
Begitu melihat Zero tiba di rumah, Mak langsung bertanya, "Bagaimana kondisi mamanya Zeya Ro?"
"Lumayan parah luka-lukanya Mak, tapi sudah ditangani oleh Dokter dan sekarang sudah kami pindahkan ke rumah sakit yang lebih dekat dari sini," ucap Zero.
"Syukurlah Ro, jadi kami bisa ikut menjenguk beliau," ucap Mak Salmah.
"Iya Mak, nanti sore rencanaku mau balik kesana lagi. Kasihan Zeya, biar aku gantian menjaga mamanya."
"Kami boleh ikut Nak?" tanya Bu Riana.
"Iya Bu, nanti sore aku ajak, Ibu, Emak, Bu Ambar dan juga Abah ke sana. Sekarang aku mau siapkan pakaian ganti Zeya dulu ya Bu," ucap Zero.
Bu Riana pun mengangguk lalu beliau kembali ke kamar Nyonya Ambar, ingin memberitahukan keadaan Shena.
Zero bergegas ke dapur ingin meminta tolong kepada Kiara untuk membantunya memillihkan baju Zeya yang akan mereka bawa.
Setelah itu Zero kembali ke kamarnya, lalu dia menelepon Satria.
"Hallo Sat, aku minta tolong dong, kirimkan nomor Alena, soalnya nomor dia yang ada padaku tidak bisa dihubungi, apa mungkin dia ganti nomor ya atau memang tidak ingin kontakan lagi denganku," ucap Zero.
"Oh ya Ro, aku yang lupa kasi tahu kamu, minggu lalu tasnya dijambret, saat mama papa mengajaknya jalan-jalan ke Bukittinggi."
"Oh pantas saja, sudah dua hari aku hubungi tapi tidak bisa. Aku ingin ngomong dengan dia melalui telepon dulu Sat. Bukankah daftar ulang harus segera dilakukan, sedangkan aku belum bisa menemui dia langsung ke Padang, karena Zeya terkena musibah, mamanya dianiaya orang dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit."
"Apa! Jadi bagaimana keadaan Mama Zeya sekarang Ro?" tanya Satria.
"Sudah sadar sih, cuma luka-lukanya banyak, jadi masih butuh perawatan di rumah sakit."
"Di rawat di rumah sakit mana Ro?"
"Rumah sakit Materna yang searah dengan rumahku," jawab Zero.
"Oh...kalau begitu nanti sore aku usahakan kesana ya Ro, kalau saat ini belum bisa, karena aku sedang di kampus."
"Iya Sat, aku juga saat ini sedang pulang ke rumah, nanti sore baru balik lagi kesana untuk menemani Zeya. Jangan lupa ya Sat, kirimkan nomor Alena sekarang juga, lebih cepat 'kan lebih baik, siapa tahu dia berubah pikiran dan mau kuliah di sini," ucap Zero.
"Beres sobat, aku juga berharap dia mau balik lagi kesini, biar aku ada teman lagi di rumah," ucap Satria.
__ADS_1
Setelah itu diapun mengirim nomor kontak Alena yang baru ke kontak Zero.
Zero langsung menyimpan nomor Alena lalu dia mencoba menghubunginya.
Alena yang masih ingat dengan nomor ponsel Zero awalnya ragu untuk menerima panggilan tersebut. Tapi saat melihat Zero tidak putus asa, terus dan terus menghubunginya, Alenapun mengangkatnya.
"Hallo," ucap Alena.
"Al, bagaimana kabar kamu?" tanya Zero.
"Alhamdulillah sehat, Kak Zero sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik Alena.
"Alhamdulillah, aku juga sehat Al. Oh ya Al, kamu lulus lho di kampusnya Satria. Peserta ujian yang berasal dari SMU Nusantara, semuanya lulus. Kembalilah Al! Aku mohon, biar kita bisa menuntut ilmu lagi di tempat yang sama," ucap Zero.
"Maaf Kak, aku nggak bisa. Kalau aku kembali bakal susah untuk menjauhi dan melupakan Kakak. Rasanya sulit untuk mengikhlaskan Kakak buat cewek lain," ucap Alena jujur.
"Kamu yakin! bila jauh bisa melupakan aku Al?" tanya Zero.
Alena diam, dia juga belum yakin bisa tapi harus mencoba.
