SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 107. KESEDIHAN BU RIANA


__ADS_3

Emak dan Kiara cekatan dalam memasak, hingga sebentar saja masakan sudah tersaji di meja makan.


Kiara lalu bergegas memanggil Zero dan juga Zeya, sedangkan memanggil Bu Ambar dan juga Bu Riana, menjadi tugas Zeya.


Saat Zeya mengetuk pintu kamar, bertepatan dengan Bu Riana yang hendak keluar kamar.


"Eh...maaf Bu, emak meminta kita semua untuk makan," ucap Zeya.


"Ibu nanti saja Dek makannya, sekarang Ibu ingin menyuapi Nyonya Ambar terlebih dahulu karena beliau tidak mungkin makan bareng dengan yang lain. Seperti adek ketahui 'kan, sewaktu-waktu beliau bisa saja mengamuk hingga merepotkan kalian."


"Tapi Bu, setidaknya dengan perhatian kita, beliau mungkin saja bisa terhibur. Sebaiknya kita coba Bu, kalau pun nanti mengamuk ya tanggungjawab kita bersama untuk menenangkannya."


"Baiklah Dek, sebentar ya...ibu panggil dulu nyonya."


Bu Riana pun kembali ke dalam kamar, lalu beliau mendekati Nyonya Ambar yang terlihat lebih segar setelah tadi dibantunya mandi.


"Nya...ayo kita keluar, mereka menunggu kita untuk makan bersama. Mereka semua orang baik Nya! Makanya Nyonya jangan takut ya..." bujuk Riana.


Ambar pun mengangguk lalu diapun bertanya, "Putraku?"


"Besok Nya, besok Tuan muda pasti datang kesini untuk menjemput Nyonya. Nyonya akan tinggal dengan Tuan muda dan tidak akan ada lagi satu orang pun yang bisa menyakiti Nyonya. Aku janji Nya, tuan muda pasti akan menjaga dan menyayangi Nyonya."


Ambar menggeleng, lalu tiba-tiba dia menangis hingga membuat Bu Ambar terkejut dan bingung.


"Nyonya kenapa menangis? Apa ada perkataan saya yang salah Nya! Saya minta maaf, sekarang Nyonya harus tersenyum, Tuan muda Royan pasti akan sedih, jika melihat Nyonya menangis seperti ini."


Mendengar ucapan Riana, Ambar pun menarik bajunya lalu mengelap air mata yang sempat menetes di pipinya. Kemudian dia tersenyum, lalu berkata, "Ayo...aku mau keluar, aku mau bertemu anakku, boleh ya...aku rindu Royan kecilku."


"Boleh Nya, tapi besok ya, sekarang kita makan dulu. Tuan muda sudah tidak kecil lagi Nya, kata mereka Tuan sangat tampan. Kalau Nyonya mau melihatnya sekarang boleh kok tapi lewat ponsel ya, nanti biar aku minta kepada Nona Zeya," ucap Riana yang membuat Ambar tersenyum.

__ADS_1


"Serius! kamu tidak membohongiku? Royan tampan? dulu dia juga tampan dan imut tapi dia telah mencelakainya. Ampun...ampun! tolong jangan sakiti anakku, dia tidak salah, hukum aku saja. Ampun..." teriak Ambar sambil meringkuk di atas tempat tidur dan menangis.


"Tenang Nya, tenang...wanita ular itu tidak ada di sini, jadi Nyonya jangan takut, aku dan yang lain akan mengusir ular itu bila dia berani datang kesini dan mengganggu nyonya lagi," ucap Riana sambil memeluk Ambar.


Setelah Ambar tenang dan tertidur, Riana segera menuju ke meja makan, di sana semua sudah menunggu.


"Mana Bu Ambar, Bu? Kenapa tidak ikut makan bersama kita?" tanya emak.


"Maaf Mak, Nyonya Ambar, tadi kembali ketakutan dan kini sudah tertidur. Sebaiknya kita makan dulu, masalah Nyonya, nanti aku yang akan membawakan makanannya ke dalam."


"Baiklah kalau begitu, mari kita sama-sama berdoa, semoga makanan ini membawa keberkahan bagi kita semua," ucap Mak Salmah.


Setelah masing-masing membaca doa, merekapun menyantap hidangan, tapi sebelumnya Zeya telah menyisihkan sepiring untuk Bu Ambar.


"Apa Bu Ambar masih mengamuk Bu?" tanya Zero.


"Nggak Dek, dia tadi hanya menangis, dia mau bertemu Den Royan yang menurutnya masih bocah," ucap Bu Riana.


