
"Mak, Kak dan Abang semua...kami sedang bertaruh, aku akan memasak buat kalian, jika aku nanti menang maka Kak Zero akan menjadikanku pacarnya tapi jika aku yang kalah, maka selamanya, kami hanya teman. Oh ya Mak dan yang lainnya sekarang bisa request masakan apa yang harus aku masak buat nanti makan malam," ucap Zeya.
"Kamu ada-ada saja Ro! Masa Zeya kamu minta menjadi koki hari ini," ucap Emak.
"Kalau mau jadi calon istriku harus berani bersakit Mak! kita bukan orang kaya yang bisanya hanya mengandalkan jasa pembantu. Ini masih ujian awal untuk menjadi pacarku belum ujian untuk menjadi calon istri. Kalau yang mudah saja tidak lulus bagaimana bisa masuk dalam kehidupan kita."
"Nggak apa-apa Mak, aku sanggup kok! Aku pasti bisa!" ucap Zeya sambil menyunggingkan senyuman.
"Sekarang, Mak mau minta di masakin apa sama Zeya, khusus hari ini yang lain juga boleh ikut request," ucap Zero.
"Kami terserah Mak saja," ucap Kiara disusul anggukan oleh yang lain.
"Baiklah kalau begitu, Mak ingin dimasakin sayur lodeh, sambal terasi, goreng tempe dan ikan asin."
"Kalau aku, sambal teri cabe hijau petai pakai kecombrang," timpal Zero.
"Oh ya Kak, aku boleh ajak Kak Kiara ya? Aku 'kan belum tahu tempat terdekat dimana harus belanja semua bahan yang diperlukan," ucap Zeya.
"Pergilah dengan Kiara!" ucap emak.
"Ayo Dek!" ajak Kiara.
"Ini uangnya dan belilah apa yang kamu ingin masak sesuai selera kamu," pinta Zero.
"Pakai uangku saja Kak!" ucap Zeya.
"Itu aku yang minta 'kan, jadi harus pakai uangku."
"Ya sudah, terserah Kak Zero saja. Ayo Kak Kiara, kita berangkat," ajak Zeya sembari menggandeng lengan Kiara.
Keduanya pun pergi ke kedai dimana emak sering berbelanja. Di sana sayur-mayur lengkap dijual dan khusus dagang pada sore hari.
Zeya belanja semua yang diperlukan dan meminta pertimbangan kepada pedagang berapa-berapa jumlah yang harus dia beli untuk kebutuhan makan beberapa orang.
Kiara hanya memperhatikan interaksi Zeya dengan para pedagang, dia salut...ternyata Zeya bukanlah gadis manja yang tidak tahu apa-apa seperti dugaannya.
__ADS_1
Setelah Zeya selesai membeli semua yang dibutuhkan, kemudian dia membeli beberapa macam buah sesuai seleranya.
"Kamu mau buat apa Dek? kok membeli aneka macam buah?" tanya Kiara.
"Salad buah Kak, apa Kakak suka salad?"
"Suka Dek."
"Ayo kita pulang, aku harus segera memasak."
"Kamu yakin bisa melakukannya sendiri atau mau aku bantu?" tanya Kiara.
"Kakak jangan khawatir, aku bisa melakukannya," jawab Zeya sembari tersenyum dan berjalan meninggalkan warung tersebut.
Kiara pun mengikuti Zeya setengah berlari karena Zeya berjalan sangat cepat meninggalkannya di sana.
Sesampainya di rumah Mak Salmah, Zeya langsung ke dapur, dia melarang Kiara maupun yang lainnya yang berniat membantu.
Zeya menggulung lengan bajunya, lalu dia mulai memotong dan membersihkan bahan-bahan yang akan dimasak. Zeya terlihat mahir dalam hal itu, hanya sedikit kuwalahan saat hal menggiling cabai menggunakan ulekan.
Keringat pun membasahi kening Zeya, tapi dia senang dan terlihat puas dengan hasil masakannya hari ini.
Satu persatu hidangan telah Zeya susun di meja makan beserta alat makan untuk mereka semua. Kini tugas terakhirnya tinggal menyajikan salad buah beserta air minum.
Setelah selesai semuanya, Zeya pergi ke kamar mandi membersihkan tangan serta membasuh wajahnya dengan sabun, lalu beranjak ke depan memanggil emak dan yang lain untuk menikmati hidangan yang telah dia masak dan sajikan di ruang makan.
