
Zero dengan mudah menembus dinding kaca tersebut, dia melihat Zeya tergeletak di lantai dengan tubuh yang lemah, lalu Zero mendekati Zeya dan berkata, "Hei, gadis bodoh, kenapa ada tempat emak kamu malah tiduran di lantai dan ada makanan enak kenapa tidak kamu makan," ucap Zero hingga membuat Zeya membuka matanya.
Zeya duduk dan melihat sekeliling, apakah mungkin tadi dia sedang bermimpi atau memang saat ini Zero sedang berada di kamar ini, karena dia sangat jelas mendengar suara Zero sedang mengatainya bodoh.
"Kak Zero, Keluarlah! Aku bukan gadis bodoh, tapi aku tidak mau makan uang haram mama. Dia membeli ini semua dengan uang haram. Biar saja aku mati, biar dia puas! menua bakal tidak punya siapa-siapa lagi," ucap Zeya dengan lirih dan nyaris tidak terdengar karena tubuhnya yang sangat tidak bertenaga.
Kemudian Zero menampakkan wujudnya, lalu dia menepuk pipi Zeya sambil berkata, "ini makanlah roti serta minumlah dulu, supaya tenaga mu sedikit pulih," ucap Zero sambil menyuapkan ke dalam mulut Zeya dan segera melepaskan ikatan tali pada tangan dan kaki Zeya.
Memang tadi sebelum berangkat, Zero sempat memasukkan dua bungkus roti dan sebotol kecil air mineral ke dalam tasnya, untuk jaga-jaga jika dia lapar saat tidak berada di kapal.
Zeya tersenyum lalu menangis memeluk Zero dan berkata, "Ternyata benar, kupingku belum tuli, Kak Zero benar ada di sini!" ucap Zeya sambil terus terisak-isak.
"Sudah Zey, berhenti menangis, jorok ah, coba lihat bajuku kena ingusmu," ucap Zero sengaja meledeki kekasihnya itu.
"Kak Zero jahat banget! Aku tahu Kak Zero pasti bisa menemukanku walaupun aku di bawa pergi dan di sembunyikan di sudut dunia sekalipun," ucap Zeya sambil menyeka ingus juga air mata dengan lengan bajunya.
"His, jorok banget, nih lap pakai sapu tanganku," ucap Zero sambil memberikan sapu tangannya.
"Ternyata mamamu sadis juga ya, tega mengurung putrinya sendiri sampai seperti ini," ucap Zero.
"Kan sudah pernah aku bilang Kak, mama ku itu tidak punya hati, dia hanya mementingkan kesenangannya sendiri. Aku bukan putrinya karena yang mengurus dan membesarkan aku adalah Papa dan Kak Royan," ucap Zeya sambil terus menghapus air matanya.
"Kak Zero datang dengan siapa kesini?" tanya Zeya, hingga membuat Zero teringat bahwa dia masih harus menyelamatkan Royan beserta keempat anak buahnya yang masih dikurung dan mungkin saja sedang disiksa oleh perempuan ular itu.
__ADS_1
"Oh ya Zey, kamu di sini saja dulu ya, aku mau menyelamatkan Kak Royan dan keempat anak buahnya.
Mama kamu sempat menangkap mereka dan aku dengar dia memerintahkan anak buahnya untuk menyiksa Kak Royan dan yang lain. Sebelum terlambat aku ingin menyelamatkan mereka dulu," ucap Zero.
"Ya sudah, pergilah Kak! Aku ingin ikut, tapi tubuhku masih lemah, daripada menyusahkan kakak, aku lebih baik menunggu disini. Hati-hati ya Kak," ucap Zeya sambil menggenggam tangan Zero.
"Oke, kamu berbaring saja dulu, biar tenagamu pulih, setelah membebaskan Kak Royan aku akan segera kembali, kita harus segera pergi dari pulau ini," ucap Zero.
Kemudian Zero memakai Rompinya, menembus dinding untuk pergi mencari Royan dan yang lain.