"Entahlah Kak! Tapi aku akan mencobanya," ucap Alena.
"Kak Zero nggak boleh egois, Kakak sudah memiliki Zeya, kenapa aku tidak boleh melupakan Kakak!"
"Aku ingin kamu Al, jujur...dari dulu, sekarang dan mungkin selamanya aku tidak bisa melupakanmu Al," ucap Zero.
"Kak Zero tidak bisa seperti ini, Kak Zero tidak mungkin memiliki cinta kami secara bersama."
"Siapa bilang tidak boleh! Aku mencintai Zeya karena dia adikku, kami satu ayah beda ibu. Dan aku mencintaimu, karena kau lah wanita impianku sejak dulu, tambatan hatiku," ucap Zero.
"Apa maksud Kak Zero? Zeya adik Kak Zero? Kakak jangan bercanda dan jangan membohongiku."
"Dari dulu apa pernah aku membohongimu Al?"
"Nggak sih Kak, malah aku yang pernah membohongi Kakak," ucap Alena.
"Sudah! jangan diingat lagi, itu hanya kesalahpahaman. Jadi, tolong Al, kembalilah! Demi aku, demi kita dan demi masa depan cita-citamu untuk menjadi sarjana sesuai harapan almarhum ayah dan ibumu," ucap Zero.
__ADS_1
"Aku akan bicara dulu dengan mama dan papa ya Kak? nggak enak sudah menyusahkan mereka membawaku pindah kesini."
"Iya, aku yakin mereka pasti setuju, kasihan juga Satria di sini tidak ada yang temani," ucap Zero.
"Besok malam aku kabari Kakak, karena malam ini kebetulan papa nggak pulang, lagi ada acara bersama teman-teman kantor kata Mama."
"Baiklah Al, aku tunggu ya, aku sangat berharap kita bisa balikan dan kamu kuliah di sini. Aku tutup dulu teleponnya ya, mau ke rumah sakit lagi temani Zeya."
"Memangnya Zeya sakit Kak?"
"Bukan Zeya tapi mamanya."
"Oh, kalau begitu titip salam buat Zeya ya Kak, mudah-mudahan mamanya cepat sembuh."
"Iya Al, nanti aku sampaikan."
Mereka pun mengakhiri pembicaraan, hati keduanya berbunga-bunga dan yang pasti bahagia. Zero dan Alena masih saling mencintai dan sama berharap bisa balikan seperti dulu.
Zero kemudian menemui Mak Salmah, Bu Riana dan yang lain, dia meminta agar mereka bersiap-siap karena sebentar lagi Zero akan berangkat ke rumah sakit.
Setelah semua siap, Zero berpesan agar pelayan mengunci pintu, karena Emak dan yang lain, baru akan pulang nanti malam.
Emak, Bu Riana, Bu Ambar, Abah dan Kiara sudah naik ke dalam mobil dan Zero juga sudah siap mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Walaupun Mama Shena pernah membuat hidup mereka sengsara, tapi para ibu itu tidak merasa dendam, mereka telah memaafkan semua kesalahannya.
Zeya sangat senang saat melihat kedatangan mereka, dia tidak menyangka semua mau datang menjenguk mamanya dan Mama Shena juga merasa malu, kejahatannya kini di balas dengan begitu banyak kebaikan.
"Bagaimana kabarmu Shena?" tanya mama Ambar.
"Aku baik Kak, terimakasih sudah sudi mengunjungiku. Maafkan aku Kak, aku sangat jahat terhadapmu dan putramu, aku telah merusak kebahagiaan rumahtangga mu," ucap Mama Shena.
"Sudahlah, tidak usah di ingat lagi. Aku sudah memaafkanmu. Yang terpenting kedepannya kita harus menjalani hidup ini dengan berbuat baik. Anggap saja semua yang terjadi merupakan pelajaran hidup agar kita bisa menjadi hamba yang lebih baik," ucap Mama Ambar.
Mereka pun saling berpelukan, lalu mama Shena meminta maaf kepada Bu Riana karena telah menculik dan membuang Zero.
Semua saling bermaafan hingga membuat suasana begitu bahagia khususnya buat Zero dan Zeya. Seandainya Royan ada di sana bersama mereka, dia juga pasti
__ADS_1
merasakan hal yang sama.