
Saat Beni sampai, Zero dan Zeya pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Mama Shena. Dan Zeya terus menangis di sepanjang perjalanan.
Walau bagaimanapun dia marah terhadap mama Shena, hatinya sebagai anak tetap saja tidak bisa memungkiri bahwa dia khawatir dan sedih mendengar mamanya celaka.
"Tenanglah Zey, mama kamu pasti baik-baik saja," ucap Zero sambil menarik Zeya ke dalam pelukannya dan menghapus air mata yang meleleh di pipi Zeya.
"Bang Ben, rumah sakitnya yang ke arah dekat pelabuhan ya!" ucap Zero.
"Siap Bos," jawab Beni sambil tetap pokus menyetir.
Mereka pun tiba di rumah sakit, lalu Zero dan Zeya buru-buru menuju ke bagian pelayanan pasien ingin menanyakan di ruangan mana Mama Shena di rawat.
Setelah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, Zero pun langsung mengajak Zeya ke ruangan yang dimaksud.
Di sana Zeya melihat mama terbaring di ranjang pasien dengan tubuh dibalut banyak perban. Ada seorang pengawal yang masih setia menunggu di sana, mungkin dialah yang menelepon Zeya tadi.
Zeya menghampiri sang Mama yang masih tidur, lalu dia bertanya kepada pengawal tersebut tentang kejadian yang sebenarnya.
Pengawal tersebut menjelaskan bahwa, orang asing yang bekerja sama dengan Mama marah, karena bisnis kerjasama mereka kacau.
Dan mereka mengalami banyak kerugian, bahkan dua orang temannya juga meninggal karena ulah Zeya.
Mama coba menjelaskan bahwa semua itu bukan karena anaknya tapi mereka tetap tidak terima dan merasa di bodohi. Akhirnya mereka marah dan hendak membunuh mama dengan melukainya.
Mendengar penjelasan dari pengawal mama Shena, Zeya sedikit terharu, ternyata sebejat-bejatnya sang mama, beliau masih membela Zeya di hadapan rekan bisnisnya itu.
Saat mereka masih serius ngobrol, mama bangun dan mengerang, menahan rasa sakit serta perih di tubuhnya.
"Ma, ini aku. Mana yang sakit Ma?" tanya Zeya.
Mama Shena membuka matanya lalu berkata, "Kamu! Bagaimana kamu tahu Zey, mama ada di sini?"
"Pengawal mama yang telepon, sebaiknya Mama istirahat dan tolong Ma, hentikan bisnis kotor itu dan jangan lagi berhubungan dengan mereka. Mama terluka gara-gara perbuatan mereka 'kan?" ucap Zeya.
__ADS_1
Shena hanya diam, mendengarkan perkataan putrinya, lalu dia bertanya, "Kamu kesini dengan siapa Zey?"
Dengan kak Zero dan Bang Beni Ma, itu mereka sedang ngobrol di luar dengan pengawal Mama," jawab Zeya.
Oh ya Ma, ada hal yang ingin aku tanyakan sama mama, apa benar aku bukan adik Kak Royan? Dan apakah aku anak dari suami Bu Riani?" tanya Zeya yang membuat Mama Shena terkejut.
"Darimana kamu tahu?"
"Jadi benar Ma?" tanya Zeya lagi.
Mama Shena diam, dia tidak menyangka jika Zeya bisa tahu secepat itu. Melihat mamanya diam, Zeya pun melanjutkan pertanyaannya.
"Dan Mama yang menculik bayi laki-laki Bu Riana serta membuangnya di tempat sampah kan?"
Shena tidak menjawab, tapi terlintas di pikirannya kejadian 17 tahun lalu, dimana dia menculik seorang bayi laki-laki dari kamar bayi rumah sakit.
"Kenapa Mama diam! Ayo jawab Ma! Aku ingin mendengar kejujuran dari mulut Mama," ucap Zeya.
"Baiklah Zey, karena kamu sudah mengetahui semuanya, mama tidak akan menyembunyikannya lagi," ucap Shena.
"Mama harus minta maaf bukan hanya kepadaku saja, tapi minta maaflah sama Zero, karena dialah anak yang 17 tahun lalu mama pisahkan dari ibunya," ucap Zeya sambil menunjuk Zero yang belum selesai ngobrol dengan pengawal Mama Shena.
"Apa! Dia bayi itu? Bagaimana kamu bisa tahu Zey?"
