SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 162. PERGI MENCARI ZEYA


__ADS_3

"Bawa makanan itu pergi! Bilang sama mama, aku tidak butuh makanan itu, aku hanya ingin keluar dari tempat ini!" teriak Zeya kepada pelayan dan penjaga di sana.


"Tapi Nona bisa mati jika tidak makan, dari kemaren tidak ada makan yang masuk ke perut Nona. Kita jauh dari mana-mana Nona, jika sakit tidak ada rumah sakit di sini. Helikopter saat ini juga sedang di bawa mama Anda keluar."


"Aku tidak peduli, daripada harus dikurung di tempat ini terus lebih baik aku mati, biar puas dan bebas mama, jika sudah kehilangan aku," ucap Zeya.


Pelayan tidak lagi menghiraukan ucapan Zeya, setelah membereskan semua, diapun keluar dan mengunci kamar itu lagi.


Zeya hanya terbaring menangis di atas tempat tidur yang ada di sana, dia membuka tirai dengan lebar dan melihat sekeliling tempat itu adalah lautan. Saat ini kamarnya terletak di ketinggian Hadi bisa melihat pemandangan dengan bebas.


Zero yang sudah mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Zeya, segera keluar dari sistem terawangannya, dia menghela nafas, jikapun Zeya berhasil keluar dari kamar penyekapan itu, dia tidak akan mungkin bisa kabur dari pulau tersebut selain ada pertolongan lain yang datang.


Karena lelah dan mengantuk, Zero pun tertidur, dalam tidurnya malah dia seperti sedang bersama Alena.


Alena sepertinya sudah bersiap untuk berangkat bersama kedua orangtua Satria, dia terlihat sedih sambil melambaikan tangan dan hati Zero juga terasa berat serta sangat sedih dalam mimpinya itu.


Zero tersentak, dia terbangun saat mendengar ponselnya berdering, ternyata Satria yang sedang melakukan panggilan.


Dengan suara khas orang yang baru bangun tidur, Zero pun mengangkat panggilan tersebut dan dia bertanya kenapa Satria meneleponnya malam-malam begini.


Ternyata Satria hanya mengabarkan bahwa besok lusa keluarganya akan berangkat dan ada surat dari Alena buat Zero.


Satria bingung bagaimana cara dan kapan akan mengantarnya, sementara besok pagi Zero sudah akan berangkat.


Kemudian Zero berkata, setelah sholat subuh dia meminta Satria untuk menemuinya di warung sarapan yang terletak di persimpangan menuju rumah Satria. Zero akan menjemput surat itu di sana, sebelum dia berangkat ke pelabuhan bersama Royan dan yang lain.


Zero kembali tidur, malam ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi. Pikirannya tersita memikirkan kedua gadis yang sedang dalam masalah itu. Ternyata sulit baginya untuk memilih, dia masih mencintai Alena tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan Zeya.

__ADS_1


Kini jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, tapi mata Zero tidak bisa terpejam juga, akhirnya dia memilih bangun, bersiap mandi dan sebentar lagi melaksanakan ibadah.


Sesuai janjinya, Zero keluar untuk menemui Satria tapi sebelumnya dia pamit dengan emak, jika Royan datang dan dia belum kembali agar menunggunya sejenak.


Zero mengatakan kepada emak jika dia sarapan di luar bersama temannya itu dan ingin mengambil sesuatu yang penting.


Kali ini Zero mengendarai mobilnya sendirian, karena suasana jalan masih lengang dan tempatnya juga tidak terlalu jauh, maka dengan mudah dia menjalankan mobilnya ke warung sarapan tersebut.


Sesampainya Zero di sana, Satria juga sampai, lalu mereka putuskan untuk masuk dan menyantap sarapan sebelum pulang.


Satria menyerahkan surat dari Alena kepada Zero dan Zero memasukkannya ke dalam tas, dia akan membacanya nanti saat suasana tenang.