"Mak...Bu, aku kembali ke kamar dulu ya, Aku mau mengambil baju, lalu bersiap untuk mengantar Zeya pulang," ucap Zero lagi sambil berdiri dan berbalik hendak meninggalkan ruang makan.


Zero yang kebetulan saat ini hanya memakai singlet transfaran membuat mata Bu Riana membulat, beliau melihat samar ada bulatan hitam yang cukup besar di bagian punggungnya. Hal ini jadi mengingatkan Bu Riana akan perkataan almarhum suaminya.


Setelah Zero hilang dari pandangan mata, Bu Riana tertunduk sedih, dia tidak mungkin berharap Zero adalah putranya karena Zero adalah putra Mak Salmah. Setiap orang bisa saja memiliki tanda lahir bahkan di bagian tubuh yang sama.


Zeya yang ternyata sejak tadi memperhatikan, sekilas melihat kesedihan di wajah Bu Riana, lalu diapun bertanya, "Ada apa Bu? Kenapa aku perhatikan ibu sejak tadi sedih, apa ibu sakit? atau sedang ada masalah. Katakanlah Bu, siapa tahu kami bisa membantu."


"Nggak ada Dek, ibu hanya teringat dengan bayi laki-laki ibu yang di bawa pergi Nyonya Shena, apa sekarang dia masih hidup atau sudah tiada dan seperti siapa lah wajahnya? Besok Bu Ambar akan bertemu dengan putranya, kapan tuhan kasi giliran ya ke saya," ucap Bu Riana sambil meneteskan air mata.


Mak Salmah yang mendengar perkataan dan melihat kesedihan Bu Riana segera memegang tangan beliau, lalu berkata, "Ibu harus bersabar, yakinlah suatu saat nanti Bu Riana pasti akan menemukan putra ibu."

__ADS_1


"Aku akan bantu menyelidikinya Bu, pelan-pelan, aku akan mengorek informasi dari Mama ku tentang keberadaan putra Ibu, aku janji Bu. Mama begitu jahat, tuhan pasti akan kasi ganjaran setimpal ke mama nanti, atas perbuatan jahatnya yang telah memisahkan para ibu dari putranya selama puluhan tahun," ucap Zeya sambil mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf atas kejahatan mamanya.


"Terimakasih Dek, mudah-mudahan saja rencanamu berhasil dan putra Ibu bisa segera ditemukan," ucap Bu Riana.


"Apa tidak ada ciri lain atau benda gitu yang bisa menjadi tanda untuk menemukan putra ibu? takutnya Nyonya Shena memberikan bayi itu ke orang tidak dia kenal atau ke panti asuhan atau malah membuangnya. Kalau memang begitu sudah pasti kita bakalan kesulitan untuk menemukannya Bu," ucap Kiara.


"Kak Kiara benar, kita berdoa saja, mudah-mudahan mama masih ingat kepada siapa, dia memberikan bayi Bu Riana saat dulu."


Emak hanya mendengarkan percakapan mereka, sebenarnya pikiran emak juga terganggu. Emak memikirkan Zero, dan asal-usulnya yang emak sendiri juga tidak tahu.


Dalam batinnya emak berkata, 'Suatu saat aku juga harus jujur kepada Zero tentang rahasia yang selama ini aku simpan. Zero berhak tahu dan dia berhak untuk menemukan keluarganya. Walaupun sebenarnya aku tidak rela, tapi aku tidak boleh egois. Zero anak baik, pasti dia akan paham, dia tidak akan melupakan ataupun mengabaikanku, jika tiba saatnya nanti, dia tahu bahwa, aku bukanlah ibu kandungnya.'


Selamat malam sobat, malam ini aku bawa rekomendasi karya sahabatku Kak Bhebz, ayo.... silahkan mampir yuk di sana, dan jangan lupa ya, tinggalkan jejaknya. Terimakasih πŸ™β™₯️


BLURB KARYA




Aku adalah Alexander Smith, seorang bos mafia terbesar di Rusia. Dunia mengenalku sebagai pria kejam, dingin, dan tak punya perasaan. Hingga suatu peristiwa besar yang menghilangkan nyawa seseorang yang aku cintai membuatku memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam. Dunia yang banyak memberiku kemewahan dan kenikmatan dunia.



Aku memutuskan untuk menjadi hot Daddy bagi putriku seorang.



Ternyata bayangan hitam masa laluku kembali membayangiku. Akankah aku bertahan untuk tidak terjun kembali ke Dunia gelap itu???

__ADS_1



![](contribute/fiction/4470767/markdown/24522111/1653666548721.jpg)


__ADS_2