
"Kalian istirahat Bang, biar kita gantian tidurnya, besok pagi masih banyak tugas yang harus Abang lakukan," ucap Zero.
"Nggak apa-apa Bos, kami sudah terbiasa begadang, apalagi saat masih punya jabatan sebagai preman pasar, ya 'kan Bang!" ucap Beni.
"Hooh... benar, seringkali sampai pagi tidak tidur.
"Ya sudah, kita ngobrol saja di sini, Oh ya Bang jika suatu saat bisnis yang akan kita jalankan itu berhasil, aku ingin setiap bisnis punya target untuk meraup tenaga kerja tempatan, jadi tidak akan ada lagi pengangguran di sekitar kita."
"Betul Bos, kami setuju. Tapi satu lagi Bos, manfaatkan tenaga kerja paruh waktu, misalnya untuk anak-anak SMU sederajat serta para mahasiswa. Supaya mereka bisa memiliki penghasilan sendiri hingga bisa membiayai sekolahnya tanpa harus mengandalkan biaya dari orang tua," ucap Bang Beni.
"Abang benar, kita buka lowongan pekerjaan untuk masing-masing jurusan mereka, sekaligus biar kita tahu kemampuan mereka masing-masing, jadi untuk kedepannya kita bisa program 'kan bea siswa bagi karyawan kita itu," ucap Zero.
"Rasanya sudah tidak sabar lagi Bos, ingin segera berhasil dan bisa berbagi kepada sesama," ucap bang Togar.
"Sabar Bang, setelah pernikahan Kak Royan selesai, kalian sudah bisa mulai, aku pantau-pantau saja sambil memberi masukan saat Abang membutuhkannya." ucap Zero.
"Bos Zero cukup dibalik layar saja, tapi suatu saat usahanya ada di mana-mana,' ucap Bang Beni.
"Aamiin...Itu yang sama-sama kita harapkan Bang, hingga kita bisa menyelamatkan negeri ini dari kebodohan dan juga kemiskinan," ucap Zero.
Mereka bertiga pun asyik ngobrol hingga menjelang pagi. Setelah Zero selesai menjalankan ibadah subuh, Bang Togar dan Bang Beni pun pamit pulang, mereka akan membantu dalam acara pernikahan Royan.
Di kediaman Royan, semua sudah bersiap, mempelai wanita pun sudah di dandani bak putri raja dan Royan juga sudah mengenakan stelan jas berwarna senada dengan warna baju pengantin wanita.
Mereka berdua sudah duduk dihadapan penghulu perkawinan atau ada juga yang menyebutnya dengan Tuan Kadi.
Saksi pernikahan di ambil dari tetangga dan juga pejabat urusan agama.
__ADS_1
Acara di buka dengan pembacaan doa oleh bapak penghulu pernikahan, setelah itu penandatanganan berkas-berkas, lalu dilanjutkan dengan ijab kabul.
Royan dan Abah selaku wali Nayla dalam pernikahan itu, sudah saling berjabat tangan. Mereka mengucapkan ijab kabul dengan satu kali tarikan nafas,
Abah : "Saya nikahkan engkau Ananda Royan Pradipta bin Alfian Pradipta dengan Ananda Nayla binti Siddiq dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dibayar tunai."
Royan : "Saya terima nikahnya Nayla binti Siddiq dengan mas kawin tersebut diatas, tunai."
Kemudian Penghulu perkawinan pun berkata, "Bagaimana para saksi, apakah pernikahan ini sudah sah dan memenuhi ketentuan syari'at?"
Kedua saksi pun menjawab, "Sah", disusul ucapan sah oleh semua orang yang hadir dan menyaksikan acara ijab kabul tersebut.
Setelah dinyatakan sah, Nayla pun mencium tangan Royan, lalu Royan mencium kening serta ubun-ubun Nayla sembari berdoa untuk kebaikan rumah tangga mereka kedepannya.
Kemudian Royan dan Nayla sungkeman kepada Abah Siddiq serta Mama Ambar, tangis pun pecah, saat para mempelai memeluk para orangtua mereka.
