SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 48. ROYAN STRES


__ADS_3

"Bagaimana Dek? jadi kita panggil dokter?" tanya Kiara.


"Nggak usah kata emak Kak, beliau hanya butuh istirahat," jawab Zero.


"Bang coba kita telephone pengacara Pradipta, apakah Pak Arya hari ini sudah dipindahkan dari sel tikus atau belum ya?" pinta Zero kepada Togar


"Oh ya Dek, akupun lupa. Sebentar ya, aku bel dulu Pak Pradipta nya."


Togar pun mencari nomor pengacara yang menangani kasus Pak Arya, setelah itu dia mengklik tombol panggilan keluar.


Tidak berapa lama terdengarlah suara Pak Pradipta menjawab panggilan dari Togar.


"Hallo Pak, ini Togar. Aku mau tanya kabar tentang Pak Arya, apakah beliau sudah jadi di pindahkan dari sel tikus ke sel biasa?"


"Sudah Pak! tadi sore. Saya lupa mengabari Bapak. Besok keluarga bisa menjenguk beliau di sel biasa," ucap pengacara Pradipta.


"Terimakasih Pak atas infonya. Oh ya Pak sekedar memberitahukan, ini salah satu anggota Royan sudah berpihak ke kita, mudah-mudahan nanti bisa membantu kita untuk mengungkap siapa Royan sebenarnya," ucap Togar.


"Kerja bagus Pak, saya juga sedang mengumpulkan informasi. Saya telah menurunkan orang untuk membantu kita menyelidiki Royan," ucap pengacara Pradipta lagi.


"Terimakasih Pak, Bos Zero pasti senang mendengar berita ini."


"Sampaikan salam saya kepada Dek Zero ya...dan juga kata maaf dari saya, karena lupa memberi kabar."


"Siap Pak."


Togar pun mengakhiri panggilan telephonenya, lalu dia mengacungkan jempolnya, pertanda sistem kerja Pak Pradipta sangat oke.


"Terimakasih Bang Togar, Abang telah mencari pengacara handal yang mau bersungguh-sungguh membela orang kecil."


"Ya...mudah-mudahan sampai akhir nggak akan goyah Bos."


"Itu yang kita harapkan Bang, karena lawan kita bukan orang sembarangan, bisa saja dia menyorong dana lebih banyak agar pengacara bungkam."


"Kak Zeni...harum kali aroma rendangnya nih! Kami semua jadi lapar!" seru Zero.


"Sudah matang kok Dek, jika ingin makan."


"Nantilah Kak, bareng emak saja, tapi kalau Abang semua sudah lapar, silakan duluan."


"Nanti saja Dek, makan bersama, lebih enak, lagipula belum waktunya juga kan?" jawab Bang Beni.


"Kalau lapar, ngapain juga tunggu jam makan Bang?"


"Nggak ah, tunggu Emak saja," ucap Zero.


Mak dengar celotehan mereka di luar, beliau tahu, anak-anak sedang tergugah selera makannya karena harum aroma rendang, lalu beliau bangkit dan keluar kamar sambil berkata, "Ayo kita makan! Emak juga lapar."


"Ayo Mak," jawab mereka serempak sambil tertawa. Sebenarnya saat ini semuanya sedang merasa lapar.


Zeni dan Kiara menyiapkan semuanya lalu merekapun makan bersama.


"Mak, kalau seperti ini jadi teringat lebaran ya?" tanya Zero.

__ADS_1


"Ya iyalah Ro, la wong kita masak rendang cuma setiap lebaran saja."


"Ah... Mak, buka kartu! Mereka 'kan jadi tahu," ucap Zero sambil tertawa.


"Sama saja lho Dek, paling ketemu rendang saat pergi ke pesta, itupun jarang-jarang seringnya malah ayam," ucap Kiara.


"Perbaikan gizi, ya 'kan Kak?" timpal Zero.


Selesai makan mereka berkumpul di teras, soalnya Togar dan Beni ingin merokok. Sementara para wanita masih membersihkan dapur dan peralatan makan.


"Bang! Lusa pagi aku ujian akhir, Abang bisa antar aku ke sekolah "kan? ucap Zero kepada Togar.


"Aman Dek! Selagi Abang sehat, siap antar kemanapun," ucap Togar sambil menghormatkan tangannya.




Di kediaman Royan.



Braakkk



Royan menggebrak meja dengan sangat keras hingga membuat beberapa orang anak buahnya gemetar.




