
Zero dan Royan memeriksa dengan teliti ponsel Zeya. Benar saja, Zeya telah merekam kejadian yang dia alami.
Di sana terlihat dua orang asing memerintahkan anak buahnya untuk membunuh semua anak buah Royan.
Mereka membebaskan Mama Shena serta memaksa Zeya untuk ikut naik ke kapal.
"Kak lihat! siapa dua orang WNI yang duduk diantara orang-orang asing tersebut?" tanya Zero.
Dia mantan asisten almarhum Papa dan satu lagi... dasa baji**an, dia anak buahku. Berarti dia pengkhianatnya selama ini yang bekerja sama dengan Mama.
"Kemana mereka akan membawa Zeya Kak?" tanya Zero.
Belum tahu Ro, yang ku tahu, dulu mama punya sebuah rumah di pulau terpencil, di sana mereka sering melaksanakan transaksi bisnis ilegal antar pulau dan antar negara. Itu pun aku tahu dari Papa sebelum beliau meninggal.
Barangkali Mama sengaja membawa pergi Zeya, karena selama ini Zeya selalu ikut andil dalam menggagalkan bisnisnya.
atau mungkin sebagai jaminan agar aku jangan mencampuri urusannya karena beliau tahu, kunci krkemahanku salah satunya adalah Zeya.
"Jadi sekarang bagaimana Kak, apa kita akan menyusul mereka?"
"Harus Ro, tapi sebaiknya kita pulang dulu, persiapkan semua kebutuhan sebelum berangkat karena kita tidak tahu apa mereka sekarang berada di pulau terpencil itu atau di tempat lain."
"Kita butuh kapal, bahan makanan dan senjata buat melawan mereka. Kita juga harus pamit kepada keluarga sebelum berangkat sebab kita juga nggak tahu kapan pulang atau mungkin tidak bisa pulang lagi.
Kamu paham 'kan apa yang aku maksud Ro?"
"Iya Kak, aku paham, karena yang kita hadapi bukan hanya mafia dalam negeri tapi juga jaringan mafia luar negeri."
"Baguslah jika kamu mengerti, ayo kita kembali, persiapkan diri dan bekal, lusa kita berangkat," ucap Royan.
__ADS_1
"Ayo kita pulang! tidak ada gunanya lagi kita disini, mereka sudah membawa Zeya pergi. Tapi sebelumnya, kita kebumikan dulu mayat teman-teman kalian dengan peralatan seadanya di sini!" perintah Royan kepada para anak buahnya.
Setelah mengatakan hal itu, Royan, Zero serta anak buahnya mencari peralatan untuk menggali tanah, tapi mereka tidak menemukan apa-apa di sana. Yang ada adalah Excavator Beko keruk besar, sementara mereka tidak menemukan kunci untuk mengendalikannya.
Bisa saja mereka membuang mayat kelaut jika terpaksa, tapi Royan dan Zero masih ingin menguburkan mayat tersebut secara layak.
"Bos bagaimana ini, kami tidak menemukan kunci untuk menghidupkan Beko keruknya!" ucap salah satu anak buah Royan.
"Cari lagi pasti ada! kita tidak boleh menyerah."
Mereka mencari sampai satu jam lebih, tapi tetap saja tidak menemukan apapun, kemudian Zero berkata, "Coba Kak biar aku naik kesana, barangkali ada yang bisa aku lakukan untuk menghidupkan mesinnya.
"Baiklah Ro, jika tidak bisa juga, mau tidak mau kita akan membuang mayat mereka ke laut. Aku akan minta maaf kepada keluarga mereka dan menyantuni dengan layak. Jika kita bawa pulang, itu tidak mungkin lagi, mayat mereka sudah mulai bau busuk," ucap Royan.
"Iya Kak," ucap Zero sembari berusaha naik ke atas tempat pengendali Beko tersebut.
"Hati-hati ya Ro," ucap Royan.