"Mak Salmah, menyimpan kalung serta liontin peninggalan keluarga yang saat itu ayah pakaikan pada Kak Zero dan itu dikenali oleh Bu Riana."
Zero yang sudah selesai ngobrol dengan pengawal Shena pun mendekati Zeya dan Mama Shena, lalu dia menyapa Mama, "Bu, bagaimana kondisi ibu sekarang? Mereka yang melukai Ibu sudah kembali ke negaranya, jika tidak pasti aku akan membalas perlakuan mereka terhadap Ibu," ucap Zero.
"Maafkan Ibu Dek, ini semua karma untuk ku. Dan maafkan atas kesalahan Ibu 17 tahun lalu, yang telah memisahkan kamu dengan orangtuamu. Ibu sangat menyesal, sekarang Ibu pasrah jika kalian ingin melaporkan perbuatanku kepada polisi," ucap Mama Shena.
"Sudahlah Bu, yang penting ibu sudah menyadari semuanya. Toh jika aku laporkan Ibu ke polisi, semuanya tidak akan pernah bisa kembali seperti yang seharusnya. Sekarang yang terpenting, ibu harus cepat sembuh dan memulai hidup normal bersama Zeya, putri Ibu," ucap Zero.
"Terimakasih Dek, Aku juga harus meminta maaf kepada ibumu dan Ibunya Royan, karena aku telah menghancurkan kehidupan rumah tangga mereka," ucap Mama Shena.
__ADS_1
"Alhamdulillah, syukurlah Ma, jika Mama sudah menyadari semua kesalahan Mama. Nanti jika mama sudah sembuh, aku akan mengantar dan menemani Mama untuk minta maaf kepada ibunya Kak Zero juga Kak Royan," ucap Zeya.
"Oh ya Zey, bagaimana jika perawatan Mama kamu kita pindahkan ke rumah sakit yang terdekat dari rumahku, agar mereka juga bisa menjenguk dan membantu menjaga mamamu saat malam hari," usul Zero.
"Oh, aku setuju Kak! Di sini terlalu jauh, susah kita mondar-mandir pulang pergi ke rumah sakit."
"Bagaimana Bu? Jika ibu setuju, aku akan bicarakan hal ini dengan Dokter," ucap Zero.
"Ibu terserah kalian saja, asal tidak menyusahkan kamu Dek," ucap Mama Shena.
Kemudian Zero menemui Dokter di ruangannya, dia ingin mengkonsultasikan keadaan mama Shena, apa tidak membahayakan jika mereka memindahkan perawatannya.
Dokter pun menjelaskan bahwa tidak masalah jika Zero ingin memindahkannya.
Kemudian Zero mengurus administrasi rumah sakit sebelum membawa mama Shena pindah ke rumah sakit lain.
Setelah urusan mereka selesai, Bang Beni menyiapkan mobil, sementara Zero dan Zeya dibantu oleh dua orang perawat laki-laki membawa brankar dan memindahkan mama Shena ke dalam mobil Zero.
Bang Beni pun mengemudikan mobil menuju rumah sakit yang terdekat dari rumah Zero. Sesampainya di sana, Dokter dan perawat langsung membawa mama ke ruang perawatan kelas satu sesuai permintaan Zero.
Sekarang mereka bisa lebih tenang, Zero bisa izin pamit pulang dulu untuk memberi kabar kepada emak dan yang lain. Sedangkan Zeya menjaga Mama Shena di rumah sakit dengan di temani oleh pengawal mamanya.
Beni mengantar Zero pulang, di perjalanan ponsel jadul Zero berdenting, diapun mengambil dari dalam tas dan memeriksanya.
[Ting!]
[[🌟Selamat!!! Anda berhasil menyelesaikan misi, saldo akan di transfer ke rekening Anda sesuai permintaan setelah Anda sempurnakan misi dengan memberi hukuman kepada si pelaku!]]
[Ting!]
[[🌟Dana akan dikirim oleh sistem berupa lembaran-lembaran cek senilai total 10 T ke dalam karung Anda, setelah syarat mulung di penuhi]]
"Oh, ternyata rahasia hidupku sendiri misinya," monolog Zero.
__ADS_1
Sekarang Zero yang merasa bingung, hukuman apa yang harus dia berikan terhadap Mama Shena untuk menyempurnakan penyelesaian misinya.
Memenjarakan, jelas dia tidak akan tega, karena bagaimanapun buruknya mama Shena, beliau adalah mamanya Zeya dan Mama Shena juga sekarang sudah menyadari semua kesalahannya.