Zeya yang sudah mengetahui kelebihan Zero yang ini tidak merasa heran lagi, lalu dia membaringkan tubuhnya di kasur untuk tidur sejenak agar tenaganya segera pulih.
Zero terus menyusuri Villa tersebut, disaat dia melewati sebuah ruangan, Zero mendengar suara teriakan kesakitan dari dalam ruangan tersebut.
Dia menerobos masuk dan melihat empat orang anak buah Royan yang tergeletak di lantai dengan tidak berdaya dan bersimbah darah.
Kulit mereka terkelupas bekas cambukan dan dari sudut bibir keluar darah kental karena mereka memukul dada keempatnya dan sekarang saat keempatnya sudah tidak bisa melawan, mereka masih saja menyiksanya dengan mencampurkan air, garam dan lemon. Satu orang memerintahkan agar menyiramkan air tersebut ke tubuh keempat anak buah Royan itu.
Zero meremas kuat kedua tangannya dan terdengar giginya mengeretak, dia sangat marah dan bersiap membalikkan keadaan.
Zero menarik baskom air tersebut hingga membuat orang-orang yang ada di sana kaget. Baskom melayang di udara tanpa ada orang yang memegangnya, itu yang terlihat di mata mereka.
Lalu Zero meletakkan baskom tersebut di lantai dan menarik cambuk dari tangan bekas anak buah Royan yang berkhianat.
__ADS_1
Tanpa ragu dan tidak kenal ampun, Zero mencambuk tubuh orang tersebut dengan kekuatan supernya. Cambuk pun menari-nari di udara, bak ular yang meliuk-liuk memburu mangsanya. Teriaka demi teriakan pun terdengar dari dalam ruangan itu. Zero sudah mengunci pintu jadi tidak ada yang bakal bisa lari dari pembalasannya.
Lima orang pengawal tergeletak di lantai dalam hitungan detik saja, dan kondisinya lebih parah di bandingkan dengan keempat anak buah Royan yang tadi mereka siksa.
Kemudian Zero membangunkan tubuh keempatnya agar bisa duduk, lalu dengan suara yang dia bedakan dari suara aslinya, Zero pun meminta agar mereka menyiramkan air garam dan lemon itu ke tubuh kelima anak buah Shena.
Tanpa menunggu lagi, keempatnya mulai memercik-mercikkan air tersebut ke tubuh musuh mereka yang tadi tanpa memberi ampun telah menyiksa mereka.
Kelima orang itu menjerit-jerit pilu, menggelupur di lantai, menahan rasa sakit dan perih yang sangat-sangat tidak bisa lagi mereka ucapkan.
Sekarang keempat orang itu merasa puas, mereka bisa membalas perbuatan keji kelima anak buah Shena.
Mengingat Bos mereka masih di tahan, keempatnya pun tanpa menunggu perintah dari orang tak terlihat wujudnya segera menendang dan menginjak lawannya hingga tidak bergerak lagi.
Keempatnya mengucapkan terimakasih, mereka menganggap bahwa pahlawan tanpa wujud itu adalah Zurich penunggu pulau terpencil ini yang telah berbaik hati datang untuk membantu.
Zero sempat menutup mulutnya untuk menahan tawa, mungkin dia memang Zurich untuk saat ini, tapi Zero terus berharap bisa berbuat baik selamanya untuk orang yang membutuhkan bantuan.
Dengan sekali tendang Zero berhasil membuka pintu yang tadi dia kunci agar keempat orang itu bisa ikut membantu menyelamatkan Royan.
Mama Shena, selingkuhannya dan orang asing yang tersisa serta beberapa orang pengawal merasa resah, bagaimana mereka akan menghadapi orang tanpa wujud tanpa Frans.
Walaupun mereka memiliki banyak persediaan senjata canggih dan lengkap, tetap saja tidak tahu mau kemana mengarahkannya untuk mengalahkan musuh yang tanpa wujud tersebut.
__ADS_1
Mama Shena uring-uringan, dia marah tidak menentu kepada sisa pengawalnya. Bahkan, dia sempat menampar salah satu dari mereka yang sempat mengutarakan ketakutannya.