Semua bersorak, Royan tersenyum, dia salut dengan kemampuan Zero. Zero pun menggerakkan Beko, mengorek tanah hingga membentuk sebuah lubang besar, setelah itu semua bekerjasama mengangkat mayat-mayat tersebut yang mulai bau, memasukkan kedalam lubang.
Dalam hati mereka masing-masing meminta maaf karena tidak bisa menyelenggarakan penguburan selayaknya muslim.
Setelah semua mayat masuk ke dalam lubang, Zero kembali menutup lubang tersebut dengan Beko. Barulah dia memimpin doa untuk arwah sahabat-sahabat yang telah gugur dalam melaksanakan amanah untuk menjaga mama Shena dan menyelamatkan Zeya.
"Sekarang, ayo kita kembali, aku beri waktu sehari besok untuk kalian bertemu keluarga dan pamit, lusa kita akan berangkat keluar pulau atau bahkan ke luar negeri untuk mencari adikku. Aku akan mengurus surat serta paspor kalian semua mana tahu kita nanti membutuhkan hal itu di perjalanan. Tapi kita akan berangkat secara ilegal dulu, surat-surat nanti menyusul di kirim oleh asistenku.," ucap Royan.
"Ayo Ro, kita pulang," ucap Royan lagi.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu dan sampai ke rumah masing-masing pada sore hari.
__ADS_1
Zero pun tiba di rumah, lalu dia menceritakan semua yang terjadi. Emak dan Kiara prihatin atas menghilangnya Zeya.
"Jadi besok kalian akan pergi mencarinya lagi Ro?" tanya Mak Salmah.
"Iya Mak, kami semua akan pergi. Nanti kak Royan akan mengatur keberangkatan kami, mungkin kak Royan akan membawa Abah, kak Nayla, Bu Ambar dan Bu Riana kesini Mak dan memerintahkan beberapa orang untuk menjaga rumah ini selama kami pergi. Sedangkan urutan perusahaan akan di serahkan kepada pranky," ucap Zero.
"Beni dan Togar apa ikut juga Ro? tanya Mak Salmah.
"Tidak Mak, karena mereka harus menjalankan bisnis yang baru saja kami mulai serta membantu menjaga rumah ini."
"Oh ya Kak, jika di sini butuh bantuan, sebaiknya Kakak dan istri Bang Beni serta Bang Togar libur dulu jualannya. Tapi kalau aman saja, ya tidak masalah di lanjutkan," ucap Zero kepada Kiara.
"Iya Dek," ucap Kiara.
"Kasihan Royan dan Nayla ya, ada saja cobaan yang menggagalkan rencana mereka. Kali ini mereka terpaksa menunda bulan madu demi mencari Zeya," ucap Emak.
"Iya Mak, mudah-mudahan semua cepat berlalu dan kami segera bisa menemukan Zeya hingga Kak Royan bisa meneruskan rencana bulan madunya," ucap Zero.
"Pergilah kamu beristirahat Ro, biar Emak dan Kiara yang akan mempersiapkan semua keperluan untuk keberangkatan kamu besok."
"Iya Mak, aku akan istirahat tapi sebelumnya aku akan ke kampus dulu dan pergi menemui Satria serta Alena. Aku mandi dulu ya Mak!" pamit Zero.
Zero pun pergi mandi dan bersiap ke kampus. Dia ingin menemui Satria di sana tapi sebelum pergi Zero meneleponnya dulu untuk memastikan, dimana dia berada saat ini.
Setelah menelepon Satria, Zero pun pergi menggunakan taksi online saja karena dia tidak mau merepotkan bang Beni yang baru pulang untuk datang lagi menyetir.
Sementara Zero sudah mulai belajar nyetir tapi belum begitu mahir.
Taksi online sudah datang menjemput, Zero pun berangkat ke kampus karena Satria saat ini memang sedang ada di sana.
__ADS_1
Sesampainya di kampus, Satria mengajak Zero ke kantin untuk ngobrol di sana supaya lebih santai sambil menikmati kopi expreso panas.