Kemudian Zero memesan dua piring lontong beserta dua gelas teh hangat dan sepiring kecil gorengan bakwan dan sala sebagai pelengkap sarapan mereka.


Sambil menunggu pemilik warung menyajikan pesanan, Satria pun bercerita, jika Alena kemaren menangis saat menerima bingkisan dari Zero.


Begitu sarapan telah tersaji, keduanya menikmatinya dengan lahap, Zero pun terburu-buru menghabiskan sarapannya karena takut keburu Royan tiba di rumah untuk menjemputnya.


Setelah selesai Royan membayar pesanannya lalu berterimakasih kepada Satria dan memeluk sahabatnya itu sambil berkata, "Allah pasti tahu mana yang terbaik buat hubungan kami, aku titip Alena Sat, terimakasih kamu telah mau repot mengantarkan surat ini untukku. Selamat tinggal Sat, aku harus pergi sekarang," ucap Zero.


"Hati-hati Ro, aku tetap mendoakan kalian akan selalu bahagia walaupun bersatu atau tidak," ucap Satria.


Keduanya pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.


Ternyata benar filing Zero, Royan sudah sampai di sana.


"Oh, Kak Royan sudah tiba, sebentar ya Kak, aku akan mengambil tas dulu di kamar," ucap Zero sambil berlalu ke kamarnya.

__ADS_1


Sementara Royan berbicara dengan Emak untuk titip istri dan juga Mama serta Abah di sana sampai mereka kembali.


"Nak Royan jangan khawatir, mereka akan aman dan senang tinggal di sini karena emak tidak akan membiarkan mereka kesepian," ucap Mak Salmah.


"Terimakasih Mak, cuma Emaklah keluargaku disini, makanya aku percaya, mereka akan aman dan nyaman tinggal disini," ucap Zero lagi.


Zero pun sudah kembali dengan membawa bekal dan tas yang akan dia bawa, lalu Zero pamit kepada Emak dan yang lain.


Begitu pula dengan Royan, dia mencium kening sang istri dan memeluknya. Royan janji akan pulang secepatnya setelah semua selesai dan menemukan Zeya dan dia berjanji tidak akan menunda lagi bulan madu mereka.


Nayla membalas erat pelukan Royan, lalu dia mencium tangan Royan sambil menangis dan mengatakan Royan harus berhati-hati, Nayla akan bersabar menunggu Royan kembali.


Royan lalu pamit kepada mamanya dan yang lain. Semua menangis melepas kepergian mereka.


Kini Royan, Zero dan kelima anak buahnya sudah menuju ke pelabuhan, Royan telah menyewa sebuah kapal berikut nahkoda dan beberapa awak kapal yang akan melayani kebutuhan mereka dalam perjalanan.


Sesampainya di pelabuhan, ternyata Bang Togar dan Bang Beni sudah menunggu di sana, mereka mengucapkan selamat jalan kepada kedua Bos nya. Setelah itu mereka pun kembali untuk menjalankan apa yang telah Zero amanatkan.


Kini kapal sudah berangkat menuju tempat yang di maksud oleh Royan, nahkoda dan awak yang sudah berpengalaman mengenai arah dengan mudah mencari tempat yang Royan maksud.


Dengan panduan kompas dan alat lain mereka menuju pulau terpencil itu. Butuh waktu setengah hari untuk tiba di sana, Zero yang tidak terbiasa dengan perjalanan laut sedikit mual dan pusing. Setelah minum obat yang diberikan oleh Royan, kini Zero merasa lebih baikan.


Dia tidur sejenak untuk menghilangkan mabuk lautnya lalu dia kembali keluar ruangan untuk melihat situasi sekitar.


Hanya hamparan air yang luas saat ini terlihat sampai mereka mendarat ke pulau yang di maksud.


Nahkoda dan awak lain merapatkan dan menyimpan kapal mereka di tempat yang sedikit tertutup rimbunnya pohon bakau agar tidak terlalu mencolok oleh penghuni pulau yang belum mereka ketahui berapa banyak jumlahnya.

__ADS_1


__ADS_2