Zero, Kiara dan emak yang tadi sempat mengintip saat Zeya memasak merasa kagum. Dugaan mereka salah, gadis yang mereka kenal sangat manja ternyata menyimpan banyak kejutan.
Saat ini mereka semua sudah berkumpul di ruang makan. Sesuai perjanjian tadi, Zeya meminta tolong kepada Kiara untuk mengundang tetangga sebelah rumah agar ikut menikmati hidangan.
Dia ingin tahu apa komentar mereka semua tentang rasa makanan yang sudah Zeya masak.
Emak mempersilakan semua untuk menikmati hidangan yang telah tersaji setelah mereka berdoa bersama.
Begitu mulai menyuap dan mengunyah makanan, merekapun terdiam sejenak, lalu dengan lahap menyantap semua hidangan tanpa tersisa sedikitpun di piringnya masing-masing.
__ADS_1
Sebagai hidangan penutup mereka memakan salad buah, yang di buat oleh Zeya dengan aneka buah segar.
Selesai makan semua mengacungkan jempolnya, pertanda hidangan tersebut sangat lezat walau hanya menu makanan kampung yang sederhana.
"Apakah kamu sering memasak di rumah Nak?" tanya emak.
"Sering membantu Bibi memasak Mak, saat libur sekolah. Tapi yang belum mahir dalam menggunakan ulekan, masalahnya Bibi sering melarang jika aku hendak mengulek sambal."
"Pantesan, kami lihat kamu tidak canggung lagi dalam hal memasak dan masakanmu sangat lezat Dek, bisa nih buka resto," ucap Kiara.
"Boleh Kak, kita join buka restoran, Bibi, Kakak berdua dan aku, pasti bakal laris jika kita berempat saling kerjasama dan emak sebagai pengkoreksi rasa."
"Bagus juga ide kamu Dek! Tapi sayang, kita nggak punya modal," jawab istri Bang Togar.
"Tenang Kak! Masalah modal kita serahkan ke Kak Zero, biar dia yang mohon ke Kak Royan, toh ini juga demi kemajuan kita dan kampung ini, Kak Royan pasti setuju. Benar 'kan usulku Kak Zero? Dan satu lagi, jangan lupa dengan janji Kakak," ucap Zeya sembari mengingatkan.
"Iya, kalian tinggal cari tempatnya, masalah dana aku yang akan mengaturnya. Kalian buat saja rincian dananya."
"Asyik! Serius ini 'kan Dek?" tanya Kiara.
"Iya dong Kak!" jawab Zeya.
Mak Salmah yang mendengar hal itupun merasa senang, senang dengan kekompakan mereka semua yang sudah beliau anggap anak.
"Bisa kaya kita kalau seperti ini!" ucap Bang Beni.
"Kenapa begitu Bang?" tanya Togar.
"Ya jelaslah! Para suami sebentar lagi bekerja di proyek yang akan di tangani oleh Dek Zero, sementara para istri mempunyai usaha bersama. Tinggal memikirkan nasib warga lain dan anak-anak yang berkeinginan sekolah tapi orang tua mereka tidak mempunyai biaya," jawab Bang Beni.
"Sudah aku pikirkan semua itu Bang! Setelah sebagian pembangunan berjalan, aku akan membentuk kelompok usaha, yang di dalamnya mengajarkan para pemulung bagaimana membuat barang bekas yang mereka temukan bisa memilliki nilai jual yang lebih tinggi dan juga mendirikan sekolah untuk anak-anak mereka tanpa pungutan biaya. Jadi tahun depan kita berharap tidak ada lagi yang buta tulis baca di kampung kita ini," ucap Zero.
"Abang setuju Dek! Dan bagi anak-anak mereka yang minat belajar ilmu beladiri, aku dan Togar siap untuk menjadi tim pengajar," ucap Beni.
"Terimakasih Bang, asal kita mau bekerjasama untuk memajukan kampung ini pasti semua rencana bakal berhasil," ucap Zero.
__ADS_1
"Oh ya Ro, jangan lupa janjimu terhadap Nak Zeya! Dia sudah buktikan bahwa dialah yang memenangkan taruhan diantara kalian," ucap Mak Salmah mengingatkan Zero.
"Iya Mak, tapi Zeya jangan senang dulu, masih banyak seleksi yang harus dia jalani agar kedepannya bisa lolos sebagai calon istriku," ucap Zero sambil melirik ke arah Zeya.