Royan menarik pelatuk senjatanya, hingga membuat para anak buahnya memejamkan mata, mereka pasrah, mungkin hari ini terakhir melihat dunia.



Door



Bunyi tembakan menggema di ruangan itu. Satu orang terkapar bersimbah darah, tanpa sempat mengerang lagi karena tembakan tepat ke arah jantungnya.



"Kalian lihat! siapa lagi yang ingin menyusulnya!" teriak Royan.



"Ampun bos! Maafkan kami, kami janji akan mencari siapa penyusupnya dan menangkap Togar," ucap salah seorang anak buahnya yang sudah terkencing di celana karena melihat teman yang berdiri di sebelahnya sudah tidak bernyawa.



Mata Royan memerah, dia tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

__ADS_1



Lantas bagaimana kerja Beni? Kenapa tidak ada kabar tentang dia! Apa dia juga telah tewas atau malah berkhianat!



Kami dengar Beni sekarang ikut melawan Bos, dia bersama Togar. Tonggar berhasil mempengaruhinya.



Door



Satu tembakan lagi mengenai kepala anak buahnya yang tadi berbicara.



"Kalian tahu! Itu hukuman untuk mereka yang pandainya hanya memberiku kabar buruk!"



"Sekarang juga, kerahkan anak buah kalian masing-masing, cari Togar dan Beni, aku mau kalian bawa mereka hidup-hidup kesini. Aku sendiri yang akan memberikan hukuman buat mereka. Cepat!!"



"I-iya Bos...kami gerak sekarang juga."



Lima orang yang tersisa di ruangan itupun buru-buru hendak keluar, mereka tidak ingin bernasib sama dengan kedua temannya.



"Tunggu! Satu dari kalian, cari keluarga Togar atau Beni dan bawa kesini! Paling lambat besok siang aku tunggu hasil kerja kalian! Jika tugas ini saja kalian tidak becus, jangan harap kalian bisa melihat matahari terbit besoknya."



"Keluar!!" teriak Royan dengan lantang.



Semua berlari keluar, baru kali ini mereka melihat kemarahan Royan sampai tangannya gemetar, biasanya Royan menghadapi semua masalah dengan sangat tenang.



Mereka tidak tahu apa yang telah membuat bosnya seperti itu.



Royan duduk di kursinya, dia memijat kepala sambil mencari nomor kontak seseorang. Kemudian Royan mengklik nomor tersebut dan terdengarlah suara lembut seorang wanita di sana, hanya mengucapkan satu kata, lalu hanya diam mendengarkan bujuk rayu Royan.


__ADS_1


Kemudian Royan pun berkata, "Hallo Sayang, kamu masih di sana mendengarkan ku 'kan, aku rindu sekali denganmu, aku ingin melihat wajahmu. Kamu tidak pernah mau mengangkat VC dariku. Aku stres Sayang, aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Beberapa hari tidak kau izinkan aku menemuimu, telah membuat otakku tidak bisa bekerja dengan baik. Boleh ya, malam ini aku kesana, aku minta maaf Sayang, aku benar-benar menyesal telah menyakitimu dan Abah, Aku janji tidak akan pernah melakukan itu lagi. Kamu tahu Yang, aku selalu tidak bisa mengontrol emosiku jika ada laki-laki yang mendekatimu, apalagi sampai ngobrol denganmu. Kamu hanya milikku selamanya, ntah mengapa aku menjadi orang yang sangat bodoh jika menyangkut semua hal tentangmu, padahal sangat banyak wanita bertekuk lutut di hadapanku tanpa aku minta. Kamu beda Yang... dari mereka, mungkin itu yang membuatku tergila-gila sama kamu. Yang...ayolah bicara! Jangan diam saja, jawab aku Yang, tolonglah...***please*** Yang! Jangan seperti ini, hari pernikahan kita sudah semakin dekat, kamu masih cinta 'kan sama aku. Aku cinta kamu Yang... sampai aku mati, aku rela menebus kesalahanku dengan apapun yang kamu minta, bahkan semua harta atas namamu akan aku kabulkan, asalkan kali ini kamu memaafkan aku dan jangan membatalkan pernikahan kita," Rengek Royan. Gembong mafia yang terkenal dingin dan kejam, kini ego dan hatinya jatuh, bertekuk lutut di hadapan seorang wanita.


__ADS_2