanji akan sering-sering main ke rumah Zero.

__ADS_1


__ADS_2