
"Kami permisi dulu ya Sat, senang berkenalan dengan kalian!" ucap Zero sambil mengulurkan tangannya kepada Satria dan juga Alena serta diikuti oleh Zeya.
Setelah Zero dan Zeya pergi, Satria memandangi wajah Alena, lalu dia berkata, "Hei...kamu kenapa? Aku lihat kamu sangat aneh tadi," ucap Satria.
"Nggak ada apa-apa Kak, cuma kepikiran ayah, bagaimana keadaannya disana, kemaren ayah 'kan demam," ucap Alena yang berusaha mengalihkan perhatian Satria.
"Oh ya...kamu 'kan juga lulusan Sekolah Nusantara! Pasti ada apa-apa dengan kalian, aku lihat kalian berdua sangat aneh sikapnya tadi. Sangat kaku, canggung dan sepertinya jaga jarak."
Alena bingung mau menjawab apa, apa dia harus jujur kepada Satria atau harus mengarang kebohongan.
"Kenapa kamu diam? aku sahabat sekaligus keluargamu, ayo cerita dong! Kita sahabatan sejak orok, aku tahu kamu paling tidak bisa berbohong," ucap Satria lagi.
Akhirnya Alena menceritakan tentang hubungannya dengan Zero dan alasan kenapa mereka sampai putus.
Alena tahu nggak ada gunanya berbohong dengan Satria karena dia tahu watak pemuda itu yang suka penasaran dan dia akan terus mencari tahu sampai apa yang dia inginkan mendapatkan jawabannya.
"Oh... pantaslah. Tapi jangan khawatir Al, kalau kalian memang berjodoh pasti bakal bersatu lagi. Kamu masih mencintainya 'kan?" tanya Satria serius sambil menatap wajah Alena.
Wajah Alena memerah karena malu, tapi akhirnya dia menjawab, "Kak Zero sudah punya pacar Kak, lagipula pacarnya sangat cantik dan sepertinya dari keluarga berada. Jadi, nggak mungkin lagi ada harapan untuk ku. Aku hanya anak piatu dan gadis yang tidak memiliki kelebihan apapun Kak," ucap Alena yang merasa rendah diri.
"Siapa bilang kamu cuma gadis biasa! Aku mengenalmu lebih dari siapapun dan aku yakin Zero juga tahu itu, makanya dia dulu memilihmu ketimbang gadis lain. Aku juga yakin, dia masih mencintaimu, hal itu bisa aku lihat dari sikap dan sorot matanya," ucap Satria.
__ADS_1
Alena menghela nafas, dia tidak berani berharap, apa yang sudah pergi darinya bakal bisa kembali.
"Sudah jangan bengong terus, yang terpenting sekarang kejar masa depanmu, perkuliahan sudah menanti jadi persiapkan diri untuk ujian masuk. Kamu pasti bisa lulus, asalkan bersungguh-sungguh.
"Iya Kak, ayo kita pulang! nanti mama khawatir karena kita terlambat pulang," ucap Alena.
Semenjak Alena tinggal di rumah keluarga Satria, Papa dan Mama Satria telah menganggapnya seperti anak sendiri.
Mereka mengatakan, Alena adalah adik perempuan Satria dan harus memanggil keduanya dengan sebutan mama dan papa.
Satria yang sejak kecil memang menyayangi Alena, sangat senang dengan keputusan mama papa, makanya tanpa pikir lagi dia langsung mengiyakan ketika sang mama meminta pendapat untuk membawa Alena tinggal bersama di keluarganya.
Sementara Zero dan Zeya saling diam selama perjalanan pulang. Zeya sengaja, dia ingin tahu apakah Zero akan jujur kepadanya atau memilih tetap menyimpan rahasia tentang kehidupannya.
"Nggak kok Kak! Aku nggak punya alasan untuk marah sama Kakak," ucap Zeya.
"Lantas, kenapa kamu sejak tadi diam?" tanya Zero lagi.
"Lagi malas ngomong aja!" ucap Zeya asal.
Zero tersenyum, lalu dia berkata, "Kamu cemburu?" tanya Zero.
__ADS_1
"Ngapain juga aku harus cemburu Kak! Kalau Kakak mau sama dia, silahkan! Itu hak Kakak, aku tidak bisa menghalangi," ucap Zeya dengan cemberut.
Zero tertawa, hingga membuat Zeya kesal. Kemudian Zeya berkata, "Ngapain Kakak tertawa, senang ya bisa ketemu lagi dengan mantan!" ucap Zeya ketus.
"Lho...kamu kok tahu, jika Alena mantanku," ucap Zero.
"Asal tebak saja! Lagipula ngapain juga, aku harus cari tahu."
"Bagus deh... pekerjaan sia-sia jika kamu lakukan itu," ucap Zero sambil mengulum senyum.
Zero senang melihat Zeya cemburu, itu menandakan Zeya memang tulus mencintainya.
"Jadi...Kakak nggak mau jujur nih! siapa itu Alena?" tanya Zeya semakin kesal.
"Oh...kamu mau tahu, baiklah aku akan cerita. Tapi janji ya, setelah aku cerita, kamu harus tersenyum. Kamu jelek jika sedang merengut seperti itu," ucap Zero sambil mencolek pipi Zeya.
Kemudian Zero menceritakan awal dia masuk ke sekolah Nusantara dan bertemu dengan Alena pada acara ospek.
Di situlah mulai tumbuh benih cinta di hati Zero, cinta pada pandangan pertama. Menurut Zero, Alena sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah Zero kenal, dia gadis sederhana, cantik rupa juga cantik hati dan tingkah lakunya.
Namun, karena minder Zero menyimpan perasaan itu hingga kenaikan kelas. Zero minder karena penampilan dan juga keadaan ekonomi keluarganya jauh di bawah rata-rata murid pria yang bersekolah di sana, jadi menurutnya Alena tidak akan mungkin mau menerima dirinya.
__ADS_1
Ternyata Zero salah, rupanya, diam-diam Alena juga menaruh perhatian terhadapnya. Hal ini di ketahui Zero secara tidak sengaja.