Royan bersujud di kaki Mamanya sambil berkata, Ma...maafkan aku yang tidak bisa melindungi Mama, belum bisa membahagiakan Mama, tapi aku janji Ma, mulai sekarang aku dan istriku akan membuat Mama selalu tersenyum. Doakan kami ya Ma, agar menjadi pasangan yang sakinah, mawadah, warohmah. Pasangan yang hanya akan dipisahkan oleh maut.
Mama Ambar memeluk Royan, air matanya tak henti menetes, lalu beliau memeluk dan mencium Nayla sambil berkata, "Berbahagialah Nak bersama suamimu. Aku menyayangi kalian dan selamanya akan mendoakan kebahagiaan buat rumah tangga kalian."
Nayla membalas pelukan mama Ambar, dia juga ikut menangis, Nayla jadi teringat akan ibunya. Kini kasih sayang seorang ibu akan dia dapatkan dari Mama Ambar.
Zeya memeluk Royan, dia menangis gembira, kakak kesayangannya kini telah melepas masa lajang.
Lalu gantian Zeya pun memeluk Nayla, sambil berkata, "Selamat datang kak, di keluarga kami, terimakasih telah mencintai dan menyayangi kakakku. Berbahagialah kak hingga maut memisahkan kalian."
Nayla tidak mampu menjawab, hanya tangis dan pelukan hangat seorang kakak telah mewakili perasaannya.
__ADS_1
Selesai Zeya memberi selamat, kini tiba giliran keluarga terdekat dan juga para sahabat, memberi ucapan selamat.
Acara sungkeman pun usai, lalu dilanjutkan pembacaan janji pernikahan, oleh Royan. Di dalam janji tersebut terdapat hak dan kewajiban masing-masing mempelai.
Kemudian acara peutupnya adalah pembacaan doa oleh penghulu perkawinan, yang mendoakan kelanggengan pasangan pengantin baru tersebut.
Proses ijab kabul pun telah selesai, lalu Royan dan Nayla mempersilakan semua tamu yang hadir untuk menikmati hidangan yang telah keluarga sediakan.
Suasana gembira menyelimuti rumah Royan, tapi bagi Royan dan Zeya masih ada yang kurang yaitu tanpa kehadiran Zero di sana.
Saat tamu mulai makan, Zeya pun mengambilkan beberapa makanan dan meminta pengawal Royan untuk mengantarnya ke rumah penyekapan.
Dia memberikan makanan tersebut untuk mama dan para pengawal yang bertugas di sana. Zeya ingin mereka juga ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini menyelimuti rumah Royan.
Sementara untuk Zero, Zeya sudah menyisihkan sebelumnya, rencananya setelah tamu pulang, Zeya, Royan serta Nayla akan ke rumah sakit untuk menjenguk Mak Salmah.
Mereka semua bersyukur, acara telah berjalan lancar dan kini para tamu satu persatu pun mulai meninggalkan kediaman Royan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sebelum Royan dan yang lain pergi ke rumah sakit, dia meminta pelayan untuk menyiapkan kamar agar Abah Siddiq bisa beristirahat.
Mama Ambar dan Bu Riana juga telah kembali ke kamarnya. Kini hanya tinggal Kiara, beserta istri Togar dan Beni membantu para pelayan untuk membersihkan dan merapikan kembali rumah Royan.
Royan, Zeya dan Nayla pergi ke rumah sakit di antar oleh Beni, mereka tidak membolehkan Royan untuk menyetir sendiri. Sedangkan Togar membantu mengangkat barang-barang, mengembalikan di posisinya semula.
Rumah Royan kembali bersih dan rapi seperti sebelumnya. Para pelayan pun telah kembali ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri serta beristirahat, begitu pula dengan Kiara, istri Togar serta istri Beni.
Sementara Togar memilih menyusul Beni, pergi ke rumah sakit. Malam ini Togar dan Beni akan kembali menemani Zero untuk menjaga Mak Salmah.
__ADS_1
Mereka berdua tidak akan membiarkan Zero menanggung kesedihannya sendiri. Togar dan Beni akan selalu ada disaat Zero susah maupun senang.